Pulang

oleh -19 views

Cerpen Karya: Hanik Alina

Kegiatan sekolah hari ini cukup padat. Kulirik baris angka pada pergelangan tanganku. Sepertinya ibu sudah di rumah. Aku bergegas menuju parkiran. Beruntung Si Mustang terparkir di pinggir. Tentu saja aku merasa beruntung. Bakal butuh waktu sepuluh menit untuk antri mengeluarkan kalau dia berada di deretan tengah, apalagi kalau di depan. Kukayuh Si Mustang, pelan melewati taman sekolah. Tidak terlalu jauh, hanya tiga puluh menit dari rumah bila aku mengayuh dengan santai. Namun, sepertinya hari ini langit tidak mengizinkanku menikmati semilir angin kota Gresik beri hias iman.

Aku berharap hujan turun setelah sampai di rumah meskipun aku membawa jas hujan. Ibu selalu mengingatkanku untuk membawanya. Kadang aku merasa ibu sangat cerewet tapi di saat seperti ini aku menyadari, ibu mengkhawatirkan aku. Pastinya memakan waktu juga untuk memakainya. Sepatu pun tetap akan basah. Padahal Si Kopek adalah sepatu satu-satunya yang kumiliki. Ibu hanya membelikan kalau sudah rusak atau tidak muat lagi. Begitu juga dengan adik-adikku.

Baru saja kusandarkan sepedaku di teras, gerimis turun dengan deras. Allah mengabulkan harapanku hari ini. Lirih aku bersyukur. Tepat ketika kuucap salam, ibu membuka pintu.
“Alhamdulillah. Kamu kehujanan?”
“Tidak, Bu. Pas sampai, pas hujan.” jawabku sambil terkekeh.
Aku segera masuk setelah mencium tangan eksotis yang mulai mengeriput kemudian bergegas ke kamar mandi. Aku belum sholat Ashar. Ibu pasti tak menyukai satu hal ini.

Benar saja. Ibu menatapku tajam saat aku keluar dari mushola mungil kami. Ruangan tanpa pintu yang disiapkan ibu khusus untuk sholat berjamaah. Ibu lebih suka mengajak kami berjamaah kecuali aku, ibu sering menyuruhku ke masjid mengingat aku sudah baligh. Artinya aku bukan anak-anak lagi.
“Jangan dibiasakan menunda sholat. Tidak baik untuk akhirat.”
“Maaf, Bu. Tadi, langit cukup gelap. Jadi, Aqsa bergegas pulang.”
Ibu hanya diam tidak menanggapi. Tangannya sibuk mengemas peyek kacang. Dua adikku turut membantunya. Aku pun mengerjakan bagianku menatanya dalam toples dan memberinya label.

Hari ini, ibu pasti kerja keras. Gunungan baju di meja setrika yang kulihat tadi pagi telah tersusun rapi meskipun hanya dilipat saja, tidak disetrika. Tidak kulihat tumpukan baju Alena dan Aisya. Mereka pasti sudah memasuknya ke dalam lemari karena kulihat sekilas tumpukan itu, semua bajuku. Ubin telah glowing macam pakai skincare. Rasa-rasanya, ibu semakin rajin. Sangat berbeda ketika tinggal di rumah nenek. Tentu itu membuat kami senang. Aku pernah membahasnya dengan Alena dan Aisya.

Setiap hari, selepas subuh ibu memasak untuk kami. Awalnya, ibu memaksa kami untuk makan masakannya. Harus dicoba baru boleh bilang gak suka. Kami terpaksa memakannya meskipun aneh rasanya. Kami terbiasa dengan telur ceplok dan telur orak-arik saja. Selain untuk sarapan, ibu juga menyiapkan bekal makan siang kami. Pernah suatu kali, aku memberikan bekalku kepada temanku. Sementara itu, aku membeli bakso di kantin sekolah. Di luar dugaanku, dia memuji masakan ibu. Seingatku ibu memberi bekal gado-gado, makanan full sayur. Sejak saat itu, aku mencoba berdamai dengan masakan ibu. Setidaknya, aku belajar menghargai ibu yang telah bersusah payah memasak untuk kami.

Suatu hari, ibu memberi kami celengan. Kemudian, meminta kami menuliskan satu benda yang kami inginkan. Aku, Alena, dan Aisya berlomba menabung. Jadilah, bekal makan siang kami tak pernah tersisa. Kami lebih suka masukkan uang jajan ke dalam celengan.

Baca Juga  Real Count KPU 38% DPR RI Dapil Malut: PAN Geser NasDem dari Kursi Terakhir

Sudah lama ibu ingin pindah dari rumah nenek tetapi ayah keberatan. Maka, tepat setelah tujuh hari kepergian ayah, ibu mengemas pakaian kami. Ibu mengindahkan permintaan bude untuk tetap tinggal. Kata ibu tidak ada gunanya bertahan. Sudah waktunya mandiri.
“Ayah tidak berwasiat apa pun. Kami harus mandiri.” hanya itu yang ibu ucapkan sepuluh hari yang lalu. Kami membawa pakaian dan barang-barang pribadi kami. Ibu menurunkan kami di sebuah rumah yang belum pernah kami lihat.
“Ini rumah siapa, Bu?” tanyaku memberanikan diri.
“Rumah kita.” jawab ibu tanpa ekspresi.
“Yeee kita punya rumah baru.” Alena dan Aisya spontan berteriak dan memeluk ibu.
“Terima kasih, sudah belikan adek rumah baru.” ucap Aisya dengan gaya yang khas.

Ibu sama sekali tidak bercerita pada kami tentang rumah ini. Rumah berlantai dua dengan tiga kamar dan satu mushala. Rumah ini masih tampak luas karena belum banyak perabot. Di kamar hanya ada kasur lantai dan lemari.
“Pelan-pelan kita akan isi dengan perabot yang kita butuhkan.” ucap ibu seolah menerka isi otak kami. Itu artinya, kami harus rajin menabung.

Banyak hal yang harus kami ubah. Ibu terlihat lebih tegas dan tidak lagi mentolerir segala bentuk ketidaksesuaian. Sebenarnya sederhana. Taruh handuk basah di kasur, gantung seragam sepulang sekolah, meletakkan sepatu di rak, dan semua hal yang berhubungan dengan milik pribadi. Kami memang kadang-kadang mengabaikan hal itu. Berulang kali ibu memperingatkan kami tetapi ibu pula yang akhirnya membereskannya.

Namun, ibu menjadi lebih sabar dan irit bicara. Aneh bukan? Kami lebih takut bila ibu mendiamkan kami. Pernah suatu kali ibu tidak berbicara denganku selama dua hari hingga akhirnya aku mengakui kesalahan dan minta maaf dengan sungguh-sungguh. Masih jelas dalam ingatanku, sore itu ibu menghadiri seminar. Ibu menelponku untuk mengangkat jemuran. Aku terlalu asik bermain game. Saat ibu datang, jemuran masih di luar. Beberapa potong pakaian jatuh berserakan. Harusnya ibu marah besar. Ternyata dugaanku salah. Ibu mendiamkanku. Rasanya nggak enak banget. Saat Alena dan Aisya bercanda sama ibu, aku dianggap tak ada. Kalau aku ikutan, ibu menghindar. Mereka ikut-ikutan menyalahkanku. Rasanya pengen nangis.

Baca Juga  Tim SAR Evakuasi Korban dan Bangkai Helikopter Jatuh di Hutan Halmahera

Ibu suka membacakan dongeng untuk Aisya. Kami semua suka karena ibu pandai berganti-ganti suara. Sebenarnya ibu membacakan cerita untuk Alena dan Aisya tetapi diam-diam aku ikut menyimak. Ikut tertawa saat ibu bersuara kecil atau kadang-kadang kaget ketika ibu membentak dengan suara bariton. Biasanya hanya Aisya yang membuat ibu tidak bisa menolak untuk bercerita. Namun, sejak menempati rumah ini, ibu selalu meluangkan waktu untuk bercerita. Mungkin ibu sedang berusaha agar kami tak merasa kehilangan.

Kututup toples terakhir. Semua siap diantarkan ke pelanggan dan sebagian dijual di car free day. Alena dan Aisya membantu membersihkan meja dan mengemasi peralatan. Sementara itu, ibu telah beranjak mengambil air wudhu. Gemericik air membuat kami bergegas menyusulnya. Tak membiarkan ibu menunggu lama. Sebisa mungkin kami tidak membuat ibu kecewa seperti ibu selalu berusaha membuat kami bahagia.

Tidak seperti biasanya ibu beranjak dari sajadah setelah berdoa. Tanpa melepas mukena ibu masuk kamar. Apakah ibu marah? Kutanya ada dua adekku, mereka mengedikkan bahu tidak tahu. Tak ada pilihan, aku kembali membaca ayat-ayat suci sambil mencoba memghentikan pikiranku yang menerka-nerka.

Aku mendongakkan kepala saat ibu melewatiku. Kini beliau duduk berhadapan dengan Alena.
“Ini buat mbak,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak berpita merah muda pada Alena. Bukan berarti ibu lebih muda dari Alena tetapi ibu mengajarkan sopan santun pada Aisya. Padaku pun ibu selalu memanggil “mas”.
“Mbak kan enggak ulang tahun.” ucap Alena keheranan. Kulirik Aisya sedikit cemberut tak suka.
“Hadiah karena mbak sudah mulai belajar membaca Al-Quran. Tidak mengeja lagi.” jelas ibu. Aku ingat kalau ibu pernah menjanjikan Al Quran pada Alena dan Aisya kalau mereka sudah mulai belajar membaca Al-Quran. Kulihat mata Alena berbinar-binar. Spontan ia memeluk ibu.
“Terima kasih. Mbak sayang ibu.” ucapnya plus cipika cipiki.
“Sama-sama. Ibu juga sayang mbak.” jawab ibu. Drama ini selalu berulang setiap kami menerima sesuatu dari ibu. Aku dan Aisya ikut-ikutan berpelukan. Kami persis teletubles.

Alena melepaskan pelukannya. Aisya telah menghapus cemberut dari wajahnya. Sepertinya dia tahu kapan ia mendapatkan hadiah yang sama. Alena menarik pita merah muda dengan hati-hati. Sebuah Al Quran berhias sebuah nama Alena Syahri Maulidah dengan warna kesukaannya, merah muda. Persis janji ibu kala itu.
“Adek akan segera mendapatnya juga.” kata ibu pada Aisya sambil memeluknya menghapus iri yang sempat terlihat dari raut wajahnya.
“Adek mau warna ungu.” ucap Aisya manja.
“Semoga ada ya. Kalau enggak ada…”
“Warna hijau juga boleh.” tugas Aisya.
Ibu tersenyum simpul. Adik bungsuku ini memiliki banyak persamaan sifat dengan ibu.

Ibu menjelaskan fitur pada Al Quran penuh warna itu pada Alena kemudian membaca Al Quran seperti biasanya. Aku mengakhiri bacaanku. Kutaruh Al Quran ku di tempatnya. Perutku sudah tak mau menunggu lagi. Kubuka tudung saji di ruang tengah. Alena dan Aisya sudah siap di tempat. Ibu tersenyum menghampiri kami.
“Terima kasih sudah menunggu ibu.” ucapnya sambil mengacak rambutku.
Kami makan malam dengan tenang. Terkadang aku rindu disuapin ibu. Pasti kalian bilang aku tak tahu malu bukan? Tapi percayalah saat-saat seperti itu sangat manis. Ibu menyuapi kami bertiga. Alasannya tidak terlalu banyak mencuci piring dan acara makan cepat selesai.

Baca Juga  Anggota Kongres AS Anjurkan untuk Bunuh Semua Anak Palestina di Gaza

Ibu menaruh ikan yang telah bersih dari duri di piringku.
“Terima kasih, Bu.”
“Kalau makan, jangan sambil melamun.”
“Pengen disuapin ibu.” ucapku tersenyum simpul.
“Iya. Sudah lama ibu tidak menyuapi kami.” kata Aisya. Dia paling berani mewakili suara hati kami.
“Karena hari ini terlanjur makan sendiri-sendiri, lain kali saja.” ujar ibu.

Ibu membereskan sisa makan malam. Kami belum beranjak dari duduk.
“Kalian tidak apa-apa kalau lebaran tahun ini tidak pulang kampung?”
“Kenapa, Bu?” tanya Alena spontan. Kemarin dia sempat cerita rencana lebarannya di kampung halaman. Pasti dia merasa kecewa.
“Keuangan kita sepertinya tidak mengizinkan. Belum lagi pesanan peyek yang sudah antri. Ibu janji liburan akhir pelajaran kita pulang. Bagaimana?”
“Saya setuju saja, Bu. Toh kita bisa video call,” kataku menenangkan ibu meskipun sebenarnya perlahan aku menghapus rencana lebaran di kampung. Keuangan ibu pasti pas-pasan. Ibu juga membeli beberapa perabot rumah.
“Bener, ya, Bu! Kita pulang pas liburan akhir ajaran,” ucap Aisya.
“InsyaAllah. Doakan ibu nggak ada kegiatan di sekolah, ” jawab ibu.
“Yaa ibu.” serentak Alena dan Aisya bergumam lirih.
Ibu tersenyum simpul melihat mereka berdua. Begitulah ibu. Tidak memaksa tapi mencoba membuat kami mengerti. Akhirnya kami pasrah dengan keputusannya. Aku tersenyum membuka buku pelajaranku. Ada pekerjaan rumah yang belum kuselesaikan.

Sementara itu, ibu berkutat dengan laptop. Sepertinya, ibu sedang membuat materi. Bukankah besok hari Minggu? Perlahan aku mendekat. Kulihat layar laptop. Ibu tidak menyiapkan materi pelajaran siswanya. Ibu menoleh. Kembali menatap lurus layar laptop. “Besok ibu presentasikan usaha kita di depan investor. Doakan ibu, ya! Kalau berhasil ibu dapat tambahan modal usaha dan pembinaan dari ahlinya,” ucap ibu.
“Pasti, Bu. Semoga semua lancar,” jawabku.

Ibu selalu bilang bahwa kami harus punya usaha. Ibu tak selamanya mengajar. Suatu saat ibu pasti digantikan oleh guru yang lebih muda dan energik. Ketika saat itu tiba, harapan ibu usaha kami bisa menopang kebutuhan hidup kami. Bila kami adalah alasan ibu bertahan, maka ibu adalah sumber kekuatan. Tempat kami pulang tapi bukan tempat kami bergantung karena kami harus bisa mandiri. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.