oleh

Puisi-Puisi Marjorie Amal

Link Banner

Kupelukmu Dari Sini

Kekasih, aku ingin menemanimu
menata aksara yang terserak
pada lembaran kitabmu
yang kini beterbangan
singgah pada pundakmu
menjejal retakkan helai pikirmu

Malampun kehilangan debar
awan kian menggerimis
kecupan embunpun tak pernah tiba
pada tanah
terperangkap rentang usia kita
bak benih dan kelopak gugur

Link Banner

Kekasih….
seumpama aku mesti pecahkan rindu
pada sajak sepi ini
adakah cintamu mau menghantar
nyanyi ilalang untukku?
walau jarak tak kuasa membaca jejak
pada perih perbincangan kita yang tak usai

Aku ingin menemanimu, kekasih
tak hanya sebagai bulan yang melipat cemasmu, atau penggirang sayapmu
saat bermetamorfosis
yang kutahu aku selalu ingin menjadi
selembar rindu, mengisi ranselmu
terbawa kemanapun kau pergi

Lantas, bolehkah aku berpinta lebih?
seandainya setiap lapis tubuhku
menjelma panasnya bintang
kan kupelukmu dari sini

=====

Tentang Mimpi

Kuingat sebuah rumah di antara rimbunan ketapang. Pintu garasi yang engselnya berkarat, serakan kerikil putih di jalan masuk dan sebuah ayunan yang kelak akan berkisah tentang sepotong hati yang tak pernah mengeluh.

“Inilah saat bagimu untuk pulang.” desakmu
“Dengan cara bagaimana aku seharusnya pulang?” batinku
“Pilihlah cara seperti matahari menghangatkan kembang hutan.” jawabmu seolah menjalari raguku

Akupun memeluk erat hening, melesat jauh ke pusaran mimpi bagai malam yang menggelapkan tubuhnya, mencambuk waktu.

Aku terbangun, menatap rumah yang tak lagi persis sama. Segala seperti gerimis, jatuh satu-satu. Pada ayunan itu tubuhku membeku menggantung pada talinya, melingkari leherku gemparkan mimpi.

“Aku kini benar-benar pulang pada hati yang tak pernah kumiliki.”

======

Jika Aku Berlayar

Ini kota terakhir kita
tempat mimpi singgah membaca pertanda
pada jalan-jalan sunyi yang menjajah hati
pada bebayang yang meriap gelisah

Ini saatnya aku harus berlayar
tersebab kota tak lagi ramah
juga dirimu, kekasih
yang ingatkan aku tak lagi pantas diburu
cinta cuma topeng

Tlah kusematkan rindu di lekukan karang
juga kubisiki pasir perihal dirimu
kutawan angin lembah pada asin lautmu
tuk hempaskan bidukku ke seberang
kota yang baru tanpa rumah bagi hati

Jika aku berlayar kembali
Aku ingin menantang patahan luka
dan terdampar berkali-kali
pada tubuhmu yang kian dewasa
dan meranum di selangkangan ombak

======

Kuziarahi Matamu

Malam kini tak lagi setia padamu
hujanpun selalu berubah warna
menyinggahi matamu
Takdir beranak pinak pada pupil
menyeret pergi semua cahaya yang hidup
Kuburu namun kian tirus
pendarpun lenyap dipenggal mantra
bukan doa

Ketika kuziarahi matamu
kubawakan melati yang paling putih
Kukenakan gaun terhitam serupa kenangan
Pada akhirnya kita terjebak duri sunyi
tak tahu bagaimana temukan Tuhan

Lihat, airmatamu tak kuasa menyembuhkan, sayang
kita hanya kuasa mengutuk kegelapan
laksana penyair yang matikan Abathi
dan diperkosa sejuta nyala iman

Apa kau tahu segala muasal yang tak kukenal?

Saatnya kuziarahi tubuhmu
bukan lagi bintik kuning matamu
yang khianat padaNYA

=======

Kenangan Kita

Rinai hujan menderas di ujung keningku
ada lupa disana
laksana kenangan kita yang memburam
tak berwujud
pastinya tak indah

karena riuh rendah angin
telah menerbangkannya
hingga terlupa
di ujung mana dari luasnya jagat

=====

Marjorie Amal: dilahirkan di Ternate, Maluku Utara. Kecintaannya menulis puisi, kata inspirasi dan motivasi kehidupan serta fiksi mini, dituangkan lewat tulisan di media sosial.

Beberapa puisinya masuk dalam buku Antologi Puisi Kita Halmahera (2016) ,
menulis artikel di media cetak lokal serta tengah menyelesaikan penulisan cerpen.

Ia menyelesaikan Pasca Sarjana di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta,
jurusan Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik. Saat ini bekerja sebagai PNS di Kota Ternate Maluku Utara.


Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *