Puzzle Perdamaian di Rimba Pala Patani

oleh -125 views

Oleh: Abdurrahim Saraha, Mantan Aktivis

Banemo – Sibenpopo ataukah Sibenpopo – Banemo. Dari mana kita memulai langkah. Jika berangkat dari Weda, dengan arahan sahabat Arman Alting—kini Kepala BKPSDM Halmahera Tengah—menuju Patani, maka urutannya adalah Sibenpopo – Banemo. Sebaliknya, jika dari Patani ditemani Lukman Esa (LUKS), lelaki akal sehat yang menjabat Ketua Komisi III DPRD Halmahera Tengah menuju Weda, maka posisinya menjadi Banemo – Sibenpopo.

Namun, Bilifitu selalu saja terngiang setiap kali Patani disebut. Puluhan tahun silam, di sana pernah terjalin pertemuan, percakapan hangat, bahkan beberapa keluarga dari Bilifitu pernah datang dan bersama kami di Dowora, Tidore. Itu kisah lama, yang suatu waktu layak ditelusuri kembali—mengapa Bilifitu begitu pantas dikenang.

Baca Juga  Direktur RSUD Jailolo Luruskan Realisasi BLUD 2025, Tegaskan Tetap Sesuai Pagu Rp19 Miliar

Saya harus jujur, perjalanan Weda–Patani atau sebaliknya belum pernah saya lalui. Itulah sebabnya keindahan alamnya—kampung-kampung yang dilewati, laut, perbukitan, hingga kuliner seperti ‘gatang kanari’—belum tergambar utuh dalam ingatan. Barangkali di lain waktu, rute ini perlu dijelajahi dalam semangat “Baronda Halteng”.

Dari Banemo, kita pernah mengenal sosok besar Chaidir Djafar, yang namanya melambung hingga Papua dan kemudian menjadi anggota DPD RI dari Maluku Utara. Kini, muncul lagi satu nama yang jika berdiri di atas podium, suaranya mengaum, menggetarkan hati: Ahlan Djumadil.

No More Posts Available.

No more pages to load.