Selama Pandemi, Bandung Cetak 1.355 Janda Baru

oleh -1.133 views
Link Banner

Porostimur.com | Bandung:  Selama empat bulan tekarhir, saat terjadi pandemi virus corona atau Covid-19, tercatat sebanyak 1.355 perempuan di Kota Bandung menjadi janda lantaran tingginya angka perceraian di Kota Kembang tersebut.

Mereka memutuskan berpisah dari suaminya karena berbagai sebab, salah satunya diduga karena faktor ekonomi yang semakin terpuruk akibat wabah Corona.

Data 1.355 janda baru itu dicatat Pengadilan Agama (PA) Bandung. Jumlah janda itu berdasarkan 1.449 gugatan perceraian yang didaftarkan ke PA Bandung dalam empat bulan terakhir.

Ketua PA Bandung Acep Saifuddin mengatakan, jumlah gugatan pada Maret 2020 sebanyak 433, April 103, Mei 207, dan Juni sampai Rabu 24 Juni 2020 mencapai 706.

Link Banner

“Dalam satu bulan, rata-rata yang putus atau resmi bercerai di atas seratus pasangan. Total yang sudah diputus atau resmi bercerai 1.355 pasangan,” kata Acep Saifuddin, Jumat (26/6/2020).

Baca Juga  Dua Hari Ini, Tim Tarsius Bongkar Praktek Judi Togel Di Manembo-Nembo

Garut Juga Naik

Tingginya perceraian itu dipicu berbagai faktor, muali dari soal ekonomi dan cekcok yang tak kunjung usai. Namun ada juga PNS yang ekonominya cukup, tapi memilik cerai, penyebabnya adalah masalah kurang puas.

Khusus kasus cerai di Kabupaten Garut, Jabar, juga meningkat tajam setiap tahunnya dan paling dominan karena faktor perekonomian.

Perempuan berjilbab biru tua sedih ditinggal pergi (ilustrasi)

“Ekonomi yang melemah berdampak pada keharmonisan rumah tangga. Tapi ada juga yang sudah PNS gajinya rutin malah daftar cerai, mereka mengaku penyebabnya karena tak puas atau selingkuh dengan teman sekerja,” ungkap Juru Bicara Pengadilan Agama Kelas 1A Garut, Muhammad Dihyah Wahid.

Tercatat sebanyak 1.355 perempuan di Kota Bandung menjadi janda lantaran tingginya angka perceraian di Kota Kembang tersebut.

Baca Juga  Awali kerja, Lumowa hadiri ibadah Minggu di Katedral Ambon

Dijelaskannya sejak sejak 2016 hingga akhir tahun 2019, di Garut ada sebanyak 12.291 janda baru jumlah sebanyak itu baru berdasarkan data yang masuk di Pengadilan Agama Garut dan yang sudah diputus hingga akhir tahun 2018. PNS juga mendominasi sekitar 35 persen, belum lama ini.

“Bisa saja jumlahnya bertambah banyak dari itu karena tak menutup kemungkinan masih ada yang belum terdata,” katanya.

Menurutnya, meski ada janda yang usianya muda dan tua, rata-rata mereka yang bercerai masuk dalam kategori usia produktif yakni 23-35 tahun.

Dihyah mengatakan, ada berbagai faktor yang menjadi penyebab banyaknya pasangan suami-istri yang memilih berpisah. Perceraian lebih banyak diakibatkan faktor ekonomi dan suami yang dianggap tidak bertanggung jawab.

Baca Juga  ZLD Angakatan 27 Polres Kepulauan Sula Gelar Syukuran Kenaikan Pangkat

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tutur Dihyah, kasus perceraian yang terjadi selama tiga tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang ada, kenaikan kasus prceraian dalam tiga tahun terakhir mencapai hampir 46 persen.

“Sebelumnya, pada 2016, jumlah kasus perceraian yang sudah diputus mencapai 3.642 kasus. Namun, tahun 2018 naik cukup tinggi menjadi 4.647 kasus,” ungkapnya, seperti dilansir pikiran-rakyat. (red/rtm/pr/fajar)