Safari Lapangan Kabalai Wilayah Sungai Maluku Utara: Dari Danau Duma Hingga Pedalaman Kao Barat

oleh -205 views
Link Banner

Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara (Malut), pada Senin (20/7) melakukan safari lapangan ke Kabupaten Halmahera Utara (Halut).

Safari lapangan yang dilakukan selama dua hari tersebut, rombongan BWS Maluku Utara mengunjungi sejumlah lokasi tersebar; Danau Duma, Proyek Rehabilitasi dan Penyempurnaan Unit Air Baku Farm 7 Galela, dan Acara Penyerahan Pekerjaan P3-TGAI, serta kunjungan ke proyek pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi D.I Toliwang menjadi akhir dari safari lapangan BWS Maluku Utara beserta rombongan.

Danau Duma menjadi lokasi pertama kunjungan rombongan BWS Malut. Di lokasi Danau Duma tersebut, sedang diadakan pekerjaan pemeliharaan rutin oleh Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA II.

Tampak alat berat dan sejumlah petugas sedang bekerja melakukan pembersihan permukaan danau yang ditumbuhi enceng gondok, sementara itu Kepala BWS Maluku Utara, Ir. Bebi Hendrawibawa, S.T., MT didampingi oleh Kasie OP, Kasatker OP dan PPK OP SDA II memberikan arahan teknis terkait pekerjaan pembersihan enceng gondok kepada direksi dan pengawas proyek.

“Danau Duma memiliki nilai sejarah dan daya tarik. Danau tersebut, jika dikelola dengan baik, akan memiliki fungsi yang baik untuk ekonomi masyarakat. Namun, pertumbuhan penduduk dengan aktivitas yang tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan resiko—pertumbuhan lahan eceng gondok akibat limbah domestik,” ucap Kepala BWS Maluku Utara.

Danau Duma sebagai danau terbesar di Maluku Utara dengan luas mencapai 410 hektar tersebut, 60 persen telah diselimuti oleh enceng gondok.

Hal ini merupakan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, khususnya pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Utara.

Selain itu, pengaruh antara kerusakan lingkungan dan pertambahan jumlah penduduk juga menjadi konsen daripada Kepala BWS Maluku Utara, “jika lereng-lereng dibangun pemukiman, maka air hujan akan membawa sedimentasi dan itu bisa merugikan ekosistem danau ini. Sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat serta masyarakat Halmahera Utara khususnya masyarakat Galela sangat penting untuk menghadapi persoalan ini.” ajak Ir. Bebi Hendrawibawa, S.T.,M.T.

Menurut ahli mikrobiologi Jubhar, C.Mangimbulude, Ph.D yang juga hadir saat kunjungan rombongan BWS Maluku Utara, Danau Duma juga cukup unik, hal ini dikarenakan danau ini dikelilingi kurang lebih 13 desa, sehingga pembuangan limbah domestik banyak di sini.

“Kita tahu limbah domestik kaya nitrogen dan fosfat, komponen ini adalah komponen yang sangat menyuburkan laju pertumbuhan eceng gondok, kalau kita tidak mengambil langkah untuk mengurangi populasinya, maka dalam waktu lima tahun, seluruh permukaan danau ini kurang lebih 300-400 hektar danau akan tertutupi eceng gondok. Dan implikasi dari yang menutup permukaan danau ini adalah akan mengubah kualitas air itu sendiri,” terang alumnus Universitas Kristen Satya Wacana tersebut.

Balai Wilayah Sungai Maluku Utara sebagai unit pelaksana teknis dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, terus berupaya untuk mengatasi persoalan di Danau Duma, bersama masyarakat, mengatasi masalah di Danau Duma itu. Lambat laun, warga sekitar sudah mulai menjaga. Tak lagi mencuci pakaian menggunakan deterjen di lokasi danau. Sebab, deterjen akan mempercepat pertumbuhan eceng gondok.

Adapun hal yang menarik yang ditemukan dalam kunjungan Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku Utara di lokasi Danau Duma, bahwa persoalan danau Duma tidak hanya terletak pada pertumbuhan populasi enceng gondok saja, melainkan hal yang paling utama ialah penurunan permukaan air Danau Duma.

Baca Juga  Top 9 LIDA, Gunawan Malut Masih Bersaing Rebut Piala Bergilir & Total Hadiah Senilai Rp1 Miliar

Hal ini dijelaskan oleh akademisi dari Universitas Halmahera sekaligus ahli mikrobiologi Jubhar, C.Mangimbulude, Ph.D, bahwa selain enceng gondok, persoalan kualitas air dan kuantitas air Danau Duma juga menjadi perhatiannya. Pihaknya telah melakukan kajian terhadap Danau Duma dan menemukan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Danau Duma telah turun sebanyak 1.5 meter.

“Ketinggian permukaan air yang turun tersebut jika dikalkulasikan dengan luas permukaan danau, maka terdapat 4.6 juta m3 atau 4.6 milyar liter air telah hilang dari Danau Duma,” jelas ahli mikrobiologi tersebut.

Pekerjaan pemeliharaan rutin dari Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA II, BWS Maluku Utara tersebut adalah bagian dari upaya konservasi air dari Kementerian PUPR untuk melakukan revitalisasi Danau Duma dari ancaman penurunan kuantitas dan kualitas air.

“Dalam pekerjaan ini kami berupaya dengan peralatan yang seadanya untuk mengangkat eceng gondok yang menutup permukaan danau, walaupun secara kuantitas belum terlalu signifikan.” tutur Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku Utara.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Halmahera Utara, Samud Taha Sangaji menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Kementerian PUPR, DItjen Sumber Daya Air, khususnya BWS Maluku Utara yang sudah berupaya mengalokasikan anggaran untuk merevitalisasi Danau Duma.

“Kami sebagai pemerintah daerah terus mendukung hal-hal yang memang dilakukan demi mengembalikan keadaan Danau Duma Galela seperti semula, terutama pembersihan eceng gondok yang telah menutupi sebagian besar permukaan Danau Duma,” ucap Samud.

Kelapa muda dan jagung bakar kemudian mengakhiri kunjungan ke Danau Duma siang itu. Safari lapangan rombongan BWS Maluku Utara kemudian melanjutkan perjalanan dari Danau Duma menuju lokasi pekerjaan Rehabilitasi dan Penyempurnaan Unit Air Baku Fram 7 Galela.

Lokasi proyek unit air baku yang diresmikan pada tahun 2016 tersebut kini dalam kondisi kurang optimal dikarenakan faktor alam sehingga dibutuhkan pekerjaan rehabilitasi dan penyempurnaan. Dalam kunjungan tersebut, Kasatker Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan (PJPA), Ir. Idhar Sahdar, S.T.,M.T langsung memimpin rombongan menuju lokasi pekerjaan.

“Pekerjaan ini adalah upaya BWS Maluku Utara untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan infrastuktur Air Baku guna melayani kebutuhan air di Galela khususnya di desa desa yaitu ngidiho, Limau dan Desa Lolonga.” ujar Kasatker PJPA.

Beberapa item pekerjaan ini meliputi pekerjaan jalan inspeksi, pekerjaan intake, pekerjaan bak saring dengan kapasitas 42m3, pekerjaan jaringan pipa, pekerjaan perbaikan reservoir berkapasitas 350m3. Ir. Idhar Sahdar, S.T.,M.T menjelaskan bahwa pekerjaan ini nantinya akan berdampak langsung kepada masyarakat, yang mana air baku yang ditampung dapat disalurkan kepada masyarakat untuk keperluan sehari-hari. “pekerjaan unit air baku Fram 7 Galela ini akan melayani 430 kepala keluarga dengan output 1.497 meter dan outcome sebesar 0,03 m3/dtk.” jelas Kasatker PJPA.

Kunjungan ke Fram 7 Galela berlangsung singkat. Sementara itu, hari telah gelap dan rombongan BWS Maluku Utara pun kemudian bertolak ke Kota Tobelo untuk beristirahat sembari mempersiapkan kehadirannya di acara serah terima pekerjaan P3-TGAI di Kecamatan Kao Barat.

Baca Juga  Anggaran Habis Puluhan Miliar, Jalan Sayoang -Yaba Kini Rusak Parah

Selasa (21/7), tarian cakalele menyambut rombongan BWS Maluku Utara dan Bupati Halmahera Utara di Desa Margomulyo, Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara.

Tarian perang itu telah berevolusi menjadi tarian penyambutan dalam acara “Penyerahan Pekerjaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahap I Wilayah Sungai (WS) Halmahera Utara. Acara tesebut juga dilangsungkan bersamaan dengan “Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Antara PPK OP SDA 2 dengan Kelompok Penerima P3-TGAI Tahap II WS Halmahera Utara” tahun anggaran 2020.

PT3GAI adalah salah satu program berbasis masyarakat yang dilaksanakan secara padat karya tunai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Wilayah Sungai Maluku Utara.

P3-TGAI dilaksanakan untuk mendukung kedaulatan pangan nasional sebagai perwujudan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik sebagaimana termuat dalam program nawa cita ke tujuh melalui pemberdayaan masyarakat petani dalam perbaikan, rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi secara partisipatif di wilayah pedesaan.

Menurut juknis P3-TGAI, kegiatan perbaikan jaringan irigasi, rehabilitasi jaringan irigasi dan peningkatan jaringan irigasi secara partisipatif tersebut merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat petani secara terencana dan sistematis untuk meningkatkan kinerja pengelolaan jaringan irigasi.

Kegiatan Penyerahan Pekerjaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahap I Wilayah Sungai (WS) Halmahera Utara merupakan bagian penting dalam proses berlangsungnya program tersebut. Pada acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat pemda dan pejabat pemerintah pusat yakni BWS Maluku Utara.

Turut hadir Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Utara, Daud, S.P.,M.Si, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Halmahera Utara, Wilson Alexander, ST, MT mendampingi Bupati Halmahera Utara.
Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Halmahera Utara.

