Rel Pertama, Palang Terakhir

oleh -57 views

Semua bicara koordinasi. Semua bicara regulasi. Semua bicara kajian. Tidak ada yang bicara: “Besok pasang!”

Bayangkan, sejak 1867, kerjaan pejabat tampaknya memang baru sebatas melapor. Mungkin ribuan lembar kajian telah lahir, dicetak, dijilid, diparaf, distempel, lalu tidur nyenyak di lemari arsip. Kalau semua laporan itu disusun berjajar, mungkin bisa menjadi flyover kertas dari Semarang sampai Surabaya.

Ironinya makin pahit ketika kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi. Bekasi Timur pada April 2026 menjadi ledakan alarm berikutnya. Tabrakan melibatkan KRL, taksi online, dan Argo Bromo Anggrek.

Seratus enam korban berjatuhan. Enam belas meninggal dunia. Lagi-lagi publik kaget. Lagi-lagi pejabat bicara percepatan. Lagi-lagi bangsa ini seperti baru sadar bahwa kereta api tidak bisa berhenti mendadak seperti motor matic yang remnya diinjak tukang ojek.

Peneliti transportasi UGM, Iwan Puja Riyadi, menjelaskan tragedi itu sebagai efek domino. Ada faktor teknis, ada keterlambatan informasi, ada kepadatan lalu lintas kereta.

Baca Juga  Perubahan Saham PT Karya Wijaya, Upaya Sherly Tjoanda Hindari Jerat Hukum?

Tetapi satu hal yang menampar keras adalah pernyataannya tentang perilaku masyarakat. Teknologi modern ternyata tidak otomatis membuat manusia modern. Palang pintu bisa secanggih apa pun, tetapi kalau mental pengendaranya masih merasa hidup punya tombol “respawn”, tragedi tinggal menunggu giliran.

No More Posts Available.

No more pages to load.