Risiko Penggumpalan Darah Bayangi Pasien Virus Corona

oleh -134 views
Link Banner

Porostimur.com | Rhode Island: Saat virus Corona COVID-19 menginfeksi tubuh, terlihat beberapa gejala pernapasan yang menyerang tubuh, salah satunya pneumonia. Tetapi, kini ada bahaya baru yang mengintai para pasien, yaitu penggumpalan darah.

Para dokter mulai memperhatikan fenomena penggumpalan darah tersebut, yang lebih sering terjadi pada pasien yang terinfeksi virus. Gumpalan ini banyak juga ditemukan pada pasien Corona usia muda, yang bisa menyebabkan stroke hingga kematian mendadak.

“Kami melihat adanya pembekuan darah dalam tubuh pasien ini, yang sebelumnya belum pernah kami temui. Mungkin fenomena ini mulai muncul satu atau dua bulan terakhir,” kata Mitchell Levy, kepala perawatan paru-paru dan obat tidur di Warren Albert School of MedicineMedicine, Rhode Island, Amerika Serikat

Baca Juga  Personil Polda Maluku Terima Penghargaan dari Kapolda

Penggumpalan darah ini bisa terjadi di mana saja, seperti jantung, hati, dalam kateter arteri pasien, dan filter yang mendukung gagal ginjal. Tetapi, yang dianggap paling parah jika terjadi di paru-paru.

Mengutip dari Fox News, itu bisa menghambat aliran darah. Selain itu, seorang profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Yale, Margaret Pisani, mengatakan kondisi ini juga bisa membuat pasien Corona kekurangan oksigen.

Hooman Poor, ahli paru-paru di Rumah Sakit Mount Sinai di New York mengatakan bahwa pada 14 pasiennya yang menggunakan ventilator, darahnya tidak mengalir dengan baik melalui paru-paru. Hal itu dipastikannya terjadi karena adanya penggumpalan darah.

“Saya merasa semua pasien COVID-19 mengalami penggumpalan darah di paru-paru mereka,” katanya.

Baca Juga  Gembong pengolah batu cinabar dibekuk Ditreskrimum Polda Maluku

Gumpalan darah yang terjadi pada paru-paru juga bisa menyebabkan tekanan yang luar biasa pada jantung, akibatnya henti jantung bisa terjadi. Edwin van Beek, Ketua radiologi klinis di Queen’s Medical Research Institute, Edinburgh University, mengatakan hal ini banyak terjadi pada pasien yang dirawat menggunakan ventilator. (red/rtm/dtc)