Rel Pertama, Palang Terakhir

oleh -31 views

Padahal rel kereta itu bukan garis dekorasi. Ia adalah jalur baja dengan hukum fisika yang tak punya belas kasihan. Kereta bukan burung dara yang bisa mengerem sambil melompat manis. Sekali melaju, puluhan ton besi bergerak membawa momentum yang tak bisa ditawar oleh alasan “sebentar lagi lewat.”

Dan di atas semua itu, ada pelajaran yang lebih besar: bangsa ini terlalu lama hidup dalam budaya tambal sulam.

Kita rajin membuat slogan keselamatan, tetapi malas membangun sistem keselamatan. Kita gemar menyalahkan masyarakat, tetapi sering lupa bahwa disiplin publik lahir dari tata kelola yang serius, konsisten, dan tegas.

Kemijen seharusnya menjadi simbol kemajuan transportasi Indonesia. Namun hari ini, ia justru berdiri sebagai museum hidup tentang bagaimana sejarah besar bisa dikalahkan oleh birokrasi kecil.

Rel sudah membelah zaman. Lokomotif sudah melintasi generasi. Tapi palang pintu itu belum juga tiba.

Baca Juga  Kapolsek Ternate Selatan Jagokan Argentina di Piala Dunia 2026

Mungkin di negeri ini, yang paling lambat bukan kereta api. Melainkan rasa malu. Malu pada zaman yang purba.

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 9/6/2026

No More Posts Available.

No more pages to load.