Rizieq Shihab, Facebook, dan Saya

Oleh: Made Supriatma

Peneliti Politik dan Militer

Seperti apakah hidup tanpa media sosial? Itulah pertanyaan yang saya refleksikan setelah Facebook membekukan akun saya.

Harus saya akui, saya tergantung pada media sosial untuk beberapa hal. Saya mendapatkan berita-berita tentang Indonesia dari kawan-kawan saya di Facebook. Saya bergaul dan saling menyapa di sana; mengucapkan selamat untuk apa saja, mulai dari ulang tahun, hari raya, hingga kelahiran anak.

Media sosial menjadi sarana untuk bergaul orang-orang perantauan seperti saya. Selain itu, saya juga bisa menyampaikan pikiran-pikiran saya. Karena secara profesional saya adalah seorang peneliti politik, maka apa yang saya sampaikan adalah soal-soal sosial dan politik. Kadang, saya juga tidak bisa menyembunyikan preferensi politik saya, sekalipun untuk itu sesekali saya harus berdebat dan mungkin membuat beberapa orang marah dan kecewa.

Tapi itulah dunia media sosial. Semua orang boleh berpartisipasi, meski tidak semua orang dibekali dengan kemampuan yang sama, baik kemampuan memberikan informasi maupun kemampuan mengunyah informasi. Tidak jarang media sosial menjadi sumber percekcokan. Bahkan, kadang orang tidak bisa mengontrol emosinya di sana.

Akhir-akhir ini, saya mengalami beberapa kejadian janggal. Beberapa postingan saya di Facebook dikenai teguran karena dianggap menyalahi ‘standar komunitas.’ Facebook membuat sebuah ukuran sendiri apa yang boleh diunggah dan apa yang tidak boleh.

Facebook mengklaim memiliki semacam ‘standar moral’ untuk penggunanya. Pengguna tidak boleh memakai serambi Facebook untuk mendukung organisasi kriminal atau pelaku kekerasan; tidak boleh mengancam orang lain; menargetkan seorang atau suatu kelompok; ujaran kebencian; konten grafis yang berisi kekerasan atau penggambaran penyerangan secara seksual; dan menjual narkoba.

Kita tahu semua standar itu. Namun, yang kita tidak tahu adalah batasannya. Ambillah contoh gambar yang memuat penyerangan secara seksual. Apakah penyerangan seksual secara verbal masuk dalam standar itu? Juga beberapa kali saya mengalami bahwa saya diingatkan gambar yang saya posting dikatakan memuat ketelanjangan (nudity). Bahkan, saya pernah kena tegur hanya karena membagi tulisan yang berbunyi “I don’t need sex because the government fuck me every day.” Tuduhannya adalah saya menyebarkan ‘sexual content.’

Tuduhan Facebook itu menurut saya agak berlebihan. Saya berusaha melakukan protes, tetapi tidak pernah ada jawaban. Kemudian, muncul beberapa kejadian yang akan saya uraikan di bawah ini, yang membikin akun Facebook saya dibekukan.

Namun, pertama-tama, persoalannya bukanlah sekadar pembekuan akun. Pembekuan akun ini membuat saya mempertanyakan, siapa sesungguhnya yang menetapkan ‘standar komunitas’ Facebook itu? Kedua, sesuai dengan pengalaman saya, mengapa Facebook melarang penayangan gambar satu orang, yaitu Rizieq Shihab, dan bukan yang lain?

Kedua persoalan ini, menurut saya, sudah masuk ke dalam wilayah kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Pelarangan penayangan gambar seseorang, yang kebetulan memiliki sikap politik yang berseberangan dengan pemerintah yang sedang berkuasa, mengundang berbagai macam spekulasi. Adakah Facebook melakukan ini karena melayani kepentingan politik mereka yang sedang berkuasa?

Yang Terlarang di Facebook

Sebulan yang lalu saya melihat sebuah Petisi di change.org. Petisi itu pendek saja. Isinya meminta pemerintah untuk tidak memperpanjang izin untuk Front Pembela Islam (FPI). Alasannya pun sangat dangkal. Menurut inisiator petisi ini, FPI tidak layak diperpanjang izinnya karena “FPI merupakan kelompok radikal, pendukung kekerasan, dan pendukung HTI.” Petisi ini dengan cepat menjadi populer dan mengundang banyak orang menandatangani.

Namun, tidak lama kemudian, ada petisi lain yang isinya sangat bertolak-belakang. Petisi ini mendukung FPI. Petisi tersebut berargumen bahwa FPI telah berkontribusi secara positif untuk masyarakat seperti membantu bencana alam. Itulah sebabnya eksistensi FPI harus didukung dan Menteri Dalam Negeri harus memperbaharui izin FPI.

“Ada upaya dari kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk menghentikan organisasi ini. Bantu FPI untuk selalu ada disaat masyarakat membutuhkan bantuan,” demikian kata petisi ini.

Kedua petisi ini berlomba menarik dukungan. Petisi yang meminta agar izin FPI tidak diperpanjang dengan cepat mendapat dukungan. Hingga saat ini, tercatat hampir 500 ribu orang mendukung petisi tersebut. Yang menarik untuk saya adalah karena petisi pendukung FPI yang juga cepat mendapat dukungan, walau akhirnya berhenti di angka sekitar 200 ribu.

Saya menulis kompetisi dua petisi ini di laman Facebook saya. Saya hanya ingin menujukk,kan bahwa besarnya dukungan terhadap petisi pro-FPI menunjukkan bahwa organisasi ini memang memiliki basis dukungan di masyarakat. Dalam posting tersebut saya menyertakan gambar Rizieq Shihab yang menurut saya sangat bagus.

Hanya dalam berapa jam, Facebook menghilangkan posting tersebut dengan alasan bahwa gambar yang saya tampilkan melanggar ‘standar komunitas.’ Saya berusaha menampilkan kembali. Akibatnya saya dihukum tidak boleh melakukan posting selama 24 jam.

Tidak lama kemudian, saya kembali mendapat peringatan dari Facebook. Ada sebuah postingan saya di tahun 2016 tentang generasi baru para akvitis dari Papua dianggap melanggar standar komunitas. Pasalnya adalah saya menyertakan gambar sebuah demonstrasi yang diorganisir organisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Dalam demonstrasi itu, tampak beberapa orang mengenakan koteka, pakaian khas Papua.

Postingan tersebut dikatakan melanggar standar komunitas Facebook dan saya didakwa telah menyebarkan gambar-gambar telanjang (nudity).

Tentu, sebagai orang yang tahu sedikit tentang Papua, saya melakukan protes. Argumen saya, bagaimanapun koteka adalah bagian dari kebudayaan bangsa Papua. Facebook harus belajar untuk tidak menghakimi kebudayaan bangsa Papua dengan standar moralitas Victorian atau standar moral yang menganggap diri lebih superior.

Seperti yang sudah-sudah, protes tersebut berlalu begitu saja. Facebook tidak mendengar, juga tak bersuara.

Kejadian ketiga adalah yang paling fatal. Sebuah postingan saya pada bulan Januari 2017 dianggap, lagi-lagi, menyalahi standar komunitas. Lagi-lagi, postingan tersebut adalah tentang FPI. Saya mengomentari kejadian yang saya anggap lucu, yakni FPI akan melakukan protes ke kantor Twitter di San Fransisco!

Pasalnya, akun FPI dibekukan oleh Twitter karena organisasi ini dianggap sering melakukan keonaran. FPI menyerukan Aksi 271 (27 Januari) di kantor Twitter. Saya menyertakan sebuah poster (atau mungkin juga même?) seruan aksi tersebut. Poster itu didominasi oleh wajah Rizieq Shihab, pemimpin FPI.

Penayangan poster ini berakibat fatal untuk akun Facebook saya. Secara tiba-tiba, ia tewas. Saban saya mengakses akun itu, saya diberitahu bahwa akun ini sudah dilumpuhkan (disabled). Seakan seorang pendosa, saya diminta untuk melihat standar komunitas Facebook.

Dari beberapa teman, saya ketahui bahwa saya tidak sendirian. Media Anda ini pernah memuat sebuah berita yang judulnya “Ketika Rizieq Shihab ‘Hilang’ di Facebook.” 

Dihilangkan oleh Siapa?

Ketika mengalami teguran berulang kali itu, saya sudah bertanya-tanya, ada apa gerangan antara Facebook dengan Rizieq Shihab? Hingga saat ini, saya tidak menemukan jawabannya. Menurut saya, ini sangat aneh. Sejauh yang saya tahu, Rizieq Shihab tidak pernah membuat persoalan dengan Facebook.

