Puisi-Puisi Sofyan Daud

Kesetiaan Ombak dan Pasir

Tiada yang sesetia ombak ombak ini
menempuhi bermil jarak demi pantai.

Tiada yang sesabar pantai ini
pasir pasir meredai risau ombak saban hari.

Tiada percintaan yang seperti ini.
Persetubuhan lestari. Tak terlerai badai.

Tidore, 27 September 2010

=========

Sajak Timore

Bisakah sajak kukirim ke lampau
pada timore sesegar wangi bunga manuru..
sebelum kadato di kitari muka palsu
perompak dari benua benua seteru

yang menikam khianat ke jiwa pulauku
mengirim mesiu demi mati pohon sagu

lalu curi cengkeh pala kami seakan punyamu
nun di negerimu dam dam kau bangun
memagari pulaumu dari amuk laut

sedang datuk leluhur di pulauku
menelan air mata beratus tahun.

Izinkan sajak ku kirim untukmu
Pahlawan pulau pulau – beratus-ratus sumbu
mendidihkan darah juanga selaut segunung

seribu mata tombak menghunus hunus
membikin kapal kapal angkuh kalut

Oh darah arwah penjaga pulau pulau
penggaris nasib anak cucu
kutulis sajak ini sebagai sumbu baru

sebelum mautmu di gantungan atau curam laut
sepi bisu dari halaman buku menjadi debu

ya, sebelum kini dan lalu susah bersetubuh
perkenankan ini risau sentuh khusukmu di lampau

dimana titah titah kadato melecut
soya-soya, cakalele, deru tifa menggemuruh
mengucak laut, mencegat kapal dan mesiu.

Kutulis kesaksian ini sebagai sumbu baru
rontaan jiwa ini semoga jadi suluh!

Tidore, 26 Nopember 20O9

===========

Jejak pada jarak ribuan mil

Lelaki menempuhi jarak ribuan mildi tengah badai api musim musim perih
di dadanya magma dan di matanya baramembakar kesadaran lalu tumbuhlah semangattiap mata api yang ribuan jumlahnya
ribuan tombak pun menancapsejauh tanjung dan selat Halmaheramenghentak dusun dusun Patani, Weda hingga Maba,ke Raja Ampat menancap tapal batas di bumi Papua.
Yang menggaris jejak ribuan miltelah memaklumkan tiga puluh musimkepada kelasi di geladak kapal asing:“Tiap jengkal tanah dan hutannyayang tumbuh padanya cengkih dan palatak akan ditukar apapun juga!”Lalu dari haluan dan lambung kapal meriam diacungkantapi tentu takut bukan jawaban bukan saatnya!
Para pemuda meradang tinggalkan rumah temaramdemi menjaga cengkih pala juga martabatdan takut memang bukan jawaban, bukan saatnya!
“Ini tak sekadar perang demi cengkih palatapi demi kedamaian yang adalah kekayaan,demi peradaban yang adalah kehormatan”.
Meriam di lambung kapal masih menyalakmesiu dan senapan tiada jeramembikin pulau pulau tuah berkabut asap
    “Ini tak sekadar perang melainkan pengkhianatan    atas tanah negeri leluhur kita!”    teriak lelaki kurus di haluan kora kora
Kata kata itubikin laut bergolakderu tifa kian menggila, jiwa jiwa muda kian tak gentarkarena lelaki itu telah maklumkan pada negeri leluhurnyabahwa mantera mantera bertuahdo’a juga semangat para juangaakan bikin meriam dan senapan itu diam  dan kapal kapal asing itu terpedaya.
(Buih beterangan oleh dentum meriammenghambur ke udara dalam ribuan jumlahsebanyak itulah jejak di atas tanahbukit bukit, tanjung dan selat)
Laut kini menyalin kisah mata lelaki selalu awasmenatap pulau pulau biru mulai tentram…
bukit bukit Halmahera menjulur angkasa,dusun dusun Gam Range, gugus Raja Ampat hingga Papualalu merangkulnya dalam lelap dan terjaga.
Dan jejak pada jarak ribuan mil itusiapa, siapa lagi yang sanggup menempuh?

Ternate, 01 Agustus 2005

==========

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: