Rel Pertama, Palang Terakhir

oleh -33 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Persis tengah hari. Matahari Semarang sedang garang-garangnya, seperti mandor proyek yang kehilangan kopi pagi. Di Jalan Cilosari Dalam, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur, sebuah mobil Datsun putih berhenti tepat di rel kereta api tanpa palang pintu.

Tidak ada bunyi sirene dramatis. Tidak ada palang turun perlahan seperti adegan film Korea. Tidak ada petugas meniup peluit sambil berlari-lari panik. Yang ada hanya rel telanjang, jalan lebar mulus, dan nasib yang sedang main lempar dadu.

Lalu dari arah timur, meluncurlah KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya-Jakarta. Jedder! Lokomotif menghantam mobil itu. Untung hanya tersenggol, meski tetap terseret seperti kaleng ditendang anak kampung habis Lebaran.

Mobil ringsek. Lima penumpang selamat. Tiga luka memar. Rumah sakit bekerja. Media datang. Kamera menyala. Warga mengelus dada. Lalu semuanya kembali normal, seperti negeri ini memang punya bakat luar biasa melupakan tragedi sebelum kopi sore diseduh.

Baca Juga  LPAI Maluku Pastikan Pendidikan Korban Kekerasan Seksual Tetap Berlanjut

Padahal ini bukan cerita baru. Bahkan bukan cerita lama. Ini cerita purba yang dipelihara modernitas.

Sebab ironi terbesar justru muncul dari fakta sejarah: Kemijen adalah rahim pertama perkeretaapian Indonesia.

Di desa inilah, pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Sloet van de Beele melakukan pencangkulan pertama jalur rel kereta api di Nusantara. Dari tanah inilah kereta modern mulai melaju pada 10 Agustus 1867.

No More Posts Available.

No more pages to load.