Secangkir Kopi Harapan

oleh -48 views
Link Banner

Cerpen Karya: Muhammad Adjie Raharja Husasa

Aku yang baru saja bangun di pagi yang tenang dan santai ditemani mentari yang mulai bekerja memberi kehangatan untuk seluruh manusia dikejutkan oleh pemberitahuan di gawaiku, yang mengatakan bahwa aku harus bertugas di sebuah sekolah yang terletak di tanjungan selor, tempat yang sangat terpencil dan berada jauh dari pusat kota.

Alhasil setelah bersiap-siap selama waktu seminggu, aku pun mulai meninggalkan kerajaan tercintaku dan memasuki ke kehidupan yang kuperkirakan akan sulit dijalani. Sebenarnya aku lumayan suka harus menjauh dari kota, karena aku ingin melupakan mantan kekasihku yang sangat kucintai namun menduakanku.

Setelah beberapa lama di perjalanan, aku pun sampai di tanjungan selor. Ternyata tempatnya tidak terlalu buruk seperti yang aku perkirakan.

Link Banner

“Selamat pagi”. Ucap sang kepala desa saat menyambut kedatanganku.
Aku terkejut karena ternyata di sana aku disambut oleh para warga. Bak nya seorang artis terkenal yang sedang Meet and greet Bersama fans.
“Selamat pagi juga”. Ucapku
“Apakah anda dokter yang akan bertugas di sini?”. Ucap kepala desa
“Iya pak, saya dokter yang ditugaskan disini untuk beberapa waktu”. Aku menjawab
“Baiklah kalau begitu akan kuantar kau ke kamarmu selama berada di sini”. Ajakan kepala desa sembari berjalan menuntunku.

Di perjalanan, aku diberi tahu oleh kepala desa bahwa sebenarnya warga desa sangatlah tidak suka dengan pendatang dari kota, karena mereka pikir orang kota lah yang merusak alam. Mereka berkumpul melihatku hanyalah untuk memastikan bahwa aku adalah orang baik yang tidak akan merusak alam dan hutan di sekitaran tempat tinggal mereka.

Seminggu sudah aku berada di sini, bersama para warga desa yang awalnya membenciku. Namun akhir-akhir ini mereka mulai baik denganku, mungkin karena aku sering membantu mereka. Meskipun para warga sudah mulai baik, masih ada satu orang yang masih tidak suka denganku, seorang dukun yang biasa mengobati para warga desa ini.

“Ahhh aku sedang lelah sekali, mungkin berjalan-jalan sore dapat membantu menyegarkan otakku”. Aku membatin.

Baca Juga  Hasil Swab WS Istri Almarhum LS Pedagang Mardika Terkonfirmasi Negatif Covid-19

Aku berjalan-jalan melewati hutan dan menemukan air terjun yang letaknya tak terlalu jauh dari desa. Namun bukan air terjunlah yang menjadi perhatianku, di sisi lain air terjun aku melihat seorang perempuan, sangat cantik rupawan menyerupai bidadari, dan satu lagi, sangat mirip dengan mantan kekasihku. Tentu saja aku terkejut dan mencoba menyapanya.

“Hai salam kenal, aku dokter yang baru saja ditugaskan di daerah sini, kamu warga desa sini juga ya?”. Aku membuka percakapan.
Dia hanya mengangguk kecil sembari tersenyum tanpa memberi sepatah kata pun.
“Bolehkah aku mengetahui siapakah sebenarnya dirimu?”. Aku melanjutkan.
“Namaku Dira aya fachrin, kamu bisa manggil aku dira”. Suaranya begitu halus mempesona layaknya bidadari tanpa sayap.
Aku sempat tertegun sejenak, berharap aku bukan sedang dalam mimpi, berharap aku bukan sedang kepikiran mantan kekasihku sehingga aku melihat seseorang yang mirip dengannya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”. Tanyanya yang kemudian menyadarkanku.
“Ah tidak apa-apa”. Kataku.

Kami berbincang-bincang dan tanpa kusadari hari pun mulai menjelang malam. Sehingga kami memutuskan untuk kembali ke tempat tinggal kami masing-masing.
“Ah hari yang sangat menyenangkan, semoga aku sering bertemu dengannya. Aku pasti betah kalau tiap hari bertemu dengannya dengannya”. Batinku yang kegirangan.

Seminggu telah berlalu, kami tidak dapat berhubungan dan tidak dapat bertemu karena aku terlalu sibuk, saat kukira aku tidak akan bisa bertemu dengan dia lagi, aku tidak menyangka tempatku kedatangan perempuan cantik yang kutemui minggu lalu. Ya, dira, dia mengalami sakit flu berat, sehingga aku memberikannya obat. Kami juga sempat berjanji untuk bertemu lagi sebelum berpisah dan sepertinya, kami mungkin memiliki rasa satu sama lain.

Baca Juga  Bank Indonesia Mengembangkan Embrio Start Up Asli Maluku

“Hei sebelum kamu pergi, maukah kamu berjumpa denganku lagi?”. Aku mengatakan dengan hati-hati takut dia menjadi jijik.
“Mengapa tidak?” ucapnya
“Bagaimana jika besok sore? Di tempat minggu lalu?”. Aku menawarkan.
“Boleh”. Dia mengangguk kecil sembari tersenyum

Setelah berbincang lumayan lama, aku pun tertarik untuk menanyakan di mana dia tinggal dan siapakah keluarganya.
“Kita memang belum lama kenal kan? Tapi bolehkah aku bertanya di mana kah tempat tinggalmu? Dan jika boleh tau siapakah keluargamu?”. Aku bertanya dengan sedikit gugup.
“Aku tinggal di seberang sungai desa ini, dan aku hidup cuma bersama ayahku”. Ucapnya dengan nada datar.
“Kita sebaiknya jangan bertemu lagi”. Ucapnya dengan nada serius melanjutkan.
Aku terperanjat dengan ucapannya barusan. Aku pun bertanya alasannya.
“Tapi mengapa?”. Aku bertanya dengan rasa heran.
“Apakah kamu tau kalau sebenarnya masih ada yang tidak suka padamu di desa ini?”. Dia balik bertanya.
Sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraan ini.
“Iya aku mengetahuinya…”. Aku menjawab lirih.
“Dia adalah ayahku, dan sepertinya dia mempunyai niat jahat kepadamu.” Dia mengatakannya dengan nada serius.
Aku sebenarnya tidak percaya dengan keberadaan ilmu-ilmu atau hal-hal yang berbau mistis seperti santet, hanya saja jika di pedalaman hutan begini, mungkin saja memang masih ada hal-hal seperti itu.
“Memangnya mengapa?”. Ucapku sembari sedikit menantang.
“Tidak apa-apa hanya saja aku takut akan keselamatanmu”. Dia berkata dengan nada sedikit cemas.
“Tenang saja, aku bisa jaga keselamatanku kok”. Aku menjawab mencoba menenangkan.

Baca Juga  Jokowi Teken Biaya Haji 2020, Termahal Embarkasi Makassar Rp38 Juta

Jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku dan dia mulai tambah akrab dan menjalani hubungan asmara secara diam-diam, mencoba agar tidak ketahuan ayahnya. Bahkan aku memutuskan untuk menutup praktekku lebih awal agar tiap sore aku bisa bertemu secara diam-diam dengannya. Namun, sepertinya kami tidak bisa menyembunyikan lagi hubungan kami terhadap ayahnya. Ayahnya pun bertambah tidak suka kepadaku, bahkan sepertinya membenciku.

“Jauhi dia sekarang”. Ayah dira berkata dengan nada sedikit membentak.
“Tapi yah, aku jatuh cinta dengannya…”. Dira memjawab dengan nada memelas.
“jauhi dia sekarang atau kubunuh dia”. Ayah dira mengancam.

Kemudian tanpa sepatah kata pun, sang dukun mengambil keris yang dimilikinya dan pergi ke tempat praktikku. Aku yang sedang mengobati pasien tidak melihat kedatangan sang dukun, yang kemudian dengan cepat melemparkan kerisnya mengarah kepadaku. Dira yang sedari tadi mengikuti ayahnya pun langsung mendorongku, dan tanpa aba-aba dira jatuh tersungkur, bersamaan dengan keris yang menghujam jantungnya. Aku mendekatinya dengan hati yang terluka, menyesali perbuatanku yang memaksakan perasaanku sehingga malaikat maut harus berhadir di sini. Sang dukun yang merasa bersalah pun membiarkan raganya remuk diantara bebatuan air terjun tempat kami pertama kali bertemu.

Sebulan pun berlalu, aku harus kembali ke tempat tinggalku di kota karena waktuku berada di sini telah berakhir, aku mencoba untuk tetap tegar menjalani hidupku, meskipun harus dua kali kehilangan orang yang aku cintai. Pagi ini aku membuka hari dengan secangkir kopi panas, mencoba merangkai mimpi dan harapan yang kembali hancur. (*)