Rorano dan GPM Klasis Ternate Bikin Pelatihan SAR Laut

Porostimur.com | Ternate: Kecamatan Batang Dua adalah wilayah terluar dari kota Ternate. Terletak di tengah lautan bebas antara Ternate dan Bitung dengan dua pulau utama yakni Mayau dan Tifure.

Penduduk Batang Dua adalah sebanyak 2951jiwa. Terbanyak berada di pulau Mayau dengan empat kelurahan yakni sebanyak 2128 jiwa dan sisanya sebanyak 823 jiwa mendiami dua kelurahan di pulau Tifure.

Jarak tempuh Ternate – Mayau rata rata di atas 4 jam menggunakan speedboat. Dengan kapal atau fery bisa mencapai 8 jam. Penduduk umumnya adalah nelayan dan petani. Transportasi yang digunakan hanya melalui laut. Karena itu potensi kecelakaan di laut sangat tinggi.

Salah satu kecelakaan yang menyisakan trauma adalah hilangnya KM Kairos dengan 18 penumpang pada awal Agustus 2018 dan tidak ditemukan hingga kini.

Menyadari berbagai potensi kerawanan ini, LSM Rorano bekerja sama dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) Klasis Ternate melaksanakan pelatihan SAR laut 25 – 29 November 2019 untuk tim relawan bencana AMGPM di sana. Pelatihapn SAR Laut berlangsung selama dua hari dengan pemateri Rusdin Jasrodi dan Husen Abubakar dari Basarnas Ternate.

Materi yang diberikan antara lain pencarian dan penyelamatan di laut serta pertolongan pertama untuk kecelakaan laut. Selain itu, juga dilakukan simulasi pertolongan di laut jika terjadi kecelakaan berupa perahu motor yang tenggelam. Peserta pelatihan sebanyak 56 orang dari Angkatan Muda Gereja.

Sekretaris Klasis GPM Ternate Pendeta Donny Toisuta mengakui, pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan relawan d Batang Dua. “Mereka sudah kita bekali dengan pengetahuan dan ketrampilan menghadapi ancaman gempa dan tsunami, kali ini ada SAR laut,” kata Donny. GPM menurutnya telah memuat isyu mitigasi bencana dalam rencana induk pengembangan pelayanan dan berlaku untuk semua gereja GPM.

Direktur LSM Rorano, Asghar Saleh menyebut para relawan yang sudah terlatih akan jadi potensi SAR masyarakat yang ada disana. Jika ada kecelakaan atau kehilangan di laut, tim ini akan bergerak duluan sebelum datang bantuan pencarian dan penyelamatan dari Ternate.

Ke depan, model pelatihan berbasis masyarakat ini akan ditingkatkan kapasitasnya sehingga masyarakat sangat siap merespons berbagai ancaman bencana.

Selain pelatihan SAR laut, LSM Rorano juga melaksanakan dukungan psikososial untuk ratusan anak anak yang terdampak gempa bumi pada hari ketiga. Ada juga dengan diskusi terbatas (FGD) dengan perempuan dan lelaki dewasa yang sebagian mengaku masih trauma dengan gempa 7,1 SR pertengahan November lalu.

Tujuan kegiatan ini adalah penguatan kapasitas dan menghilangkan trauma. Caranya dengan berbagi informasi yang benar dan tepat tentang ancaman gempa bumi dan tsunami.

Pada hari ke empat, para relawan bencana AMGPM juga di refresh pengetahuan dan skillnya dalam menghadapi bencana mengingat mereka telah dilatih setahun lalu.

“Kita diskusikan secara terbuka apa saja kekurangan tim saat bencana kemarin dan bagaimana upaya meningkatkan kapasitas agar lebih responsif menghadapi berbagai potensi bencana yang masih mengancam mengingat Batang Dua dikelilingi banyak sekali subduksi lempeng yang bisa memicu gempa besar,” jelas Asghar. (zhulijah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: