Sajak Lebaran & Tiga Puisi Lain Ishak R. Boufakar

oleh -139 views
Link Banner

Sajak Lebaran

pada malam-malam khusyuk
bulan ramadan – seorang petani
susut seperti jam pasir

atau humus yang pelan-pelan
lenyap di lahan-lahan gambut

tapi petani itu mafhum – siapa
menanam dia memanen

maka ditaburkannya biji-biji
hitam – bunga kapas:

Link Banner

serat bulu-bulu putih itu
setipis kabut – kondensasi
butir-butir air

yang mengalir ke lahan-lahan
kering kerontang

esok pagi akan terbit mentari
sawal – suatu taman seputih
firdaus, harap sang petani

dia tahu, matahari yang congkak
itu pasti rontok. Dan musim semi
bakal mengintip

dari bunga-bunga kapas yang
siap panen – dia memang petani
matang

maka dipintalkan dua buah sirat:
jadi suatu jembatan dan tali jemuran

Baca Juga  Kecewa Dengan Pemerintah, Korban Gempa Palu Serukan Tolak Bayar Pajak

(siratalmustakim dan silaturahim)

(Bula – Maluku, 2020)

=========

Bulan (Puasa) Jatoh

pagi itu di parigi
beta lia mama sikat
satu noda di mukena.

“Bintik itam,” kata beta.

mama hanya tangkis
deng satu sibur senyum,
sesudah itu mama banting timba:

“Biji zarah labe kacil daripada
bintik. Tapi, dosa tak kompromi.”

beta diam saribu kata-kata.
mama bicara saribu kalimat.

“Ambil ‘baeklin,’ mama mau kasih
‘pute’ ini noda.

:pagi itu bulan (puasa) jatoh di parigi
beta lia mama sikat dosa.

April 2020

========

Seperti Kliping Koran

Jauh sebelum wabah corona menggegerkan warga kota. Atau ketakutan-ketakutan massal diproduksi kantor pemerintah. Di tiap akhir pekan aku rutin mengumpulkan helai-helaian rambut dari koran mingguan yang kuperoleh di toko langganan. Sementara orang-orang risi, karena bagi mereka kepunyaan rambut gondrong segala bangsa adalah bangsat. Tetapi aku tidak bersedih. Kukepang rambut itu seperti kliping koran. Maka helai-helai rambut bagai serat-serat buah pinang, aku lem dan kubingkai: berpayah-payah merawatnya. Karena ia merawatku.

Baca Juga  Christina, Kartini deng Nona-Nona Ambon Masa Kini

*)Lelaki Laut

========

Lalu Pilu Pagi Itu

oh, betapa pilu
pagi itu

di dermaga
seorang awak
menarik sauh

dan kini kapal-
kapal berderak-
derak

lalu raib

:dan sini ombak-
ombak pulang
pada pantai,

orang-orang
pulang pada
baka:

pada karib abadi.

pagi itu
oh, betapa
pilu…

=====

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *