Sekilas Lagu Genjer Genjer yang Populer di Film Penghianatan G30S/PKI, Simak Penggalan Liriknya

oleh -84 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Ada satu lagu berjudul Genjer Genjer yang lekat dengan Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI) 55 tahun silam.

Menariknya, Lagu ini juga pernah dibahas Ahmad Dhani dan Daniel Mananta.

Kala itu, Daniel melihat-lihat koleksi piringan hitam milik suami Mulan Jameela itu.

Momen itu terlihat dalam vlog di Video Legend dengan judul “BACK CHAT! “GENJER-GENJER” with Daniel Mananta (part 2)”.

Link Banner

Terkait lagu ini, bukan rahasia lagi jika lagu Genjer ini lekat dengan nuansa seram dan menggidikkan dalam sejarah Indonesia.

Dalam adegan film Pengkhianatan G 30/S PKI, terdapat sebuah adegan anggota Gerwani mengelilingi para jenderal yang ditawan.

Mereka kemudian menyileti wajah para jenderal diselingi nyanyian Genjer-genjer.

Melansir dari laman intisari.grid.id (tayang 25 September 2018) sampai saat ini film Pengkhianatan G 30/S PKI masih ramai diperdebatkan apakah adegan penyiksaan oleh Gerwani tersebut nyata atau tidak.

Ada yang menganggapnya sekadar propaganda Orde Baru, namun tidak sedikit pula yang mempercayainya.

Terlepas dari benar atau tidaknya adegan tersebut, fakta yang tak terbantah adalah lagu Genjer-genjer menjelma menjadi sebuah lagu yang menyeramkan pascagerakan G30S.

Genjer-genjer menjadi lagu yang identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca Juga  Polda Maluku Gelar Anev Ops Aman Nusa II & Operasi Ketupat 2020

Jadi, semasa Orde Baru dan bahkan hingga kini, orang yang menyanyikan lagu tersebut rentan dituduh berafiliasi dengan PKI.

Padahal lagu Genjer-genjer bukanlah lagu mars PKI dan juga bukan lagu yang diciptakan khusus untuk mereka.

Genjer-genjer sebenarnya adalah lagu populer berbahasa Osing (suku di Banyuwangi).

Diciptakan pada 1942 oleh Muhammad Arief, seorang seniman Osing sebagai gambaran kondisi warga Banyuwangi saat penjajahan Jepang.

Lagu ini menggambarkan penderitaan rakyat Indonesia selama dijajah jepang.

Sebelum penjajahan Jepang, genjer (Limnocharis flava) adalah tumbuhan untuk makanan ternak.

Ketika Jepang jadi penjajah, banyak warga kelaparan dan terpaksa memakan tumbuhan yang awalnya dianggap hama itu.

Biasanya warga memasak sayur genjer dan dimakan dengan nasi ditambahi sambal jeruk..

Petikan lagu Genjer-genjer adalah sebagai berikut:

Emake jebeng padha tuku nggawa welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca
Genjer-genjer dipangan musuhe sega

Artinya dalam bahasa Indonesia kira-kira sebagai berikut.

Ibu si gadis membeli genjer sembari membawa wadah-anyaman-bambu

Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih

Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Nasi sepiring sambal jeruk di dipan

Genjer-genjer dimakan bersama nasi

Lagu Genjer-genjer menjadi populer setelah dinyanyikan Bing Slamet.

Baca Juga  Awal April, DPW Nasdem Maluku Utara Gelar Rakerwil 2021

Karena begitu populer, PKI lantas memanfaatkan lagu ini untuk berkampanye.

Saking seringnya lagu ini dinyanyikan PKI dan simpatisannya, tak ayal Genjer-genjer jadi lekat dengan partai komunis tersebut.

Setelah G30S pecah dan PKI dinyatakan sebagai partai terlarang, Genjer-genjer juga ikut dimasukkan sebagai lagu terlarang di Indonesia oleh Orde Baru.

Setelah pemberontakan PKI pecah pada 30 September 1965, Muhammad Arief sang pencipta lagu menghilang.

Seperti dilansir Kompas.com (30/9/2014), keluarga Arief hidup dalam penderitaan karena dicap PKI.

Sinar Syamsi , anak dari Muhammad Arief, mengisahkan, setelah rumah ayahnya di Jalan Kyai Shaleh Nomor 47, Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi, dihancurkan oleh massa pada 30 September 1965, Muhammad Arief pamit keluar rumah.

Belakangan diketahui, ayahnya ditangkap Corps Polisi Militer (CPM).

Syamsi bersama Suyekti, ibunya, kemudian membakar buku-buku bacaan yang berbau aliran kiri milik ayahnya.

Dia bersama ibunya juga sempat menjenguk Muhammad Arief di Markas CPM.

Baca Juga  Ini Pembelaan Iman Brotoseno setelah Jejak Digital Mesumnya Diungkap Publik

“Bapak ditahan tentara, dan itu terakhir saya bertemu dengan dia. Sempat dengar, katanya bapak dipindah ke Kalibaru, dan dengar lagi bapak sudah dipindah ke Malang,” urainya.

Terakhir, ia mengetahui bahwa Muhammad Arief ditahan di Lowokwaru, Malang.

“Teman bapak yang cerita. Sampai saat ini saya tidak tahu bapak ada di mana. Dia tidak pernah kembali,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, ibunya, Suyekti, yang asli Jawa Tengah, memilih untuk tinggal di Banyuwangi di rumah warisan keluarga.

“Kasihan ibu saya. Stigma sebagai keluarga PKI membuat ia tertekan. Ibu meninggal pada tahun 1997,” ujarnya.

Sementara itu melansir dari laman kompas.com, Sejarawan yang juga akademisi Jurusan Sejarah, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, mengatakan sejak dulu sayur genjer telah menjadi makanan keseharian wong cilik.

“Wong cilik terbiasa mengolah bahan yang ada di sekitarnya, termasuk genjer atau paku rawan (Limnocharis flava).

Sayuran ini cukup akrab dalam ekologi persawahan. Petani desa dahulu mengandalkan persawahan dan tumbuhan di lingkungan sekitar untuk santapan. (red/kcm)