Beberapa teman menyodorkan jawaban. Ada yang mengatakan bahwa unggahan-unggahan yang mendapatkan teguran dari Facebook ini terjadi karena ada yang melaporkan. Facebook hanya menindaklanjuti laporan pengguna yang lain.

Saya tidak terlalu yakin dengan argumen ini. Seberapa banyakkah orang yang iseng dan menyelisik postingan saya hingga beberapa tahun ke belakang, mengeluhkannya ke Facebook, yang pada gilirannya memberikan teguran kepada saya? Seberapa banyak keluhan yang diterima oleh Facebook sehingga sebuah postingan layak ditegur?

Ada juga argumen yang mengatakan bahwa ini adalah kerjaan dari artificial intelligence (AI) yang dimiliki oleh Facebook.

Saya juga tidak terlalu yakin dengan argumen ini. Pertama, AI ada karena diprogram. Artinya, harus ada programmer yang menentukan bahwa Rizieq Shihab adalah hal yang terlarang di Facebook. Mengapa? Inilah yang tidak pernah diungkap oleh Facebook dan mungkin tidak akan pernah. Saya berusaha mencari jawaban yang masuk akal ihwal kaitan antara Rizieq Shihab dengan Facebook. Dan, hingga saat ini tidak ada satu pun yang saya dapati. Namun, ada hal yang mungkin masuk akal, yakni jika memasukkan faktor kekuasaan.

Kita tahu bahwa satu-satunya yang memiliki masalah dengan Rizieq Shihab adalah penguasa. Mungkinkah Facebook melayani tekanan pemerintah untuk menghilangkan gambarnya dari platform mereka? Facebook tidak akan pernah berterus terang akan hal ini. Namun, pengalaman dari berbagai negara menyatakan bahwa Facebook tunduk kepada tekanan pemerintah. Sensor dari Facebook bukanlah sesuatu yang asing.

Tidak hanya itu saja. Sebuah laporan dari Intercept, sebuah media investigasi, memberitakan bahwa Facebook menuruti keinginan pemerintah Amerika Serikat dan Israel untuk menghapus akun-akun yang dianggap merugikan pemerintah kedua negara ini. Beberapa negara menekan Facebook untuk melayani kepentingan pihak yang berkuasa dan melakukan penyensoran akun-akun yang menentang pemerintah.

Di sinilah saya kira persoalannya menjadi penting. FPI bukanlah organisasi terlarang. Rizieq Shihab, hingga saat ini, belum terbukti melakukan tindak kriminal. Sebagai pengamat politik, saya tahu bahwa pemerintah tidak berani membubarkan FPI yang pengaruhnya sudah telanjur besar.

Sebuah laporan dari Associated Press seminggu lalu menggambarkan bagaimana FPI bekerja di wilayah-wilayah bencana. FPI bergerak cepat di wilayah bencana untuk membantu mereka yang tertimpa kemalangan, lebih cepat dari pemerintah dan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang lain. Tidak heran bahwa FPI pada saat ini adalah satu-satunya organisasi yang memiliki basis massa. Mendiskreditkannya atau melakukan sensor terhadapnya tidak akan mengurangi pengaruhnya di lapisan massa rakyat bawah.

Saya bukan pengikut Rizieq Shihab atau FPI. Dalam banyak hal, saya tidak setuju dengan ideologi mereka. Namun, kejadian seperti penghilangan gambar Rizieq Shihab dari Facebook untuk mengurangi pengaruhnya juga tidak bisa diterima. Ini adalah masalah kebebasan berekspresi. Sekarang Rizieq Shihab yang disensor, besok mungkin soal lain yang berseberangan dengan kepentingan pemerintah.

Akhirnya, ketika hampir menyelesaikan tulisan ini, sebuah email masuk ke akun saya, email dari Facebook. Isinya tidak mengherankan saya. Facebook menyatakan, “We’ve determined that you are ineligible to use Facebook” (Kami sudah memutuskan bahwa Anda tidak memenuhi syarat untuk menggunakan Facebook).

Saya nyengir. Dengan sekian banyak followers, sesungguhnya saya sudah ikut memberi makan perusahan ini. Dan saya memutuskan untuk menutup buku dengan Facebook. Dengan jari tengah ke atas.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. sumber: tirto.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: