Puisi-Puisi: Revelino Berivon Nepa

pada bulu mata yang gugur jangan lupa cantumkan nama

jika bulu mata yang tercerai dari kelopak ialah penanda rindu
lalu siapakah yang diam-diam telah menggugurkannya pagi ini

semua kenangan tentang satu nama t’lah hempas dari ingatan
seperti daun terakhir jatuh ke tanah pada penghujung musim

bila malu-malu sisipkan isyarat dalam mimpi manakala aku tidur
lalu siapakah kau yang diam-diam telah kirimkan rindu pagi ini

sesiapa sedang ingat, bilamana kirim rindu
pada bulu mata yang gugur jangan lupa cantumkan nama

Ambon, september 2014

==========

Mahina

Di peluk laut perempuan telah pergi
Kupanggil dia ina
dia kabaresi, perempuan hati besi

Dalam dekap laut biru beta percaya ada api
Itu christina, gunung tanah punya jantung hati

Kalau panggil ina lalu siapa anak?
Kalau dia cuma satu, lalu kau siapa nona?

Yang mati di genggam laut, harus lahir jadi ombak
Lalu bertanya kepada arus, siapa mau jadi tombak?

Perempuan itu harus jadi gelora,
jadi angin,
jadi karang
jadi besi
jadi parang
jadi ina
jadi mahina

Seperti dia
mata api di dasar laut banda

Desember 2014

==========

Tentang Kau dan Laut

Kau kunamakan laut
sebab kau asin menggaram
dan menghitamkan kulit ari
memberi rasa dan meninggalkan tanda

Kau seperti laut
sebab mencinta pun memiliki pasang surut
ada amuk dan teduh, gelora dan diam

Kau laut
sebab meski menyelaminya aku tak bisa menduga kedalaman hatimu
kaca cair yang misteri

Kau kunamakan laut
barangkali seperti itulah caramu mencintai

Lalu aku mengharap seluas-luasnya hatimu,
tempat aku hendak berlayar selamanya

Ambon, 11 Januari 2015

======

Sopi Theory

kita duduk bersama
lalu minum sampai mabuk
lalu bercakap-cakap banyak perkara
sejak bumi berhenti berputar di kepala kita
orang-orang berkata mereka melihat plato dan socrates, tadi

Ambon, 28 april 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: