Run to Manhattan

oleh -57 views
Link Banner

(Tentang Pala dan Pertukaran Paling Gila)

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

I’ve a cozy little flat in
What is known as old Manhattan
We’ll settle down
Right here in town…

Saya menulis ini sambil lamat-lamat mendengar suara khas biduanita lawas Ella Fitzgerald mendendangkan lagu Manhattan. Penyanyi jazz terkenal berdarah Afrika-Amerika yang punya suara khas ini seolah bertutur tentang kota di tepian sungai Hudson. Dalam lirik-lirik lagu yang lebih mirip prosa ciptaan Lorenzo Hart, potret kemiskinan yang kumuh bertaut dengan ketidakmampuan dua sejoli yang jatuh cinta – terpaksa berkeliling di beberapa tempat yang murah meriah. Lagu ini memang bersetting Manhattan awal 50-an. Ella menyebut kawasan Bronx, Staten Island, Central Park, Coney hingga pedesaan Yonkers.

Berpuluh dekade kemudian, kita mahfum Manhattan hari ini adalah salah satu simbol kedigdayaan Amerika. Di sini, segala “keajaiban” dipertontonkan. Ada Broadway, salah satu ruas jalan paling terkenal di dunia, pusat bisnis uang dan saham Wall Street, Empire State Building yang menggapai langit, Central Park, Harlem hingga markas PBB. Pulau kecil ini adalah bagian dari New York dengan penduduk terpadat. Di sinilah peradaban bermula saat pelayar asal Inggris, Henry Hudson yang bekerja untuk maskapai Belanda datang dan bertemu penduduk asli pada September 1609. Gegara ini, Belanda kemudian mengklaim pulau ini sebagai bagian dari teritorinya dengan nama New Amsterdam.

Link Banner

Jika menatap Manhattan saat ini, Belanda pasti menyesal telah melakukan pertukaran paling gila dalam sejarah perang abad pertengahan. Mundur lebih dari tujuh abad lalu, peradaban Eropa sempat berada di titik nadir saat wabah sampar bergentayangan. Kematian yang berdentam saban hari merenggut nyaris setengah dari populasi. Albert Camus dalam “La Peste” menarasikan tragedi itu sebagai ; kematian bukan lagi apa-apa. Sudah menjadi kelaziman. Tak ada obat untuk sampar. Samar-samar para dokter di zaman Ratu Elizabeth I menyebut bola-bola aromaterapi yang berasal dari pala adalah satu satunya “senjata” melawan pandemi yang mematikan itu.

Di mana mendapatkan pala yang oleh botanis dinamakan myristica fragrans itu?. Tak ada satupun orang eropa yang bisa menjawab asal pala. Karena langka, pala jadi barang paling mewah yang diburu berbagai kalangan. Andrew Borde dalam bukunya Dyetary of Helth menulis tentang khasiat pala; baik untuk mereka yang menderita demam dan menyamankan otak dan mata, membersihkan lambung dan limpa serta menghentikan pendarahan di perut – penyakit turunan disentri yang mematikan.

Para pedagang Inggris saat itu membeli pala secara terbatas dari Venezia Italia. Dari situ, asal pala dan cengkih serta rempah-rempah lain konon dibeli dari pedagang Konstantinopel. Sebatas itu jejak pala. Para pedagang Konstantinopel menyebut mereka mendapatkan pala secara “ghaib” dari sebuah daerah asing bernama “Hindia”. Sebuah tempat di luar lanskap yang lamur. Bisa saja “Hindia” itu ada di bulan. Tak ada di peta. Pelaut Eropa bahkan belum pernah berlayar hingga di daerah-daerah yang lautannya tak bertepi nan ganas dan memiliki iklim tropis. Hindia digambarkan sebagai kawasan seram dengan penghuni para kanibal yang telanjang dan brutal. Banyak ilmu hitam dan nyawa manusia bukan sesuatu yang harus ‘dilestarikan”.

Gegara pala yang dihargai lebih mahal dari sekantung emas, Eropa juga bermetamorfosis dari perang darat ke perburuan kekuasaan di laut. Semula, ekspedisi-ekspedisi dikamuflase sebagai upaya membuktikan bahwa bumi itu bulat. Sebuah upaya sumir karena bumi memang diyakini bulat sebagaimana tafsir kitab-kitab suci. Pada abad ke 5 sebelum Masehi, Plato juga sudah berpendapat; bumi seperti salah satu bola yang berselaput kulit.

Baca Juga  Diserang TPNPB, Satu Anggota TNI Tewas

Lalu penaklukan demi penaklukan yang berkelindan dengan klaim atas tanah – yang penghuni aslinya tak dianggap – diasumsikan sebagai bagian dari kejayaan. Bendera dan simbol negara ditancapkan. Semakin banyak daerah seberang yang semula antah barantah itu ditaklukkan, pamor dan hegemoni sebuah negara makin elitis. Sebagian dari penaklukan itu mengikuti kehendak para borjuis dan elit kekuasaan yang nekat membiayai ekspedisi-ekspedisi laut. Semacam pemaksaan yang melawan rasionalitas sebagaimana gambaran perilaku menurut Arthur Schopenhauer; kehendak buta dan tidak sadarlah yang menentukan manusia, dunia dan sejarahnya.

Portugis dan Spanyol berlomba melaut. Mereka menguasai haluan. Di bagian buritan, Inggris dan Belanda mencoba peruntungan dengan “perahu” yang sama. Ketika Marco Polo menjejak kakinya di dataran Cina pada 1271, orang ramai menulis jika disitulah asal pala. Pedagang Venezia menyamarkan “temuan itu” dengan gambaran pohon cengkih meminjam mata Marco Polo sebagai “pohon kecil dengan daun-daun seperti salam”. Venezia tak ingin kejayaan mereka dalam bisnis pala yang mahal itu direbut kapitalis lain. Para pedagang itu tak tahu jika pala adalah tanaman spesifik yang hanya tumbuh di daerah tertentu.

Hingga dua abad kemudian, sebuah berita mengejutkan datang dari balik lautan yang berkabut. Armada Portugis di bawah komando Antonio de Abreau berhasil mencapai “Hindia” dan bahkan mendapatkan banyak sekali pala, cengkih, kayu manis dan rempah lainnya. Sukses Portugis menguasai Banda, Ambon dan Seram di akhir tahun 1511 dan berlanjut ke Maluku bagian Utara setahun kemudian langsung mengubah peta perburuan pala. Tesis Colombus yang berlayar ke Barat menyeberangi Atlantik pada 1492 dan meyakinkan Raja Spanyol bahwa dirinya mencium aroma rempah-rempah terbantahkan. Colombus nyatanya hanya mencapai tepian Amerika.

Spanyol tak mau kalah. Ferdinand Magelhaens, navigator handal asal Portugis diberi kuasa besar memimpin armada Spanyol berburu daerah asal rempah. Ia berhasil meyakinkan Raja bahwa kepulauan Banda dan Maluku adalah satu-satunya gudang alam untuk pala dan bunga lawang. Bukan sebuah kebetulan jika Magelhaens mendapatkan peta jalan menuju Maluku dari sahabatnya, Francisco Serrao yang ikut bersama armada Portugis. Sejak awal, perburuan ini memang tentang pala. Ada uang, kuasa dan perang yang saling menipu. Sayangnya, Magelhaens mati terbunuh di Filipina dan sisa armadanya hanya mencapai Tidore.

Baca Juga  Gubernur Maluku Ungkap Tarif Angkutan Udara Picu Inflasi

Namun dari catatan Antonio Pigafetta, seorang pencatat yang detil menggambarkan perjalanan perdana armada Spanyol mencapai Maluku itu, Inggris akhirnya mendapat berkah terselubung dan menarik mereka masuk dalam perburuan rempah-rempah. Jurnal Pigafetta diolah kembali oleh Samuel Purchas dalam “Purchas His Pilgrimate” yang kelak menginspirasi kaum borjuis Inggris untuk membiayai ekpedisi ke Maluku. Fokusnya langsung ke kepulauan Banda.

Portugis boleh lebih dulu menguasai Banda dan mendirikan benteng mereka tetapi kelak Belanda dan Inggris lah yang lebih dalam menggoreskan penderitaan. Ketika ekspedisi VOC dipimpin Verhoeven tiba di Banda 22 Mei 1609, rakyat Banda sudah berinteraksi rempah-rempah terutama pala dengan pedagang Inggris. Agar tak pecah perang, dibuatlah sebuah perundingan. Ternyata itu hanya jebakan. Verhoeven yang datang bersama beberapa pasukan disergap dan mati terbunuh. Hanya beberapa Belanda yang lolos. Salah satunya adalah anak muda pedagang rendahan bernama Jan Pieterzoon Coen.

Lebih dari satu dekade kemudian, sejarah dan nasib baik menuntun Coen yang sudah jadi Gubernur VOC datang lagi ke Banda. Ia memimpin armada besar berkekuatan ribuan pasukan untuk menyerang Banda. Membalaskan dendam lamanya. Akhir Februari 1621, armada Coen tiba dan langsung meluluhlantakan kepulauan Banda. Semua yang ada di atas tanah dihancurkan. Kemanusiaan lenyap. RZ Leirissa dan Djuariah Latuconsina dalam “Sejarah Kebudayaan Maluku” mencatat, dampak keji dari pembantaian itu hanya menyisakan seribuan orang Banda dari total populasi saat itu yang mencapai 15 ribu orang.

Belanda menguasai Pulau Neira, Rozengain, Ai, Lontor dan Run. Tetapi sejatinya, pulau Run – satu satunya pulau yang seluruh daratannya ditumbuhi pohon pala dengan kualitas buah terbaik di dunia – juga “dimiliki” oleh Inggris. Adalah Nathaniel Courthope, dengan kapal Swan yang tiba di Run dua hari jelang Natal tahun 1616 yang menandai pulau karang dengan panjang tak lebih tiga kilometer itu sebagai milik Inggris. Run terpisah kurang lebih sepuluh nauticalmile arah barat dari gugusan pulau lainnya. Itulah sebabnya kontrol atas pulau ini sejak masa Portugis agak sulit dilakukan karena ‘di luar jarak tembak” meriam-meriam besar di benteng Belgica.

Perang laut berkisar perebutan pulau Run beberapa kali terjadi. Saling menguasai lalu kemudian lepas. Belanda sempat membabat habis semua pohon pala agar Inggris rugi. Namun tanah Run adalah sepotong surga yang dikirim Tuhan ke tengah lautan ganas itu khusus untuk menghidupi pala. Pesona pala membuat perang berlangsung bertahun-tahun. Run jadi titik sentral perdagangan dan berkaitan langsung dengan perang dan rebutan hegemoni di wilayah lain.

Baca Juga  Kampanye Penggunaan Masker, Jaga Jarak, Dan Hindari Kerumunan, Polres Halsel Gelar Pembagian Masker

Sejak 1665, Belanda dan Inggris terlibat dalam perang Anglo-Dutch. Perang ini bermula tahun 1652 dan kelak baru berakhir seabad kemudian. Di sela perang itu, sejumlah perjanjian damai dibuat. Tapi tak jarang rebutan kuasa dunia membuat damai jadi berantakan. Salah satu perjanjian damai antara Belanda dan Inggris yang kelak merubah sejarah pulau Run dan peradaban dunia adalah perjanjian Breda. Trakat ini ditandatangi pada 31 juli 1667. Isinya antara lain; Inggris mengembalikan pulau Run ke Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan New Amsterdam di pulau Manhattan ke Inggris. Belakangan Inggris menganti nama itu dengan New York.

Perjanjian ini nyatanya lebih menguntung Inggris. Sebelum keluar, mereka mengikuti jejak Belanda dulu dengan membumihanguskan semua pohon pala di pulau Run. Inggris juga sempat membawa bibit pala terbaik dan menanamnya di beberapa negeri jajahan mereka seperti Singapura, Srilangka dan Kepulauan Karibia. Belanda yang menjajah Indonesia selama berabad kemudian harus menerima ironi jika pala tak lagi jadi komoditas unggulan karena sudah tersebar dimana-mana. Pulau Run secara historis juga mengalami kemunduran hebat.

Ketika New York kini jadi megapolitan, Run tak lebih dari sebuah desa di antara gugusan pulau Banda yang secara administratif adalah sebuah kecamatan di wilayah Maluku Tengah. Terpencil dan tak tercatat dalam peta dunia modern. Pala yang dulu jadi rebutan dan alasan perang kini tak lebih dari prasasti beku. Harganya tak lagi melangit. Jika datang ke Banda, banyak benteng akan bersaksi bahwa rebutan kuasa dan penghianatan kemanusiaan hanya menyisakan damai yang terkoyak. Banda dan terutama desa Run kini jauh lebih “hidup” karena orang-orang di sana lebih memilih menikmati damai di batas horizon yang biru sambil melupakan trauma masa lalu. Tak ada penyesalan.

Mungkin mereka – orang orang Banda yang tangguh itu – sadar hidup punya batas. Tak ada yang dibawa saat “pulang”. Dan karenanya “urusan” dunia yang silau dengan rebutan kuasa tak mesti terus didendangkan. “Hidup hanya menunda kekalahan”. Begitu coretan tangan Chairil Anwar dalam puisi “Derai-Derai Cemara” yang kini dinyanyikan kembali oleh kelompok musik Banda Neira.

“Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan. Sebelum pada akhirnya kita menyerah”. (*)