Sebelumnya, pada Jum’at malam itu, mereka mengadakan brifing dengan tujuan, pada hari esoknya memulai praktikkum di Kawasan hutan Taman Nasional, Aketayawi Lolobata.
Untuk mengetahui lebih jauh soal Kawasan hutan di Taman Nasional, Aketawayi Lolobata, kata Julham, para mahahsiswa harus lebih memahami kondisi hutannya seperti apa, dan bagaimana kehidupan di dalam bersama warga suku Togutil.
“Usia dari brifing itu, sayangnya permintaan kami ditolak oleh Kepala Resort Taman Nasional Aketayawi Lolobata, Saleh, bahwa mereka dan tidak diijinkan kami untuk masuk lebih jauh ke dalam Kawasan hutan,”ujar Dosen Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Nuku ini.
Mendengar pertanyaan itu, kata Julham, kembali bertanya, memangnya kenapa kami tidak bisa masuk ke kawasan hutan lebih jauh?
Selanjutnya, ia kemudian menjawab pertanyaan dari Julham. Saleh bilang, seiring dengan aktivitas pertambangan di Halmahera mulai gencar, dengan pembukaan hutan secara terus menerus di wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, sehingga mengakibatkan suku yang berada di kawasan tersebut mulai memasuki kawasan tersebut, dan segan-segan melukai orang asing.
“Bahkan warga suku Tobelo Dalam yang hari ini sudah hidup berbaur dengan dengan Masyarakat, ketika mereka melakukan aktivitas di hutan pun mereka takut,” ungkap Saleh.










