Satu Lagi, Bandara Baru yang Sepi Usai Diresmikan Jokowi

oleh -27 views
Link Banner

Porostimur.com, Jakarta –  Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) menambah daftar bandara baru sepi penumpang setelah diresmikan oleh Joko Widodo (Jokowi) dan berimbas kepada keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sebelum YIA, ada Bandara JB Soedirman di Purbalingga, Jawa Tengah yang juga sepi penumpang sehingga Citilink, maskapai penerbangan yang satu-satunya melayani rute tersebut memutuskan menutup operasinya.

Jauh sebelum Bandara JB Soedirman, ada Bandara Kertajati yang laju pertumbuhan pergerakan penumpang dan penerbangannya terkendala akses transportasi darat. Saat ini, akses tol yang menghubungkan bandara berkode KTJ tersebut dengan Tol Cipali masih dalam tahap finalisasi pekerjaan, menunggu tuntasnya proses Uji Laik Fungsi dan juga Standar Layak Operasi.

YIA, yang terletak di Kulon Progo, Yogyakarta tersebut telah diresmikan pada 28 Agustus 2020 dikelola oleh PT Angkasa Pura I. Bandara yang dibangun dengan biaya senilai Rp12 triliun hingga kini belum dapat mencapai target jumlah penumpang yang diharapkan.

Dengan pergerakan penumpang yang menurun dan adanya tekanan keuangan, Direktur Utama Faik mengatakan masih dihadapkan dengan kewajiban membayar pinjaman sebelumnya yang digunakan untuk investasi pengembangan bandara. Bandara tersebut dibiayai melalui skema penggunaan dana internal dan berbagai sumber lain seperti kredit sindikasi perbankan serta obligasi.

Baca Juga  Belain Ajak Seluruh Komponen Bangsa Serius Merespon Aksi Penculikan Abu Sayyaf

“Pandemi Covid-19 melanda pada saat Angkasa Pura I tengah dan telah melakukan pengembangan berbagai bandaranya yang berada dalam kondisi kekurangan kapasitas. Seperti Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (YIA) yang menghabiskan biaya pembangunan hampir Rp12 triliun,” kata Faik, Ahad (5/12/2021).

Senada Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo membeberkan kondisi finansial yang dialami oleh PT Angkasa Pura I (persero) atau AP I dengan utang mencapai Rp35 triliun dan rugi per bulan mencapai Rp200 miliar.

Tiko, sapaan akrabnya menjelaskan beban keuangan yang mesti ditanggung oleh operator bandara pelat merah tersebut memang cukup berat dengan banyaknya bandara-bandara baru.

“AP I ini memang kondisinya berat, dengan utang Rp35 triliun dan rate loss [kerugian rata-rata] per bulan Rp200 miliar. Kalau tidak direstrukturisasi, setelah pandemi utangnya bisa mencapai Rp38 triliun,” kata Tiko dalam rapat dengan Komisi VI DPR pekan ini.

Tekanan finansial dan operasi tersebut semakin berat dikarenakan harus menanggung biaya operasional yang tinggi dari pembangunan sejumlah bandara baru. Sementara di tengah situasi pandemi, jumlah penumpang pesawat udara jauh menurun.

“Seperti bandara baru Yogyakarta itu di Kulon Progo, itu sampai Rp12 triliun. Dan begitu dibuka langsung kena pandemi,” paparnya.

Baca Juga  Ingin Fokus Pada Hip-Hop, Doja Cat Ungkap Rencana Album Ganda

Sebelumnya, pada saat peresmian, Presiden Jokowi mengatakan YIA merupakan bandar udara terbaik di Indonesia dengan pengerjaan dan desain interior yang bagus dan dikerjakan sangat cepat hanya selama 20 bulan.

Presiden Jokowi juga memaklumi kondisi bandara saat ini yang masih belum ramai karena dampak pandemi. Namun, dirinya yakin setelah vaksin tersedia, YIA akan menjadi bandara paling ramai. Pembangunan YIA mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai bandara dengan pengoperasian tercepat.

Sebagai pengganti Bandara Adisutipto, YIA memiliki terminal penumpang seluas 219.000 meter persegi yang dapat melayani 20 juta penumpang per tahun yang nilai investasinya Rp10,08 triliun.

Untuk fasilitas sisi udara, runway bandara ini memiliki dimensi 3.250 meter x 45 meter dengan nilai PCN 93 F/C/X/T sehingga dapat melayani pesawat terberat seperti Boeing B-777 dan pesawat terbesar seperti Airbus A380. YIA melayani 20 rute domestik dan 2 rute internasional, yaitu Singapura dan Kuala Lumpur.

Ke depan, bandara YIA memiliki potensi yang besar untuk menambah rute domestik ke Manado, Kupang, dan Labuan Bajo. Untuk rute internasional, potensinya adalah penambahan rute ke Jeddah, Madinah, Sydney, Melbourne, Hong Kong dan Bangkok. Bandara ini juga telah dilengkapi akses Kereta Api (KA) Bandara Yogyakarta International Airport (YIA)

Baca Juga  JMSI Gelar Sayembara Jurnalistik, ini Syarat dan Hadiahnya

Dengan beroperasinya KA Bandara YIA ini, masyarakat dapat menempuh waktu lebih cepat ke Bandara YIA yaitu sekitar 40 menit dari Yogyakarta, dari waktu rata-rata 1,5 jam bila menggunakan kendaraan mobil atau moda transportasi lainnya

Sebagai informasi, Pandemi Covid-19 yang mulai terjadi di Indonesia sejak Maret 2020 berdampak terhadap penurunan drastis pergerakan penumpang di 15 bandara AP I. Sebagai gambaran, pada 2019, pergerakan penumpang di bandara Angkasa Pura I mencapai 81,5 juta penumpang. Namun, ketika pandemi melanda pada awal 2020, pergerakan penumpang turun menjadi 32,7 juta penumpang dan pada 2021 ini diprediksi hanya mencapai 25 juta penumpang. 

Kondisi keuangan dan operasional perseroan juga mengalami tekanan cukup besar. Pendapatan AP I pada 2019 yang mencapai Rp8,6 triliun anjlok pada 2020, karena hanya meraih pendapatan Rp3,9 triliun. AP I memprediksikan pada 2021 ini pendapatan juga akan mengalami sedikit penurunan akibat anjloknya jumlah penumpang yang hanya mencapai 25 juta orang.

(red/bisnis.com)