Selamat Jalan Pak Sam

oleh -171 views
Link Banner

Oleh: Ahmad Ibrahim, Wartawan Senior

BEREDAR kabar Sabtu siang ini, (30/4/22), Prof Dr Sam Abede Pareno, MBA, MM, telah dipanggil oleh Allah SWT. Seniman Kota Surabaya dan wartawan senior itu wafat di usianya ke-74.

Mantan Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) itu adalah wartawan yang sangat dikenal di Kota Pahlawan. Dari tangan beliau lahir banyak wartawan dan seniman di kota tersebut.

Tak heran begitu kabar duka itu tersebar banyak rekan dan sahabat ikut merasa kehilangan. Tanpa kecuali mereka yang dulu menjadi bagian dari bekas anak buahnya di Ambon ikut merasa duka yang mendalam.

Tahun 1994 almarhum melalui managemen dan payung Jawa Pos News Network (JPNN) pernah mengirim Pak Sam untuk membidani Koran Suara Maluku di Ambon. Ia dikirim oleh Bos Pak Dahlan Iskan dan HM.Alwi Hamu untuk membantu teman-temannya di Ambon.

Sebagai wartawan senior di Jawa Pos, putera Desa Luhu, Pulau Seram, Provinsi Maluku, bernama lengkap Hasan Abdullah itu sudah tak asing.

Baca Juga  Tahun 2017, media refleksi hadapi tahun 2018

Beberapa gebrakan untuk menggenjot koran yang berada di bawah payung Jawa Pos itu pun ia lakukan. Termasuk melakukan penataan managemen dan redaksional.

Tradisi redaksional Jawa Pos yang dikenal antikemapanan coba ia lakukan di Kota Manise. Termasuk mengubah etos kerja dan ketaatan pada jadwal deadline.

Mereka yang tak mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya antara lain datang ke kantor lebih tempo dan mengikuti jadwal rapat redaksi secara rutin tentu akan merasa terganggu dengan ritme kerja yang dibawa sang guru besar itu.

Tidak saja itu. Ia juga mengubah rubrikasi Koran Suara Maluku yang dinilai monoton ia ganti. Misalnya Rubrik Katong Bastori. Jika di Jawa Pos ada namanya Wawancara Hari Ini maka di Suara Maluku ia ubah dengan nama Katong Bastori.

Ada juga rubrik namanya Dong Deng Dong yang memuat tentang beragam tanggapan tentang masalah sosial, politik, dan budaya dll.

Baca Juga  Situasi Corona di Papua Barat Sangat Mengkhawatirkan

Isu-isunya terkait masalah lokal yang dinasionalkan. Atau sebaliknya. Isu nasional yang dilokalkan. Narasumbernya bisa macam-macam. Ada akademisi, politisi, birokrat, pakar hukum, sejarahwan, tokoh masyarakat, tokoh agama dll.

Satu lagi ada rubrik namanya Rempah-Rempah. Di kolom khusus tersebut pengasuhnya adalah beliau sendiri. Tulisan khas kolom ini memiliki pangsa pasar tersendiri khususnya di kalangan politisi, akademisi, birokrat, tokoh masyarakat, tokoh agama dll.

Gaya penulisannya renyah, mudah dibaca dan aktual. Dengan sentuhan penulisan berbau sastra khas budayawan. Sesekali juga disuguhi bahasa-bahasa ilmiah populer.

Iya juga boleh dikata memiliki kemampuan “menjual” isu untuk menjadi berita utama atau headline di halaman depan. Isu-isu itu tentu yang hangat dan menjadi pembicaraan publik di Ambon.

Sebagai general manager dan kemampuan redaksionalnya diikuti oleh kemampuan manajerial dengan latar belakang magister managemen tentu menjadi kekuataan dalam mengembangkan bisnis surat kabar.

Baca Juga  Safari Jumat di Haltim, Kakanwil Kemenag Malut Ajak Sambut Ramadhan dengan Kegembiraan

Namun gaya dan terobosannya itu tak lama karena ia harus kembali ditarik ke Jawa Pos. Semua itu tak lepas karena fenomena jurnalistik Jawa Pos yang dibawa Pak Sam ini seolah melawan kemapanan di daerah. Dari soal skandal politik, proyek, korupsi, dan nepotisme semua menjadi tema isu.

Itu pula yang membuat banyak laporan oleh mereka yang merasa terganggu hingga kemudian putera Desa Luhu yang mantan wartawan MBM Tempo Biro Surabaya itu harus kembali ke markasnya di Surabaya.

Selain kembali ke Jawa Pos ia juga mengabdi sebagai seorang pengajar jurnalistik di Universitas Dr. Sutomo (Unitomo), Surabaya, hingga meraih guru besar.

Selamat jalan sang guru. Semoga husnul khatimah. Dilapangkan alam kuburnya, dimaafkan segala salah dan khilaf. Aamiin. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.