Radhar dan “Cuci Darah” Kebudayaan

oleh -61 views
Link Banner

Oleh: Binhad Nurrohmat, Sastrawan Nasional

Sangat berat menjadi Radhar Panca Dahana di dunia ini — setidaknya menurut saya. Ia rutin bolak-balik dari rumahnya di Pamulang ke rumah sakit di Jakarta Pusat untuk cuci darah 2-3 kali setiap minggu. Rute jalannya mesti melintasi titik-titik kemacetan lalu-lintas. Ia penderita gagal ginjal sejak berpuluh tahun silam. Istrinya setia menyetiri mobilnya bertahun-tahun untuk urusan cuci darah dan kegiatan lainnya.

Dalam suatu masa, Radhar memaksa saya menggelar rapat persiapan suatu acara sastra di rumah sakit. Ia rapat dalam keadaan terbaring dekat mesin hemodialisis dan selang darah yang ujungnya terhubung ke urat nadi di lengannya. Ia sering “gila” dalam urusan sastra dan kebudayaan.

Baca Juga  5 Tips Ngobrol dengan Pasangan Agar Tak Mudah Salah Paham

Dalam kesempatan lain, Radhar mengontak saya yang sedang menghadiri sebuah kegiatan sastra. Hari itu jadwal Radhar cuci darah. Ia baru selesai cuci darah dan meminta saya menggendongnya dari mobilnya di parkiran ke tempat kegiatan sastra itu. Sehabis cuci darah, kondisi fisiknya lemah dan butuh waktu memulihkan tenaga. Saya terharu kepada militansi dan pusing atas kegilaannya.

Link Banner

Saya bergaul dekat dengan Radhar bertahun-tahun. Ia seorang “gila kerja” sejak usia belasan. Workacholic. Tempo kerjanya cepat. Kadang keterlaluan cepatnya. Menulis, wira-wiri antar kota, berbicara dari forum ke forum. Saya melihat setiap tetes darah di tubuhnya tak pernah sia-sia bagi sastra dan kebudayaan.

Itu semua terjadi di Jakarta.

Baca Juga  Bupati Halmahera Utara Terima Penghargaan BPH Migas Award 2020

Setelah saya mukim di Jombang, Radhar sesekali masih mengontak saya via WA. Ia kehabisan akal memahami intensitas kegiatan saya dengan kuburan. Saya hanya tertawa. Ia terlalu rasional untuk perkara kuburan. Ia besar di metropolitan Jakarta dan lama tinggal di Prancis.

Saya tak menduga hari ini Radhar meninggal dunia. Saya tak terlalu kaget sebenarnya. Kondisi fisiknya sudah rentan dan rawan sekian lama.

Barangkali sudah waktunya Radhar menemukan jawaban atas obrolannya dengan saya via WA setelah ia membaca “Kuburan Imperium”, ini buku saya yang terbit pada 2019.

Selamat jalan, Radhar. Banyak kenangan dan konflik kecil terjadi selama pergaulan sekian tahun. Sungguh berharap ibadah kebudayaanmu menjadi amal saleh bagi kehidupanmu di alam Sana, sejak saat ini. Alfatihah… (*)