Rel Pertama, Palang Terakhir

oleh -29 views

Kita ini aneh. Di satu sisi, rakyat suka menerobos palang seolah sedang ikut lomba “Indonesia’s Next Stuntman”. Di sisi lain, negara membiarkan ribuan perlintasan tanpa perlindungan dasar.

Masyarakat sembrono. Negara pun sering tak kalah sembrono. Jadilah rel kereta berubah menjadi arena adu cepat antara maut dan kebiasaan buruk.

Kini kabarnya pemerintah menyiapkan Rp4 triliun untuk menangani sekitar 1.800 titik perlintasan sebidang. Baru menyiapkan. Ada rencana modernisasi palang otomatis. Semua baru rencana sih.

Akan ada pembangunan pos jaga. Ada penutupan perlintasan liar. Ada flyover dan underpass. Daftar penutupan dibacakan panjang sekali, dari Jakarta sampai Sumatera Barat, seperti daftar nama siswa yang terlambat upacara.

Bagus? Tentu bagus. Tetapi rakyat punya hak bertanya dengan nada getir: kenapa baru sekarang?

Baca Juga  Belgia Tampil Konsisten, Siap Jadi Penantang Serius di Piala Dunia 2026

Bukankah rel itu sudah ada sejak abad ke-19? Bukankah kecelakaan juga bukan barang baru? Bukankah setiap korban yang meninggal selalu disertai kalimat “akan dievaluasi”?

Kadang negeri ini terasa seperti bengkel raksasa yang baru memperbaiki rem setelah bus masuk jurang.

Yang paling menyedihkan sebenarnya bukan sekadar kecelakaan. Yang menyedihkan adalah cara kita menormalisasi bahaya. Rel tanpa palang dianggap biasa. Anak-anak bermain dekat rel dianggap biasa. Pengendara menerobos dianggap biasa. Klakson kereta yang meraung-raung dianggap musik latar kehidupan.

No More Posts Available.

No more pages to load.