Ramadhan, Disperindag Maluku buka puasa bersama anak yatim piatu

oleh -75 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Kepedulian kepada sesama manusia, khususnya kaum yang lemah wajib ditingkatkan selang penyelenggaraan ibadah puasa selang bulan Ramadhan.

Dimana, melalui bulan Ramadhan ini Umat Muslim diajarkan berpuasa untuk merasakan lapar dan dahaga, mengingatkan tentang betapa sedihnya nasib orang yang tidak punya, orang terlantar, anak yatim yang tidak ada orang tuanya, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak.

Hal ini ditegaskan Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Maluku, Elvis Pattiselano, saat membuka acara buka puasa bersama anak yatim, di Ambon, Kamis (7/6).

Nilai spiritual yang terdapat dalam puasa selang bulan Ramadhan, akunya, diharapkan dapat memberikan dampak yang siginifikan dalam kehidupan nyata.

Sehingga, puasa Ramadhan tidak saja menjadi bagian dari kegiatan ritual keagamaan semata, tetapi juga memiliki aspek sosial dan moral dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan masyarakat maupun lingkungan kerja.

Baca Juga  Gandeng Tompi dan Fachir, Andien Hadirkan Single Baru

Dimana, jelasnya, dalam konteks lingkungan kerja, hubungan-hubungan kerjasama, pelayanan kepada masyarakat secara adil dan bertanggungjawab serta sikap sabar dan kehati-hatian dalam menghadapi berbagai permasalahan masyarakat.

”Dengan konteks pelaksanaan tugas menjadi Hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Disisi lain membangun kebersamaan dan solidaritas antar sesama aparatur Negara khususnya pada Dinas Pen’ndag Provinsi Maluku menjadi modal yang sangat besar dalam rangka meningkatkan kinerja yang jauh lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam puasa di bulan Ramadhan semestinya menjadi motivasi bagi keluarga besar Disperindag Maluku dalam rangka membangun jati diri dan spirit dalam melaksanakan setiap tugas pokok dan fungsi aparatur yang ada.

Puasa pada bulan Ramadhan sendiri, akunya, menjadi sarana untuk mengontrol kebiasaan tidak baik.

Baca Juga  Kebijakan Ekspor Nikel Luhut Dianggap Rugikan Indonesia dan Untungkan Tiongkok

Dimana, orang yang puasa memiliki aktivitas terfokus dan terorientasi kepada ketakwaan, sehingga segala daya dan tenaganya terarah kepada tujuan yang jelas.

”Orang yang berpuasa menyeimbangkan antara lahir dan batinnya, sehingga dirinya merasakan keharmonisan dalam hidup. Pribadi yang harmonis hasil dan” puasa yang dilakukannya dengan nilai-nilai spiritual yang melekat pada dirinya. Pribadi yang harmonis adalah pribadi yang senantiasa mengevaluasi nilai amal. lntensfeksi diri selalu di lakukannya setiap saat dikala lapang maupun di kala sempit, di kala suka maupun di kala duka,” tegasnya.

Selain itu, jelasnya, puasa mengajarkan umat Muslim untuk sabar, ramah dan empati terhadap sesama.

Puasa tidak membedakan antara si kaya dengan si miskin dalam melaksanakannya.

Dimana, melalui berpuasa seseorang akan meningkatkan kepedulian sosialnya.

Baca Juga  KLHK Haltim Sebut Sedimentasi di Pantai Moronopo Sudah Berlangsung Lama

Dijelaskannya, Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah Zoon Folition, yang berarti bahwa manusia merupakan makhluk yang bermasyarakat, bersosialisasi, berinteraksi sosial.

Dimana, akunya, dalam bersosialisasi manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia.

Sehingga, interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.

Ditambahkannya, interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis yang menghubungkan antara orang per orang, antara kelompok-kelompok manusia maupun perorangan dengan kelompok manusia.

”Oleh karena itu dalam berinteraksi dengan manusia puasa memberikan bimbingan agar selalu mengutamakan integritas moral dalam perkataan dan perbuatan disisi lain Puasa secara sosial. membiasakan untuk berlaku disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan serta melahirkan perasaan kasih yang dalam jiwa orang-orang yang beriman dan mendorong mereka melakukan kebaikan,” pungkasnya. (febby sahupala)