oleh

Puisi-Puisi Nuriman N Bayan

Link Banner

KAPAL-KAPAL KECIL ITU

Ke laut biru itu kita lepas kapal-kapal
yang kita buat dari gaba dan pohon kuto
yang layarnya kita buat dari kertas baribut

bila angin kencang bertiup dari barat ke timur
kapal-kapal kecil itu pergi meninggalkan mata kita

bila angin kencang bertiup dari timur ke barat
kapal-kapal kecil itu kembali ke dada kita

pantai adalah ibu dan angin
adalah guru mata pelajaran tentang ibu, yang
mengajari kita bagaimana cara melepas yang pergi
dan menjemput——-mendekap segala yang kembali.

Kini, ke laut biru itu tak ada lagi kapal-kapal
yang kita buat dengan parang dan tangan sendiri
yang kita harap, sampai ke pulau-pulau mimpi kita.

Morotai, 2020.

========

SAYA TAK TAHU

Kadang saya lupa
bahwa saya
adalah seorang anak
buah cinta—-ayah dan ibu
sembilan bulan berada di perut

Baca Juga  Himpaud SBB Dipercaya Kemendikbud Kelola Program Diklat Dasar di Provinsi Maluku

ketika lahir saya merupa pisau
berkali-kali menusuk tubuh ibu

saya tak tahu ketika itu
berapa banyak darah ibu
mengalir untuk saya
dan berapa banyak gelisah
tumbuh di dada ayah

dan ketika tumbuh
sampai sebesar ini
saya juga tak tahu
berapa banyak air mata
dan keringat ayah dan ibu
sudah mengalir untuk saya.

Morotai, 2020.

===========

Maka Kepada Anak-Anak yang Duduk

—buat Tan

Maka kepada anak-anak yang duduk di ruang kelas itu. Aku serahkan semua hari-hari yang sebagiannya kujanjikan untukmu, untuk cinta yang entah di mana waktu dan nasib memilihkannya untuk menetap. Apakah di jantung Bumi Moro– di antara bandara Leo Wattimena, Trikora, dan Air Kaca. Atau di kaki Tarakani– di antara dua meriam peninggalan Jepang yang di bawahnya pohon soki begitu rimbun berbaris di bibir telaga yang di akar-akarnya tempat biya dan ikan-ikan berumah. Atau di Weda– di tempat ibumu melepas ayahmu melaut, dan tempat engkau tumbuh sebagai seseorang yang sangat sederhana. Atau di Loloda– di rumah tua yang penuh bekas tangan ayah dan harum dengan doa-doa ibu, tempat aku tumbuh, bermain, dan berlari di atas hamparan pasir, tanah merah, batu rijang, dan ombak sebagai laguku sepanjang siang sepanjang malam. Tapi kini biarkan jarak dan waktu menyimpan dulu semua pertanyaan itu, sebab pulangmu adalah jawaban dari semua pertanyaan. Maka kini, meski jauh kita tak boleh lelah membangun hari-hari penuh cinta dan cita.

Baca Juga  Tingkatkan Sinergitas, Komisi III DPRD Kepulauan Sula Silaturahmi dengan Kejari Sanana

Morotai, 2019.

===========

Di Keheningan Malam

Suara air di kepalaku
merupa sungai di kebun-kebun batinku

gemanya adalah lagu paling hujan
tak dapat kuhadang setiap bunyi rintiknya
meski jarak seperti rumah yang atapnya berlapis-lapis.

Aku menyaksikan
segala yang aku tinggalkan
di sungai-sungai itu—kini kembali
berenang, meliuk-liuk di kepalaku.

Kepalaku batu-batu
tempat udang, sugili, dan ikan-ikan berumah.

Aku ingin sekali bertigalu
tapi aku tidak sedang berada
di kebun atau di hutan
kota tidak akan mungkin
memahami makna tigaluku.

Morotai, 2020.

========

NURIMAN N. BAYAN. Atau lebih dikenal Abi N. Bayan lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, 14 September 1990. Pada 2019 ia dipercayakan sebagai penerima Anugerah Sastra Apajake (kategori penyair) dan salah satu nomine Anugerah Sastra Litera 2019. Karyanya tergabung dalam Antologi, di antaranya: Perjumpaan: Antologi Sastra, Festival Sastra Bengkulu (2019, Membaca Asap (2019), Reruntuhan di Bukit Kabur (2019), dll.

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed