Ramadhan & Nasehat Untuk Para Pemimpin

oleh -125 views
Link Banner

Penulis: Hasby Yusuf, Ketua BKPRMI Maluku Utara

Dulu, Maloku Kie Raha (Maluku Utara) hanya dengan empat Sultan dan hanya dengan dua komoditi (Cengkeh dan Pala) kita bisa menjadi negeri besar, maju dan terhormat dalam pertarungan global dan kawasan. Kita menjadi negeri yang disegani dan penuh kewibawaan.

Sekarang dengan 11 (sebelas) kepala daerah (gubernur, walikota dan bupati) dan beragam kekayaan tambang (Emas, Nikel, Pasir Besi dll) tetapi negeri ini hanya jadi mangsa investor kolonial dan elit berkuasa di pusat kekuasaan.

Kekayaan alam yang menjadi anugerah Tuhan, dikuras habis atas nama investasi tanpa nilai tambah bagi kesejahteraan rakyat negeri ini.

Pasti ada yang tidak beres di negeri ini. Saya melihat, selama ini khususnya para pemimpin di negeri ini hanya bekerja untuk diri, keluarga dan kelompoknya.

Baca Juga  Dandim 1509/Labuha Sambangi Koramil 1509-01/Bacan

Hilangnya ketauladanan dan lemahnya komitmen serta pudarnya keshalehan sosial adalah bagian dari masalah kepemimpinan di negeri ini. Janji pengabdian pada rakyat tak lain hanyalah gincu politik semata.

Saya tentu berharap di bulan suci Ramadhan ini, semua kita, dari rakyat hingga elit daerah bermuhasabah diri.

Sucikan diri, kuatkan iman, kembalikan ruh agama di hati para pemimpin. Jadikanlah rakyat dan daerah sebagai basis pengabdian.

Para pemimpin negeri harus sadar dan kembali membaca serta mentadaburkan lembaran kitab suci. Karena hanya dalam kitab sucilah, kalian akan menemukan hukum, larangan dan perintah Tuhan. Dan dengan itu, para pemimpin negeri ini akan menjadi lembut hatinya.

Hanya Pemimpin yang lembut hatinya yang akan terhalang untuk menyimpang dari jalan lurus dan melindungi dirinya dari sifat rakus dan tamak.

Baca Juga  Tim SAR Selamatkan Lima Korban Kecelakaan Kapal di Perairan Obi Halmahera Selatan

Para elit negeri ini harus memancarkan cahaya ketauladan. Dengan cara apa?

Kejujuran harus mulai dari para pemimpin, hentikan kedustaan. Kerakusan pada harta dan jabatan harus mulai ditanggalkan.

Lucuti sifat sombong dan tamak di hati para pemimpin. Posisikan diri sebagai Ulil Amri yang benar, yang senantiasa jujur dan berakhlak yang baik.

Jadikan rumah Tuhan (rumah ibadah) dan KitabSuci sebagai landasan berfikir dan bertindak para pemimpin negeri ini.

Jika para pemimpin negeri ini mampu memusahaba diri dan mampu melihat kekurangannya maka saya yakin akan ada cahaya kemajuan. Dan Insha Allah negeri ini akan kembali merebut kehormatan serta kejayaannya seperti dulu. Aamiin (*)