oleh

Puisi-Puisi Remzky Nikijuluw

Link Banner

IDRAK MALUKU

Limaribu kaki dari tempatku bermain api

Ada tanah yang membara dan air yang riak juga kudus

Link Banner

Tanah Air beta

Namun kini tanah menjadi bisul dan air menjadi nanah

Sebilang hari maluku dibombom ke yogyakarta dan jakarta

Dengan seperangkat alat-alat bunyi

Mereka memetik, mereka memukul, mereka meniup

Mereka terbang dengan sayap-sayap burung kasturi, mereka tidak tahu diri!

Lalu kita, mari kita kadayo dengan menelan segelas sopi

Kita adalah maluku dengan jiwa yang merdeka

Tumbuh merekah keras berbatu-batu

Maka dari itu kau tak perlu ke yogyakarta untuk menjadi maluku!

Sebab kau adalah maluku, di tanahmu yang kau tanami nyali paling obor

Dari segala yang riuh di seantero bumi ini kau harus berjuang walau hanya sesloki

Sebab kemerdekaan adalah milik segala rasa

Ale deng beta satu dalam loyang rasa.

========

Sebaskom dua baskom

Di badan hari yang sudah canggih ini sebaskom keikhlasan saja tidak cukup untuk hati seseorang yang dua baskom dipenuhi harapan

==========

Kamar mandi

Seringseringlah ke kamar mandi Sebab di sana kau akan berseni Tanpa harus menjadi se (n) iman.

Kamar mandiku tidak mengenal agama dia bisa menjadi umum untuk siapa saja.

Dan seringseringlah ke kamar mandi, Ruangan sempit yang kau lihat dengan mata, cobalah dengan telinga. maka otakmu akan bersayap seumpama malaikat pencabut kata, yang akan membawamu ke alam paling sampah.

Pada malam yang begini tiri hujan bermimpi kebasahan, kamar mandiku banjir dari kepala sampai ke ekor celana

Dan seringseringlah engkau ke kamar mandi, masuk dan petiklah buahbuah kata seni yang tak punya iman, sebab kamar mandi adalah tempat paling bajingan, untuk kepala yang sedang di payungi kebingungan.

=========

Bulan hujan

Telat tiga bulan musim hujan
dibalik celana yang paling hutan
perut  terlihat kenyang
dada merobek benang

Puisi ditelan mentahmentah
rindu tumpah dengan muntah
semakin lama mencicip koma
ada titik semakin roma

Ini bagaimana tanyatanya ?
kepada lelaki sedang memaki
dengan telunjuk yang bertanduk
matanya beranang tangannya berenang

Hujan di matanya yang gunung
banjir di hatinya yang tempurung
setelah Sembilan diantar jemput bulan
akhirnya lahir tangisan yang ditangiskan

Sembilanbelas September, 2018

=======

Sajak Dangdut

Ani kau kah itu?
“Roma, bertanya?
Dengan wajah kalem, suara ehem, ehem”
“Yah, Roma. ini aku, Jawab Ani selembut anggora. Meaow…meaow”

Jika itu kamu!
Bolehkah aku memelukmu
Dengan puisiku yang dangdut.

Duapuluh juli 2018

=======

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed