SBY Sebut Jokowi dan Jajarannya Jadi Anti Kritik karena Takut Gagal Hadapi Corona

oleh -515 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: SBY mengaku paham mengapa Jokowi dan jajarannya kini sensitif, anti kritik, singgung ketakutan hadapi Virus Corona

Susilo Bambang Yduhoyono atau SBY angkat bicara mengenai kebijakan Pemerintah Jokowi dalam menghadapi pandemi Virus Corona atau covid-19.

Kali ini, SBY menyoal Telegram Kapolri Idham Azis terkait penghinaan Presiden.

SBY mengaku paham mengapa Jokowi dan jajarannya sangat sensitif di saat wabah Virus Corona seperti saat ini.

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) menilai wajar jika pemerintah mengalami tekanan psikologis dalam menghadapi wabah Virus Corona atau covid-19.

“Pemerintah takut kalau rakyatnya banyak yang kena corona dan meninggal.

Takut kalau upaya dan tindakannya gagal.

Juga takut kalau kebijakannya disalahkan oleh rakyat, baik sekarang maupun di hari nanti,” tulis SBY lewat sebuah tulisan di akun Facebook-nya, Rabu (8/4/2020).

“Tanpa disadari, sebagian penguasa dan pejabat pemerintah menjadi sensitif.

Menjadi kurang sabar dan tak tahan pula menghadapi kritik, apalagi hinaan dan cercaan,” kata dia.

Kendati demikian, SBY meminta pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo bisa tetap menggunakan cara-cara persuasif dalam menghadapi masyarakat yang melempar hinaan dan cercaan di media sosial.

Baca Juga  Lima Puisi Nuriman N Bayan

Ia berharap pejabat pemerintah tak langsung menggunakan langkah hukum untuk mempidanakan masyarakatnya yang salah ucap.

Sebab, di tengah situasi pandemi ini, masyarakat cendrung menjadi tegang, gamang, takut, emosional dan bahkan cepat marah.

Masyarakat takut kalau kena Virus Corona, mengidap penyakit covid-19, dan meninggal dunia.

Masyarakat golongan bawah, terutama yang kehilangan pekerjaan, mengalami kesulitan hidup yang luar biasa.

“Di antara mereka ada yang mudah menyalahkan pihak lain, termasuk pemerintah dan pemimpin-pemimpinnya,” kata Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini.

“Bisa saja warga kita ada yang salah berucap.

Misalnya, di media sosial, ada kata-kata yang melampaui batas.

Menghadapi masalah ini, alangkah baiknya kalau yang diutamakan adalah tindakan yang persuasif terlebih dahulu,” ujar SBY.

SBY menilai, penegakan hukum yang dilakukan pemerintah kepada rakyat justru akan membuat fokus penanganan covid-19 menjadi terganggu.

Pemerintah justru akan menghadapi makin banyak perlawanan dari masyarakat.

Baca Juga  Kekuasaan Taliban akan Berdampak pada Keamanan Israel

“Saya juga bermohon agar pemerintah tidak alergi terhadap pandangan dan saran dari pihak di luar pemerintahan.

Banyak kalangan yang menyampaikan pikirannya, mungkin sedikit kritis, tetapi mereka-mereka itu sangat pro pemerintah.

Juga sangat mendukung Presiden Jokowi,” kata SBY.

SBY menambahkan, pemidanaan terhadap masyarakat yang menghina Presiden atau pejabat pemerintah sebenarnya biasa di berbagai negara.

Termasuk negara yang menganut sistem demokrasi.

“Yang menjadi luar biasa adalah kalau hukum-menghukum ini sungguh terjadi ketika kita tengah menghadapi ancaman corona yang serius saat ini.

Jujur, dalam hati saya harus bertanya mengapa harus ada kegaduhan sosial-politik seperti ini?” kata dia.

Untuk itu, SBY juga mengimbau masyarakat jika berbicara atau berkomentar tidak melampaui batas.

Termasuk jika mengkritik atau berkomentar tentang Presiden dan para pejabat yang lain.

“Kebebasan berbicara yang dijamin oleh konstitusi dan undang-undang pun ada batasnya,” ucap SBY.

“Masyarakat yang baik dan cerdas akan tetap bisa menyampaikan pendapat dan kritik-kritiknya, tanpa harus melakukan penghinaan, hujatan dan caci maki yang kasar dan melampaui kepatutannya,” kata dia.

Baca Juga  Ditreskrimsus Polda Maluku Serahkan Tersangka Kasus Perbankan ke Kejari Ambon

Polri sebelumnya mengingatkan masyarakat yang menghina Presiden Joko Widodo maupun pejabat pemerintah dalam menangani covid-19 di media sosial dapat terancam sanksi pidana.

Hal itu tertuang di dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1100/IV/HUK.7.1./2020 yang ditandatangani Kepala Bareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo tertanggal 4 April 2020.

Sehari sebelum surat itu terbit, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pun menangkap AB karena menghina Presiden Joko Widodo melalui sebuah video yang beredar di media sosial.

Menurut polisi, AB mengunggah konten yang menghina penguasa dan mengandung unsur diskriminasi ras dan etnis.

Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Himawan Bayu Aji mengatakan, AB ditangkap di rumahnya di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (3/4/2020) malam.

Berdasarkan video yang beredar, AB mengkritik Presiden Jokowi terkait penanganan wabah covid-19. (red/rtm/kompas)