Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Banyak orang mengatakan bahwa salah satu kehebatan Prabu Mulyono adalah kemampuannya memelihara “kasus-kasus hukum” dari lawan dan kawan politiknya. Iya, tidak hanya lawan politik tapi juga kawan.
Kabarnya ia menjadikan kasus-kasus ini sebagai kartu truf untuk mengirim lawan, dan kawan yang berani melawan, ke pengadilan dan akhirnya ke penjara.
Publik yang hanya melihat di permukaan, melihat keanehan-keanehan namun hanya mampu bertanya-tanya. Itu menjadi fenomena yang tak dapat dijelaskan.
Seperti misalnya, kemunduran Airlangga Hartarto dari ketua umum Golkar. Orang tidak punya penjelasan akurat, kecuali bisik-bisik dan desas-desus, soal kemundurannya ini. Kabarnya, Airlangga dipaksa mundur karena surat perintah penahannya sudah siap dilayangkan.
Itu hanya satu kasus. Ada banyak kasus lain. Ada yang berhasil, ada pula yang gagal. Pokoknya, kata mereka yang percaya, Mulyono sudah pegang banyak kartu elit-elit negeri ini. Itulah perlindungan dirinya dalam berbagai pertarungan kekuasaan.
Argumen ini mungkin paling masuk akal. Namun kadang orang lupa bahwa hal yang sebaliknya juga terjadi.








