Puisi-Puisi Mariana Lewier

Sabtu Ini, Semilir Doa

Sabtu ini angin terasa beda
Karena semilirnya disaput doa
Menggeliatkan ranting asa
Setelah sepekan yg melelahkan
Jumpalitan mengusung keluh
Tapi kulum senyum di ujung bibir
Akan bermunculan dalam peluk hangat
Para kekasih hati
Yang menjadi peraduan terindah

Kusu-Kusu Sereh, 11012020

=======

ANTARA MALAM, KOPI, DAN
LAGU PENGANTAR TIDUR

Pada malam sekelam ini
masih tersisa sekelumit kisah
tentang percakapan antara kopi
dan lagu pengantar tidur
melerai tumpukan kertas dan berkas yang membukit
bersaing dengan resah
sementara rembang juang meluruh pada kebisuan
jalan kita masing-masing
tak kusangka merebak sejauh ini

Ambon, April 2019

========

ANTARA PUJA & MUNA

Suara itu menghampiriku serupa bisikan dari negeri nun jauh di batas pandang, “Tanpa harus mendapat dukungan, hiduplah sebagaimana sebuah pilihan. Tidak perlu puja puji, tiada guna basa basi hanya karena ingin menyenangkan atau agar disenangi padahal harus memayungi diri dengan kemunafikan.”
Lantas sahutan lirih bagai angin yang mendesis menjadi penanda setuju. Masih labil. Namun, itulah realita.

=====

PENYANGKALAN

(I)
Janji itu kudengar terucap
dalam nada pasti
“Kami akan tetap mengiring Engkau, Ya Rabi!
Karena telah tertanda dalam hati
segala kemuliaan yang Kau tampakkan
dalam jamahan kesembuhan bagi si sakit,
dalam kuasa kebangkitan bagi Lazarus,
dalam tetesan sejuk khotbah di bukit
bersama peladang-peladang hati
yang berindu memanen keselamatan”

Lalu sejuta kekuatiran disingkirkan
berlaksa keangkuhan dienyahkan
berantai ikatan nafsu dilepaskan
meniadakan gemerlap impian kemewahan
dan kabar baik pun disiarkan
melawan tarikan dunia
yang terus menghadang

Di Bukit itu,
darah mengucur membasuh segala ratap
keselamatan semakin pasti
karena sengsara yang berganti pengharapan
bersama tirai Bait Allah yang terbelah
Ia menghancurkan batas antara
untuk menyelamatkan dunia dan isinya

(II)
Pucuk-pucuk pohon Ara bergoyang
dalam tarikan nafas angin
terasa berat karena berusaha terus menahan badai
apakah tetap akan tegar?

Kuiikuti arah tapak beralas dosa
semakin lama semakin jelas
semakin panjang semakin banyak
menutupi bumi melingkupi sanubari
lalu janji semanis madu
menjelma pahit empedu
dihirup dan diteguk tak puas terlena
dan boneka-boneka dunia
menari berlupa diri
berhias segala solek dan poles
mencipta berupa keunggulan
bernamakan teknologi
dalam renyah tawa
mengganti kidung penyejuk raga
tak merasakan sengsara menanti
di tepi maut

Hoi….iiii
katakata tersangkal sudah
jiwajiwa melayang tak tentu arah
namun, Kasih Suci setia memberi
tetap membuka pintu
bagi setiap pengikrar janji baru
walau lidah tetap saja tak bertulang
dan tragedi ini pun terus berulang.

Ambon, 2000-2018, dari Talake ke Kusu-Kusu Sereh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: