Romo Kodok

oleh -289 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma,Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Tahun 1970-80 adalah jaman pastur-pastur Katolik di berbagai belahan dunia mulai bangkit. Konsili Vatikan II membawa perubahan besar di dalam gereja. Namun perubahan lebih besar lagi ternyata terjadi di luar gereja.

Salah satu perubahan mendasar dalam ajaran gereja adalah pengakuan adanya keselamatan di luar gereja. Gereja Katolik tidak menjadi satu-satunya sumber kebenaran.

Kalau dipahami secara mudah, kini surga tidak hanya untuk orang Katolik saja. Orang-orang yang diluar iman Katolik juga bisa masuk surga. Itulah gambaran kasarnya.

Link Banner

Sementara di luar gereja, revolusi kebudayaan meletus. Generasi bunga tumbuh. Protes anti perang dan protes-protes meminta persamaan di antara umat manusia bermunculan. Dekolonisasi dipercepat.

Rasisme yang dulunya diterima sebagai normal sekarang menajdi terkutuk. Gerakan-gerakan emansipasi tumbuh cepat. Orang dengan serius berbicara tentang apartheid. Juga bicara tentang patriarki yang meniadakan hak-hak kaum perempuan, misalnya. Orang juga berbicara diskriminasi dalam orientasi seksual.

Revolusi bunga juga melanda gereja. Dia membawa revolusi tersendiri dengan banyaknya imam, biarawan/biarawati yang menanggalkan jubah. Bahkan mereka tidak hanya meninggalkan gereja. Mereka sekaligus meninggalkan agama. Inilah revolusi sekularisme di dunia kapitalis Barat.

Itu khususnya terjadi terutama di Eropa. Dalam tingkat tertentu exodus ini juga terjadi di Amerika Serikat. Namun, Gereja Katolik Amerika akhir menemukan jalan keluar: beraliansi dengan kaum konservatif yang anti dengan revolusi bunga yang digerakan oleh kaum liberal-progresif. Gereja Katolik Amerika lebih dikenal karena gerakan anti-aborsi ketimbang gerakan-gerakan keadilan sosial dan anti-perang yang dilakukan para imam, suster, dan awam yang progresif.

Di luar arus kuat sekularisme ini, gereja-gereja Katolik mulai mencari jati diri. Gereja Eropa yang dulu sangat dominan sekarang runtuh.

Di Eropa Timur, dimana kaum Komunis berkuasa, para imam mulai mencari cara untuk meruntuhkan Komunisme. Puncaknya terjadi pada 1989 dengan runtuhnya Tembok Berlin. Sebelas tahun sebelumnya, seorang kardinal dari Polandia terpilih menjadi Paus. Dia adalah Karol Wojtyla yang kemudian menjadi Yohanes Paulis II.

Pada saat yang bersamaan, di Amerika Latin, juga muncul gerakan-gerakan dari bawah yang dimulai oleh imam serta biarawati Katolik. Mereka melakukan perlawanan terhadap rejim-rejim otoriter.

Baca Juga  Tips Menggunakan Pleated Pashmina yang Kekinian agar Tetap Nyaman dan Stylish

Bahkan lebih jauh lagi, mereka merumuskannya dalam bentuk teologi yang bernama “Teologi Pembebasan.” Mereka menawarkan metode praksis untuk membebaskan manusia tidak saja secara spiritual namun juga secara politik dan ekonomi. Tidak mungkin ada pembebasan manusia secara spiritual bila mereka terbelenggu oleh struktur politik dan ekonomi yang menindas.

Maka tugas para imam dan gereja adalah melakukan ‘conscientization’ alias penyadaran akan situasi sekeliling. Umat diajak untuk melihat situasi opresif disekelilingnya dalam kacamata kitab suci (teologi).

Hasilnya adalah sebuah proses radikalisasi di tingkat akar rumput untuk melawan hegemoni kaum militer yang didukung oleh tuan-tuan tanah atau kelas bisnis yang mahakuasa. Gereja membayar mahal keberpihakan terhadap kaum miskin dan tertindas ini. Banyak imam yang diculik, disiksa, dan dibunuh.

Ketegangan antara pejabat gereja (uskup, kardinal, dan bahkan Paus) tidak terhindarkan. Bagaimana pun juga, para klerus ini harus berbaik-baik dengan para penguasa. Sementara para imam dan biarawati/wan yang bergerak di akar rumput terlanjur mengalami radikalisasi.

Ketegangan ini terlihat saat kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Nikaragua. Di sana ada seorang imam sekaligus penyair, Ernesto Cardenal yang sangat terlibat dalam perjuangan revolusioner. Dalam sebuah foto yang sangat terkenal, Paus memarahi Romo Ernesto karena keterlibatan sosialnya.

Akhirnya, pada 1984, Paus menangguhkan imamat Rm. Ernersto Cardenal dan beberapa imam lainnya seperti Rm. Fernando Cardenal, SJ (seorang Jesuit dan saudara kandung Ernesto), Rm. Miguel D’Escoto (ordo Maryknoll), dan Rm. Edgar Parrales.

Ketegangan terjadi dimana-mana. Di Argentina, seorang provinsial Jesuit bernama Jorge Mario Bergoglio, pada awalnya sangat anti dengan teologi pembebasan. Dia kemudian mengalami “pertobatan” ketika imam-imam muda Jesuit yang bekerja di kampung-kampung kumuh menghilang dan ternyata dibunuh oleh pemerintah Junta Militer di negara itu.

Jorge Mario Bergoglio kemudian menjadi Paus Fransiskus dan dialah yang merestorasi imam-imam yang imamatnya ditangguhkan oleh pendahulunya itu.

Saya merasa perlu menjelaskan ini panjang lebar karena pengaruh ide-ide pembebasan ini juga masuk ke Indonesia pada masa-masa itu. Sekalipun gereja Katolik sangat kuat dipengaruhi konservatisme dan sangat takut untuk melawan rejim Suharto, beberapa imam dan biarawati sangat aktif bergerak di tingkat akar rumput.

Baca Juga  Polres Halbar Bagi Sembako di 5 Desa

Mereka bekerja tanpa mengenal rasa takut. Mereka mengorganisasi siapa saja yang berjuang menuntut keadilan. Mereka tidak bekerja untuk orang Katolik saja. Tujuannya tidak untuk mengkatolikkan orang namun mempraktekkan apa yang menjadi ajaran imannya. Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang.

Dan persis seperti di Amerika Latin, disini pun terjadi ketegangan-ketegangan. Namun, saat itu, Gereka Katolik Indonesia cukup tahu diri. Mereka tidak melarang gerakan-gerakan ini sambil tetap menjaga hubungan baik (kalau tidak bisa dikatakan: berselingkuh) dengan pemerintahan militer Orde Baru.

Semua penggambaran diatas adalah masa lalu. Jorge Mario Bergoglio sudah menjadi Paus. Sejak dia menjadi Paus, dia mengeluarkan ajaran-jaran yang cukup progresif. Banyak pujian diberikan kepada paus ini. Para pendengar dan pemujanya bisa berurai air mata karena bersyukur memiliki seorang Paus yang progresif.

Kecuali bahwa progresifisme dari atas ini punya problem yang sangat besar dan akut. Orang menjadi teduh karenanya namun tidak bertindak apapun. Ajaran-ajaran ini meletakkan tempat gereja di tengah ajaran progresif namun gagal menginspirasi gerakan besar untuk perubahan.

Dengan kata lain, gereja menjadi sangat progresif di tingkat hirarki namun menjadi hilang arah di tingkat akar rumput.

Berlawanan dengan teologi pembebasan yang lahir dari bawah, ajaran-ajaran progresif ini dikotbahkan. Dia tidak ditemukan oleh refleksi di tingkat komunitas. Dia tidak digali dengan metodologi untuk beraksi (praxis) sebagaimana metode teologi pembebasa.

Ia diterima sebagai doktrin dan diamalkan seperti kita mengamalkan P4 — kita ikut penataran, kita berdebat dan tidak tahu apa yang kita perdebatkan, dan kita lupa sesudahnya.

Saat ini gereja juga hidup dalam gelombang revolusi sosial dan kultural yang luar biasa hebatnya. Dalam politik terjadi revolusi populisme kanan. Dalam ekonomi terjadi penguatan kekuasaan ekonomi (dan politik) orang-orang kaya, yang konsentrasi kekayaannya bertambah terus menerus. Masyarakat manusia juga mengalami tsunami informasi.

Dalam situasi ini, gereja kehilangan arah. Imam-imam berlomba menjadi spiritualis — yang nyaris tidak bisa dibedakan dengan para motivator. Hasilnya adalah umat yang termotivasi mencari untung dan lupa Tuhan. Teologi mereka adalah teologi sukses — kalau bisa kaya raya di dunia dan kalau mati masuk surga juga. Ini adalah teologi tidak bisa rugi.

Baca Juga  Belanja Jor-joran, Kini Saatnya Real Madrid Jual Pemain

Sebagian lain berusaha menjadi spiritualis murni. Berdoa, bermeditasi, dan mencari kedamaian dalam hening dan menutup diri dari dunia. Hasilnya adalah dunia tenang dan damai untuk diri sendiri.

Yang lain berusaha menjadi komedian, bersusah payah menyisipkan ajaran iman diantara gelak tawa. Umat tertawa senang. Dan tidak peduli apakah mereka ingat Tuhan dan sesamanya atau tidak.

Ada juga yang memacak diri dengan pakaian-pakaian adat. Tampil nyentrik dengan ikat kepala dan kain. Sehingga susah membedakan antara seorang imam dengan seorang dukun.

Saya tidak melihat semua ini sebagai sesuatu yang salah. Mungkin jaman ini memerlukan tipe-tipe imam yang seperti ini.

Namun ada tipe imam Katolik yang lain, yakni mereka yang menjadi politisi tanpa mengaku sebagai politisi. Mereka menjual kredensial imamatnya untuk memajukan kepentingannya sendiri. Dia menjadi sangat partisan — membela yang kaya dan berkuasa.

Dia mungkin masih bisa mendaraskan “magnificat” — deposuit potentes de sede et exaltavit humiles (Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah hati). Namun itu hanya sebagai pemanis politiknya.

Inilah yang saya sebut sebagai Romo Kodok, yang bernyanyi ketika hujan dan banjir, hanya untuk membuat junjungannya bersinar. Maafkan sarkasme ini. Tapi demikianlah adanya.

Lalu apa yang hilang di jaman ini? Yang hilang adalah imam-imam yang bekerja dari akar rumput. Yang menemukan imannya dari bawah. Yang berjuang untuk keadilan semata-mata untuk menjalankan imannya.

Mungkin masih ada tipe seperti ini. Hanya saja saya yang tidak mengetahuinya.

Akhir-akhir ini, saya melihat bahwa perjuangan keadilan sosial didalam gereja Katolik justru dilakukan oleh para biarawati. Para suster ini, sekalipun jumlahnya masih kecil, berada pada garis depan. Ini menggembirakan.

Masalahnya adalah Gereja Katolik sangat patriarkis. Perempuan tidak punya kekuatan didalamnya. Kecuali ketika ada masalah. (**)