Dalam sambutanya, pria yang telah menjabat Bupati Halmahera Utara sejak tahun 2016 ini berharap bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini dapatterus berkelanjutan, “kegiatan seperti ini tentunya dapat meningkatkan produktivitas masyarakat petani, terutama dalam rangka menjaga stabilitas perekonomian mereka, khususnya di suasana pandemik Covid-19 ini, sehingga keberlanjutan dari program ini sangat diharapkan adanya terutama bagi masyarakat Halmahera Utara, khususnya masyarakat di Kecamatan Kao Barat ini,” ucap Ir. Frans Manery dalam sambutannya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, acara Penyerahan Pekerjaan P3-TGAI Tahap I WS Halmahera Utara ini tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan seperti halnya mencuci tangan, memakai masker dan juga menjaga jarak. Hal ini pun termaktub dalam sambutan Bupati yang merupakan kader Partai Golkar ini.

Kepala BWS Maluku Utara, dalam sambutannya mengatakan bahwa program P3-TGAI ini adalah amanat dari Permen PUPR No. 24/2017 tentang Pedoman Umum P3TGAI, sehingga kegiatan ini adalah kegiatan padat karya berbasis peran serta masyarakat petani yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air/Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A) atau Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) bermaksud untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat terutama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk berkontribusi bagi ketahanan pangan di Kabupaten Halmahera Utara.

Baca Juga  Soal Tewasnya 6 Laskar FPI, Ini Taklimat MUI

“Dari berlangsungnya program P3-TGAI oleh BWS Maluku Utara, Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian PUPR, besar harapan kami ketersedian pangan dan beras dapat berlimpah di Kabupaten Halmahera Utara sehingga visi Indonesia hebat dapat tercipta dan dirasakan langsung oleh masyarakat di bumi Halmahera Utara.” tegas Ir. Bebi Hendrawibawa, S.T., M.T.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SAtuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Maluku Utara, Indra Kurniawan, ST. MT menjelesakan bahwa program P3-TGAI WS Halmahera Utara ini memiliki kelompok penerima yang tersebar tujuh Daerah Irigasi, empat Kabupaten/Kota, tuujuh kecamatan dan dua puluh lima desa.

“Pada pelaksanaannya, 46 kelompok di bagi menjadi tiga tahap, dimana tahap pertama sebanyak 16 kelompok P3A penerima di 13 Desa. Penerima ini tersebar pada tiga kabupaten, yaitu, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kabupaten Pulau Morotai.
Bupati Halmahera Utara, Ir.Frans Manery, yang ikut hadir dalam kesempatan itu, mengatakan bahwa pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada Kementerian PUPR, khususnya kepada BWS Malut atas terselenggaranya program P3-TGAI di Kabupaten Halmahera Utara.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa, P3-TGAI adalah program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, sehingga peran masyarakat sangat penting dalam mensukseskan program ini.
Acara Penyerahan Pekerjaan P3-TGAI Tahap I WS Halmahera Utara kemudian ditutup dengan sambutan Kepala Desa Margo Mulyo Dalam sambutannya ia turut mengapresiasi suksesnya P3TGAI di Desa Margo Mulyo ini. Ia juga memaparkan beberapa kebutuhan warga di desanya terkait pengembangan jaringan irigasi dan bendung dan juga kebutuhan lainnya terkait pertanian masyarakat desa Margo Mulyo.

Di siang yang terik itu, acara ditutup dengan makan siang bersama. Bupati beserta jajarannya kemudian berpamitan seusai makan siang dan rombongan BWS Maluku Utara kemudian menapaki langkahnya menuju lokasi pekerjaan Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Toliwang Tahun Anggaran 2020.

Pekerjaan ini diharapkan bisa meningkatkan kerja petani di Kecamatan Kao Barat. Kepala Satuan Kerja PJPA, Ir. Idhar Sahdar, S.T., M.T mengatakan bahwa proyek ini merupakan proyek padat karya dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk terlibat langsung bekerja dalam pembangunan jaringan irigasi.

“Dalam pelaksanaan kegiatan ini, kita melibatkan masyarakat, yang notabenenya adalah masyarakat sekitar Daerah Irigasi Toliwang, untuk membantu taraf hidup mereka,” tutur Kasatker PJPA.

Siang yang terik kemudian berganti menjadi mendung seketika. Tidak berapa lama, hujanpun akhirnya turun. Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai masih meneruskan derap langkah kakinya menyusuri bangunan jaringan irigasi Toliwang.

Di sela-sela butiran hujan yang jatuh membasahi seragam putih yang berbalut safety vest berwarna kuning terang, Ir. Bebi Hendrawibawa, S.T.. M.T mengakhiri perjalanan safari lapangan bersama rombongan BWS Malut. Diakhir kesempatan tersebut ia mengatakan bahwa pekerjaan peningkatan jaringan irigasi Toliwang ini manfaatnya sangat besar bagi masyarakat.

“Jaringan irigasi ini diharapkan bisa meningkatkan produksi padi di Kecamatan Kao Barat, sehingga cita-cita ketahanan pangan di Maluku Utara dapat kita wujudkan bersama,” tutupnya. (adv)