Punya Potensi EBT Besar, Maluku Masih Terkendala Infrastruktur Jaringan

oleh -23 views
Link Banner

Porostimur.com – Jakarta: Anggota Komisi IV DPR RI, Saadiah Uluputty mengatakan, bahwa untuk mendukung Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN) dibutuhkan pembangkit energi skala besar untuk industri rumah tangga di kawasan-kawasan sentra perikanan yang berciri kepulauan bisa menggunakan EBT sebagai alternatif ketersediaan pembangkit energi yang menjadi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan pendingin atau rantai dingin dan cold storage.

“Di Maluku ada 35 kelurahan, 1198 desa dan 118 kecamatan. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.045 desa berbasis pesisisr di pantai sepanjang 10.000 km lebih di 1.342 pulau. Dan ini butuh listrik yang sangat besar,” kata Saadiah melansir ruangenergi.com, Selasa (28/9/2021).

Hanya saja menurut dia, perlu ada pemetaan dan identifikasi pulau mana saja yang belum ada listriknya atau daerah tersebut belum tercukupi kebutuhan listriknya.

“Contohnya di Pulau Manipa, Pulau Kelang dan Buano, Kabupaten Seram Bagian Barat. Minggu lalu saya berkunjung ke daerah  sentra perikanan tersebut tapi pembangkit, daya dan tegangan listriknya belum layak untuk mendukung pengolahan di sektor hilirnya,” papar Saadiah.

“Namun jika EBT yang menjadi alternatif maka harus dikonkritkan akan dimulai dari mana. Saat ini yang sudah ready adalah PLTS. Panel surya sudah diaplikasikan di lampu penerangan jalan dan juga motor nelayan sebagai sumber energi pembangkit,” tambahnya.

Menurut anggota Fraksi PKS asal daerah pemilihan (Dapil) Maluku ini, Pemerintah mungkin bisa meniru apa yang dilakukan Pemerintah Singapura yang sudah membangun ribuan panel surya terapung di atas laut lepas Singapura.

“Selain bisa memanen energi terbarukan, ladang panel surya terapung juga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca. Ini sangat cocok untuk wilayah Maluku dengan panjang garis pantai lebih dari 10.000 km,” tukasnya.

Selain itu, pembangkit listrik tenaga pasang surut air atau tidal energy (Tidal Power) seperti yang ditawarkan dua perusahaan asing yakni Altantis Resources Ltd asal Singapura dan SBS Intl.Ltd asal Inggris juga bisa dibangun di Maluku.

“Menurut saya, PLTS Apung dan Tidal Power sangat cocok dibangun di Maluku dan ini akan  mendukung Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN),” tutup Saadiah Uluputty.

Butuh Energi Skala Besar

Sementara itu, Direktur Maluku Energi Abadi (MEA) Ir. Musalam Latuconsina mengatakan, Maluku memiliki sejumlah potensi energi baru terbarukan (EBT) yang bisa diolah menjadi energi listrik diantaranya surya, arus laut, bio energi, panas bumi, hingga energi angin.

“Namun semua ini masih terkendala dengan infrastruktur jaringan transmisi distribusi PLN yang belum merata. Hal ini disebabkan minimnya daya serap energi masyarakat akibat pola kegiatan ekonomi yang masih tradisional,” katanya saat dihubungi ruangenergi.com, Selasa (28/9/2021).

Untuk saat ini, lanjut dia, pihaknya masih mengandalkan POP/POD Lapangan Lofin oleh K3S Citic Seram, di mana rantai pasok energinya juga akan dimanfaatkan untuk menyediakan kebutuhan energi serta menerapkan transisi energi dari membakar diesel solar ke penyerapan energi gas yang lebih ramah lingkungan.

“Untuk industri perikanan di Maluku baik yang terpusat di Ambon New Port maupun yang tersebar di puluhan titik di seluruh Provinsi Maluku untuk 3-5 tahun ke depan  masih akan sangat ditopang oleh rantai gas yang bersumber dari Lofin,” paparnya.

“Namun 5-10 tahun setelahnya diharapkan sudah mulai terjadi transisi energi dari Fosil ke EBT secara bertahap hingga mencapai di atas 30% di tahun 2030 dan di atas 50% di tahun 2050,” tukasnya.

Lebih jauh ia mengatakan, tantangan terbesar Maluku untuk lepas dari status provinsi miskin dan minin inovasi adalah peningkatan daya saing ekonomi serta peningkatan taraf pendidikan.

“Untuk mencapai hal itu, maka decisive enabler sebagai penentu adalah sumber daya finansial dan sumber daya energi sebagai modal percepatan pengembangan infrastruktur dan sumber daya manusia,” urainya.

Musalam menambahkan, bahwa ketersediaan energi, dana bagi hasil, dan dividen PI 10% dari Blok Masela tentu memiliki peran strategis jangka menengah dan jangka panjang.

“Dalam jangka pendek bersama dengan bapak era industri maluku, Gubernur Murad Ismail, MEA sedang mengupayakan terjadi industrialisasi di segala lini baik di migas dengan petrokimia, hingga perkebunan dan perikanan,” tutup Musalam.

(red/ruangenergi)

Baca Juga  36 Milyar Anggaran DD Kabupaten Halbar untuk BLT Segera Cair, Tunai