Saling Bongkar Aib di Panggung Politik

oleh -125 views

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

ADA keyakinan mewabah di panggung politik bahwa kekuasaan merupakan tujuan utama politik maka harus dicapai dengan menghalalkan segala cara.

Etika dan akhlak malah dianggap sebagai penghambat, maka hukumnya wajib disingkirkan dari jalur perjalanan politik para politisi sejati.

Ukuran keberhasilan politik kekuasaan justru terletak pada kemampuan dan kemauan mengabaikan etika dan akhlak itu sendiri.

Loyalitas dianggap anakronis sebab hanya dilakukan oleh para politisi konyol sudah kedaluwarsa belaka. Mudarat loyalitas sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan manfaat kekuasaan!

Demi menentukan siapa berhak duduk di tahta kekuasaan di semesta yang disebut sebagai demokrasi, secara berkala diselenggarakan apa yang disebut sebagai pemilihan umum yang disingkat menjadi pemilu.

Baca Juga  Penjabat Gubernur Buka MTQ XXX Tingkat Provinsi Maluku

Pada kenyataan memang pemilu kerap diejawantahkan menjadi perilaku yang memilukan lubuk sanubari mereka yang masih memiliki nurani.

Sepak-terjang bergaya Kurawa versi Wayang Purwa dan Rahwana versi Ramayana Walmiki menjelang pemilu makin merajalela di panggung politik perebutan kekuasaan.

Kejujuran Yudhistira adalah benda asing yang aneh di tengah kemelut serba ketidak-jujuran perilaku politisi profesional.

No More Posts Available.

No more pages to load.