Ribuan Warga Jerman Berdemo Tolak Pakai Masker, Politikus Sebut “Covidiot”

oleh -44 views
Link Banner

Porostimur.com | Berlin: Ribuan orang berunjuk rasa di Berlin untuk menentang peraturan pemerintah dalam membendung penyebaran virus corona, Sabtu (1/8/2020).

Mereka memprotes bahwa peraturan pemerintah tersebut melanggar hak-hak dan kebebasan masyarakat sebagaimana dilansir dari Reuters, Sabtu.

Aksi tersebut dihadiri sekitar 17.000 orang yang terdiri atas loyalis konstitusional dan aktivis anti-vaksin.

Ada juga sekelompok kecil kelompok sayap kanan yang membawa bendera kekaisaran Jerman. Para pengunjuk rasa meneriakkan “Kami adalah oerang bebas!”

Link Banner

Selain itu beberapa di antara mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan “Kami bersuara karena Anda mencuri kebebasan kami!”

Ada juga yang membentangkan spanduk bertuliskan “Jangan berpikir! Jangan memakai masker!”

Seorang pengunjuk rasa yang menolak menyebutkan namanya mengatakan mereka menuntut untuk kembali ke demokrasi.

“ Masker yang memperbudak kita harus dienyahkan,” kata salah satu pengunjuk rasa itu.

Baca Juga  Nikijuiluw, kedepankan ”kerja untuk rakyat”

Protes tersebut juga menanggapi seruan pengusaha Michael Ballweg yang menginisiasi aksi serupa di Stuttgart sebelumnya.

Pihak kepolisian menyatakan mereka tidak menjaga jarak saat aksi unjuk rasa berlangsung.

Politikus dari Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) Saskia Esken menyebut mereka sebagai “covidiots”.

“Mereka tidak hanya membahayakan kesehatan kita, mereka juga membahayakan kesuksesan penanganan pandemi virus corona,” tulis Esken di akun Twitternya.

Kini angka infeksi Covid-19 di Jerman naik lagi setelah dianggap berhasil membendung penyebaran virus corona.

Baca Juga  Yonif RK 732/Banau Pos Alang Asaude Terima Penyerahan Senpi Dari Warga

Lebih dari 200.000 kasus positif Covid-19 dilaporkan dengan jumlah kematian hampir menyentuh angka 1.000 kematian.

Sebagian besar orang di Jerman menghormati protokol kesehatan yang diberlakukan seperti mengenakan masker di toko-toko.

Sementara itu pemerintah baru saja melakukan tes wajib bagi wisatawan yang kembali dari daerah berisiko tinggi.

Namun ada saja minoritas yang vokal menentang protokol kesehatan dan aturan dari pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona.

Salah satu pengunjuk rasa, Peter Konz, mengklaim bahwa mereka yang memiliki pandangan berbeda akan dibungkam, disensor, atau didiskreditkan sebagai pembela teori konspirasi. (red/rtm/kcm)