Rekonstruksi Penembakan Laskar FPI. 2 Terluka 4 Menyerah

oleh -38 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Polisi akhirnya menangkap 6 laskar FPI di TKP 3. Laskar FPI diminta menyerah oleh polisi di Rest Area Km 50 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat.

Fakta ini terungkap saat tim dari Bareskrim dan Polda Metro Jaya melakukan rekonstruksi di Rest Area Km 50 dekat exit area. Rekonstruksi di TKP 3 berlangsung, Senin (14/12/2020) sekitar pukul 02.20 WIB.

Di adegan 24, mobil Chevrolet abu-abu pelaku terhalang mobil Corolla saat hendak menuju exit area. Saat berhenti itulah, mobil Avanza Silver petugas berhenti dekat exit area dan keluar mobil untuk langsung mengepung mobil pelaku.

“Mobil terhenti petugas turun dari mobil lalu menuju ke mobil pelaku untuk pengamanan,” ujar penyidik.

Polisi membuka pintu bagian tengah dan depan. Sebanyak 4 pelaku lalu diminta untuk menyerah dan tiarap.

“Petugas perintahkan pelaku menyerah, diminta tiarap,” kata penyidik.

Polisi sempat mengecek kondisi 2 laskar lain yang duduk di kursi kiri depan dan kiri tengah. Diketahui kondisi mereka tengah terluka.

Baca Juga  SPPD fiktif, Polres Ambon tunggu 2 alat bukti

Polisi kemudian meminta bantuan polisi lain lewat telepon.

IPW Sebut Ada 3 Kejanggalan di Rekonstruksi Baku Tembak dengan Laskar FPI

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane, menyebut ada kejanggalan dalam rekonstruksi baku tembak antara polisi dan laskar Front Pembela Islam (FPI) di Tol Jakarta-Cikampek yang dilakukan Bareskrim Polri.

Neta melihat terdapat setidaknya ada tiga kejanggalan dalam rekonstruksi itu, terutama dalam kasus kematian empat anggota FPI di dalam mobil polisi.

Pertama, kata dia, saat keempat anggota FPI yang masih hidup. Sebagaimana dalam rekonstruksi, keempatnya digiring ke mobil polisi tanpa diborgol.

“Ini sangat aneh, Rizieq sendiri saat dibawa ke sel tahanan di Polda Metro Jaya tangannya diborgol aparat. Kenapa keempat anggota FPI yang baru selesai baku tembak dengan polisi itu tangannya tidak diborgol saat dimasukkan ke mobil polisi?” tanya dia, dalam siaran tertulisnya, Jakarta, Senin (14/12/2020).

Baca Juga  Bebas Bersyarat, John Kei Tinggalkan Nusakambangan

Pada SOP Polri, pemborgolan dapat dilakukan ketika tersangka/terduga dirasa berpotensi melawan atau melarikan diri.

Kedua, lanjut dia, polisi memasukkan keempat anggota FPI yang baru selesai baku tembak dengan polisi ke mobil polisi yang berkapasitas delapan orang. Menurut dia, tindakan ini tidak masuk akal.

“Ketiga, anggota Polri yang seharusnya terlatih terbukti tidak promoter (profesional, modern dan terpercaya) dan tidak mampu melumpuhkan anggota FPI yang tidak bersenjata, sehingga para polisi itu main hajar menembak dengan jarak dekat hingga keempat anggota FPI itu tewas,” ujarnya.

“Dari ketiga kecerobohan ini terlihat nyata bahwa aparatur kepolisian sudah melanggar SOP yang menyebabkan keempat anggota FPI itu tewas di satu mobil. Dari penjelasan Kadiv Humas Polri itu terlihat betapa cerobohnya anggota polisi tersebut,” kata Neta.

Baca Juga  Himapel KKT-Ambon, Dukung Kejati Tuntaskan Dugaan Kasus Korupsi Taman Kota Saumlaki

Desakan IPW

Neta pun menyoroti keterangan yang disampaikan, Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono soal penembakan keempat orang itu karena mereka melakukan perlawanan.

“Namun saat keempat orang itu diamankan di rest area KM 50 dan dibawa ke mobil oleh petugas, di perjalanan melakukan perlawanan. Pelaku mencoba merebut pistol dan sempat mencekik petugas saat mobil baru berjalan 1 kilometer di jalan tol Jakarta-Cikampek. Kemudian terjadi pergumulan di dalam mobil yang akhirnya memaksa petugas melakukan tindakan tegas terukur. Keempatnya tewas setelah polisi melakukan tindakan tegas terukur,” kata Argo yang jadi sorotan Neta.

Dari penjelasan Argo tersebut, IPW mempertanyakan sikap promoter Polri.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Komnas HAM dan Komisi III perlu mendesak pembentukan Tim Independen Pencari Fakta agar kasus ini terang benderang. 

(red/dtc/merdeka)