Resmikan GBI Grace Family Home, Kakanwil Ajak Umat Kristen Ramaikan Gereja

oleh -56 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Maluku, Fesal Musaad turut hadir ikut serta meresmikan gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Grace Family Home di kawasan Kelurahan Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Jumat (13/12).

Peresmian atau pentahbisan gedung gereja ini ditandai dengan penandatanganan batu prasasti dan pengguntingan tali pita secara bersamaan oleh Kakanwil Kemenag Maluku, Walikota Ambon yang diwakili Sekretaris Kota (Sekot), A.G Latuheru,  Ketua Umum Sinode GBI, dan Ketua GBI Maluku, Pdt. Redly S. Pitna.

Turut mendampingi Kakanwil saat peresmian gedung gereja dua lantai dengan luas bangunan 12 x 36 bujur sangkar itu, Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Kemenag Maluku, Nansij Latuheru.

Kakanwil melalui kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih serta penghargaan kepada panitia pembangunan, karena dengan berbekal semangat dan iman, gedung gereja ini akhirnya diresmikan.

Link Banner

“Semoga bisa membawa warna bagi kehidupan warga kota Ambon, Maluku dan Indonesia,” harapnya.

Menurut Kakanwil, momentum peresmian gereja ini terbilang sangat spesial, terlebih bertepatan dengan suasana natal dan menyambut tahun baru 2020.

Baca Juga  Lamban ditangani, LIRA Maluku bawa 2 kasus korupsi ke Mabes  Polri

“Selamat natal dan menyambut tahun baru. Semoga kita semua terus berkemampuan menebarkan kedamaian kepada siapapun, kapanpun atau dimanapun tanpa mengenal sekat dan batas,” ucapnya.

Secara singkat, GBI Grace Family Home dimulai pada 31 maret 1996 dengan nama GBI Jamaat Anugerah, dimana proses peribadatannya berlangsung pada bekas gedung bioskop di jalan dr. Setia Budi Nomor 42 Ambon dari tahun 1996 – 2019.

Kakanwil menegaskan, bahwa pembangunan gereja ini bukan dilihat sebatas sarana fisik semata, akan tetapi pada hakikatnya adalah membangun jemaat.

“Kalau membangun jamaat akan bermuara pada peningkatan kualitas dan mutu umat Kristiani melalui gedung gereja. Kegiatan membangun gereja dan membangun jamaat atau memakmurkan gereja itu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jadi membangun sarana fisik dan memakmurkan gereja itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain,” jelasnya.

Kakanwil mengatakan, yang terpenting adalah bagi para pemuka agama dan lebih khusus para pimpinan majelis-majelis gereja untuk selalu mengajak seluruh umat kristiani kembali ke gereja. “Kalau kembali ke gereja maka umat kristiani akan bersatu, kokoh dan kuat. Kemudian gereja akan menjadi benteng persatuan dan kesatuan antar umat beragama, gereja menjadi benteng perdamaian, benteng toleransi dan kerukunan,” cetusnya.

Baca Juga  BJ Habibie Meninggal Dunia

Para tokoh agama dan para pimpinan gereja juga diminta perlu merenungkan untuk mengembalikan esensi agama ke tempat seharusnya, yaitu memanusiakan manusia. Sebagai contoh ajaran cinta kasih dari agama Kristen dan Islam dengan rahmatan lil alamin.

Cinta kasih, dinilai Kakanwil, adalah ajaran moderat yang bisa mengantarkan dan membawa kedamaian bagi bangsa Indonesia. “Semua agama di dunia ini membawa pesan kedamaian, hidup rukun dan saling menebar kasih. Prinsip ini betul-betul dijunjung tinggi oleh umat Kristen. Maka, marilah kita menjadi umat beragama yang baik, yang senantiasa menebarkan kedamaian kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun tanpa mengenal batas agama maupun negara,” tandasnya.

Ketua panitia, Semy Letelay dalam laporannya mengungkapkan bahwa dari pergumulan yang cukup panjang, jamaat gereja ini punya kerinduan dan visi dari gembalanya untuk memiliki gedung agar umat bisa beribada dengan tenang.

Baca Juga  BMKG: Waspadai Cuaca Buruk Dua Hari ke Depan, Termasuk di Malut

Bertolak dari kebutuhan jamaat untuk tersedianya tempat ibadah yang memadai, aman dan nyaman inilah, maka dalam rancangan awal pembangunan gedung gereja tersebut telah dirancangkan anggaran sebesar kurang lebih 1,8 M yang diperuntukan untuk bangunan dua lantai. Lantai pertama untuk kantor dan lantai dua untuk tempat ibadah.

“Dalam situasi perekonomian yang begitu sulit, kami merasakan bahwa tangan Tuhan bekerja sungguh sangat luar biasa dalam proses penyelesaian gedung gereja ini,” akuinya.

Letelay menambahkan, panitia gereja ini dibentuk pada tahun 2015 dan mereka telah bekerja kurang lebih 4 tahun.

“Dalam perjalanan kita mendapat tantangan yang luar biasa. Namun berkat pemerintah, swadaya dari para jamaat secara spontanitas, dana secara fisik bisa terkumpuk kurang lebih 2,6 M lebih dan akhirnya gedung gereja ini bisa selesai,” pungkas Letelay. (red/angel)