Puisi Untuk Ayah

oleh -52 views
Link Banner

Cerpen Karya: Rendy Maulana Yaqin

Pintu kayu itu terbuka, seorang gadis bertubuh sintal berjalan masuk lalu menutup pintunya kembali dengan perlahan.

“Ayah, aku pulang!” seruan riang yang terdengar feminin itu memenuhi ruangan bernuansa putih dan ungu muda.

Kaki jenjangnya melangkah anggun menuju jendela. Dengan kedua tangannya, ia menyibak gorden dan membuka jendela, menyebabkan sang bayu menerpa wajah dan helaian-helaian biru gelap yang membingkai kepalanya.

Memejamkan mata sejenak, berusaha menikmati dan mensyukuri karunia tuhan yang begitu berlimpah. Setelah menghela nafas beberapa kali, gadis itu membuka matanya perlahan dan menoleh ke tepi ranjang, tempat ayahnya duduk dengan tenang. Ia melangkah mendekat, mendudukkan tubuhnya di samping ayahnya, merangkul bahunya lalu mencium pipinya penuh cinta. Sebelah tangannya ia sembunyikan di balik punggung.

“Ayah, tebak aku bawa apa.” Ucapnya dengan nada jenaka.
“Lihat, yah! Aku menang lomba menulis dan membaca puisi tingkat sekolah. Ayah bangga padaku kan?” ia menunjukkan benda yang sebelumnya disembunyikan di balik punggungnya, sebuah piala setinggi 30 cm yang di suatu sisinya terukir sebuah nama. Hinata Hyuuga.

Hening, tak ada jawaban dari ayahnya, bahkan pria itu hanya bergeming. Namun sang gadis bersurai nila hanya mengulum senyum manis.

“Setiap kelas mengirim satu orang untuk perwakilan, dan aku terpilih untuk mewakili kelasku. Kami yang mengikuti lomba, dikumpulkan di aula sekolah dan diberi pengarahan. Pesertanya lumayan banyak loh, Yah.” Hinata mulai berceloteh, menceritakan pada ayahnya tentang apa yang telah ia alami di sekolah hari ini.

Baca Juga  Keluarga Besar Lantamal VIII Gelar Tahun Baru Islam 1441 H

“Juri memberitahukan bahwa tema lombanya adalah tentang keluarga. Yang langsung terbesit di otakku tadi adalah Ayah. Ya! Aku membuat puisi tentang ayah!” Ia mendongak, mengerdipkan mata senang walau yang ia dapati hanyalah kebisuan.

“Kami cuma diberi waktu lima menit, tapi itu bukan masalah bagiku, dalam waktu tiga menit saja aku sudah bisa menyelesaikan puisiku.” Ucapnya dengan nada bangga yang kentara.

Ia mengerucutkan bibir dan mengerutkan kening sebelum melanjutkan ceritanya. “Saat aku maju ke panggung untuk membaca puisiku, mereka semua terdiam, bahkan banyak yang menangis. Uh, aku tidak suka. Harusnya mereka tersenyum! Aku kan sedang membacakan puisi tentang ayahku yang paling kucinta.”

“Dan ayah tahu? Saat pengumuman pemenang, aku mendapatkan juara pertama! Pembawa acara menyebut namaku dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh siswa maupun guru. Aku naik ke atas panggung dan mendapatkan piala, beasiswa juga uang tunai dari kepala sekolah. Rasanya senang sekali, Yah.” Gadis itu tersenyum, menyusuri setiap lekuk piala yang ia dapatkan dengan jemari mungilnya.

Baca Juga  Senin Pagi, Warga Saparua Dikagetkan Gempa 4,0 M

Ceritanya telah usai, namun hanya sunyi yang didapatnya. Tatapan lembut yang tadinya tampak berpadu indah dengan sepasang netra sewarna mutiara berbingkai bulu mata lentik itu perlahan-lahan berubah, seolah terselimuti oleh kabut kehampaan dan duka yang mendalam.

“Ayah mau tau nggak isi puisi yang Hinata buat untuk Ayah? Judul puisinya adalah ‘Puisi Untuk Ayah’. Hinata bacakan puisinya ya, Yah.” Ucapnya getir, namun masih memaksakan sebuah senyuman di wajah ayunya.

Saat sang bulan telah menggantikan matahari
Dan matahari bersembunyi di balik sang bulan
Aku terhenyak dalam sunyi
Terjebak di antara bayang-bayang masa lampau yang dinamakan kenangan

Wajahmu
Tutur katamu
Segala hal yang bisa kuingat akan dirimu
Seolah menyiksaku pada jeratan kerinduan mendalam

Ingin kugapai sosokmu
Namun aku tak mampu
Ingin ku menghambur kepelukanmu
Namun kau menghempaskanmu

Ayah
Adakah setitik rindu di lubuk hatimu?
Adakah sakit yang kau rasa saat mengingatku?
Seperti apa yang kurasakan disetiap denyut jantungku

Ah, aku tahu
Kau tak mungkin merasakan itu
Bahkan mungkin kau sudah tak mengingatku
Karena kini kau sedang berbahagia dengan keluarga barumu

Berbahagialah dengan mereka
Jangan hiraukan jerit dan tangisku yang memanggil namamu
Berbahagialah tanpa aku, aku rela
Aku akan tetap di sini, bersembunyi di balik bayangmu

Baca Juga  Polres Maluku Tenggara Distribusi Bansos untuk 652 Warga

Ini hanyalah sebuah goresan tinta
Pelampiasan rindu dan duka
Dari darah dagingmu
Untukmu, ayahku

Ia membacakan puisinya dengan senyum getir dan air mata yang mengalir tanpa henti dari netra indahnya.

“Bagaimana? Ayah suka kan?.” Gadis itu menoleh, menatap makhluk gempal berbulu hitam dan putih dengan tatapan penuh luka dan kerinduan. Jemari lentiknya membelai pipi makhluk yang ia panggil ‘ayah’ itu dengan lembut, mencari kehangatan yang tidak akan pernah didapatkannya.

Sebuah boneka panda pemberian ayahnya dahulu. Jauh sebelum keluarganya hancur karena ulah ibunya, sebelum ayahnya menikah lagi dengan wanita lain dan membuangnya. Saat ayahnya masih menatapnya dengan kasih, saat ayahnya masih mengajarkannya untuk tetap kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan berat yang menghadangnya, saat ayahnya masih membimbingnya untuk berpikir dewasa dan saat ayahnya masih menjadi miliknya.

“Tuhan, tolong jaga ayahku, jangan biarkan ia terluka lagi, tolong sampaikan rinduku padanya. Ayah, semoga kau bahagia dengan keluarga barumu, sayangi mereka seperti dulu kau menyayangiku. Jangan hiraukan aku lagi, aku hanya perusak kebahagiaanmu. Aku akan tetap memperhatikanmu dari jauh, Yah. Aku menyayangimu.” (*)