Puisi-Puisi Marjorie Amal

oleh -210 views
Link Banner

Memesrai Maut

Maukah kau menuliskan puisi untukku, sementara kuhunus pisau perak ini merayakan maut yang bertandang di serambi rumahku?

Semestinya aku sudah harus mati pada purnama lalu, Kak
Saat perjamuan untuk melukis mimpi-mimpi yang tak lagi kita kenali tumpah ruah di bibir cawan
Seluruhnya tercuri oleh mantra kelabu dan bola kristal perempuan penggoda itu

Maukah kau bacakan puisi yang kau tulis untukku, sementara kuhias pergelangan nadiku dengan darah yang membentuk metafora berbagai benda tak mewujud?

Semestinya aku sudah harus mati detik ini
Namun hanya anyir darah yang mendesiskan penggalan puisi untukku

Ah…ini cara mati yang genting dan manis

========

Pada Bidang Dadamu

Mari kita pergi menjelajahi bidang dadamu kekasihku, yang tak pernah tahu peruntunganmu dalam cinta

Sungguh, begitu banyak tabir yang tak sekedar menyinggahi setiap sudut dadamu Bibit rindu disemai disana
Doa yang sibuk merapikan hati disana
Cinta yang megah tak pucat  disana
Gairah yang terus berpusar bising disana Lebih dari lima musim terganti disana
Dan yang kutahu tak ada airmata disana

Mari kita pergi memasuki bidang dadamu kekasihku, yang hingga kini tak jua tahu bahwa cintaku pecah di dadamu

Baca Juga  Pekerjaan Asal Jadi, Kontraktor AH Seolah Tak Tersentuh

Tak terhitung cita-cita yang tak sekedar meranggas di permukaan dadamu
Malam-malam terjaring disana yang tak kunjung memesrai ranjang
Kata-kata yang menunggu untuk kau mainkan, merayu basah ciumku di sudut dadamu yang teronggok sepi
Birahi yang kian menggemuk yang tak kuasa capai sudut dadamu yang terkanan

Mari kita pergi merayakan perjalanan cinta di bidang dadamu kekasihku, yang hingga kini tak jua sadar nasib menari pasrah

Maka pada suatu senja
Ajakan untuk pulang ke dadamu tak lagi ingin kupahat pada waktu
Semisal pergantian musim, cintaku tak lagi mau menikmat musim dingin
Karena ada bidang dada lain yang menggamit musim semi tuk mekarkan kelopak mimpiku menjadi puisi

Ah…kekasihku, kepulanganmu pada dadamu akan menemukan kembali peruntungan cintamu
Walau tidak denganku, wanitamu yang tlah penat berburu bahagia di dadamu

=========

Aku Tak Suka Bunga dan Ranjangmu

Sudah kubilang aku tak suka bunga ungu
Pagi masih belum hangat saat kau kembali, masih dengan seikat bunga itu

“Kau tak harus menyukainya,Dik..aku memberinya karena bunga itu kupetik gratis di taman tetanggaku. Aku tak perlu membeli bunga untukmu.”

Begitulah dirimu, Kak…
Sesederhana itu cinta dimaknai
Semudah itu cinta diracik tanpa penyedap
Aku seketika iba

Baca Juga  Siti Zuhro Ungkap Alasan Mengapa RUU HIP Patut Ditolak

Kurasa suatu saat kau akan berkata
“Kita tidak perlu membeli ranjang yang baru, Dik…kudengar tetanggaku akan membuang ranjang merah mereka.”

Ah….aku tak mau ranjang merah bekas mereka, aku ingin bercinta di atas ranjang kita yang baru

Geloraku melenyap…tak tersisa apapun

Ternate, 111116
==========

Sebab Kau Mendengarkanku

Kupetik kembang merah muda itu saat pulang merayakan pucuk cinta bersamanya
Tak kuberikan padanya
Tapi ini untukmu, yang kuanggap kekasih
Sebab kau yang selalu mendengarkanku

“Dimana dan kapanpun kau memerlukan seseorang, aku selalu ada untukmu, Dik.”

Kutahu cintamu tak pernah bersyarat
Bagai kembara yang selalu menemukan jalan untuk pulang
Bagai bintang yang setia melayari malam dan menebar rindu sang pengantin
Hanya sesederhana itu

Jangan lupa meletakkan kembang itu dalam air biar mereka saling menikmat
Karena saat ini aku hanya menghitung tanggalan, menyiasati pembenaran untuk berlari menjauhi dia
Kami hanya menggelorakan nafsu tanpa tahu mencocokkan dua keping hati

Ini saatnya berpaling padamu
Sebab hanya kau yang selalu mendengarkanku.  Sesederhana itu

=======

Reuni Hati

Kutulis namamu pada tubuh hujan
tersebab dirimu lelaki yang bermata basah
Setiap kuajak menguliti masa lalu
kau selalu punguti serpihan mimpi kita
tanpa tahu harus meletakkannya dimana

Baca Juga  Weston McKennie Jadi Pemain Pertama AS Gabung Juventus

Kulukis namaku pada jingga cakrawala
saat pikiranmu luput mengenangku
tersebab diriku perempuan yang tak henti menghayalkan esok lusa
menari dan terbang di atas kepalamu
walau awan beku mematung

Jendela dan pintu sudah kubuka sedari pagi
saatnya merayakan reuni hati
Telah kuhias rambutku dengan mahkota bunga setaman
Menyihir kupu-kupu mengelilingiku
bagai tawaf
selebihnya menyemai rahasia

Kekasih, mari kita menimba dua potong hati dari dasar sumur
Merekatkannya kembali pada tempatnya
karena hanya itu yang kita bisa
agar cinta tak memilih jalannya yang lain

==========

Marjorie Amal: dilahirkan di Ternate, Maluku Utara. Kecintaannya menulis puisi, kata inspirasi dan motivasi kehidupan serta fiksi mini, dituangkan lewat tulisan di media sosial.

Beberapa puisinya masuk dalam buku Antologi Puisi Kita Halmahera (2016) ,
menulis artikel di media cetak lokal serta tengah menyelesaikan penulisan cerpen.

Ia menyelesaikan Pasca Sarjana di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta,
jurusan Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik. Saat ini bekerja sebagai PNS di Kota Ternate Maluku Utara.