Seni dan Karya yang Besar Menurut WS Rendra

oleh -61 views
Link Banner

Oleh: Muhammad Khoirul Wafa, Santri Ma’had Aly Lirboyo dan Penulis Lepas

Pak Saini K. M. pernah menjelaskan tentang perjalanan proses kreatif seseorang dalam berkarya. Menurut beliau, hampir-hampir tak ada definisi paten untuk menjelaskan tahapan berkarya dalam seorang seniman dan penulis. Sebab selama masih berkarya dan menulis, maka seseorang akan terus belajar. Karena itulah pemahaman seseorang akan sebuah karya dan seni akan sangat dinamis.

“Penjelasan seorang seniman tentang diri, karya, dan caranya mencipta belum tentu benar. Selama seorang seniman masih hidup, ia tetap berada dalam perkembangan atau perubahan.

Dengan demikian, penilaian terhadap diri, karya, dan caranya mencipta, tetap bersifat sementara. Kalau pada suatu saat ia mempergunakan seperangkat ukuran dalam menentukan penilaian terhadap diri dan karyanya, di saat lain tidak mustahil dia mempergunakan perangkat lain atau bahkan yang bertentangan dengan perangkat yang pernah digunakannya.” (Saini K. M.)

Link Banner

Demikian juga karekteristik manusia yang terus berkembang. Terus belajar dari situasi dan apapun. Lebih-lebih yang menurut mereka menarik. Atau sesuatu yang memikat hati mereka. Maka seni adalah sesuatu yang tak pernah memiliki patokan. Bentuknya tidak dogmatis. 

Dulu orang mungkin hanya mengenal lukisan-lukisan indah dari aliran pada zaman renaisans. Lukisan neo klasik. Gambar-gambar seperti Monalisa, atau Penjamuan Terakhir misalnya.

Kemudian akhir-akhir ini, orang mulai mengenal aliran abstrak. Muncul aliran kubisme dengan karya-karya Picasso sebagai salah satu bukti deklarasi. Atau aliran ekspresionisme seperti dalam lukisan-lukisan Affandi. Bahkan aliran yang lukisannya seolah kabur, dan tidak rinci, seperti impresionisme dalam lukisan-lukisan Van Gogh. Dan seni modern semakin rumit buat saya. Sebab aliran abstrak saja ada yang abstrak ekspresionis, seperti dalam lukisan-lukisan Jackson Pollock yang tak pernah bisa saya mengerti.

Maka bentuk sebuah karya menjadi susah untuk dibatasi. Kreativitas tanpa garis demarkasi itu menumbuhkan seni yang menciptakan aturan mereka masing-masing. Aliran dan konsepnya masing-masing.

Demikian juga dalam dunia puisi, atau seni tutur kata. Entah itu cerita. Entah itu prosa. Dan sesuatu yang menolak disebut esai, tapi penulisnya memilih untuk menyebut sebagai fragmen.

Baca Juga  Jagoan Bulu Tangkis Indonesia Guncang Rangking Dunia BWF Junior

Maka gejala itu dijelaskan dalam kalimat W. S. Rendra berikut ini,

“Ternyata ‘bentuk seni’ itu tidak mutlak dan dogmatis. Melainkan selalu dinamis dan berkembang. Sebagai seniman, saya mempunyai pengalaman melakoni dan menghayati perkembangan ‘bentuk seni’ yang beragam.

Sebagai seniman, saya mempunyai disiplin untuk tidak mengabdi pada ‘bentuk seni’ tertentu. Melainkan saya harus menguasai daya kekuatan seni yang beragam yang mampu melayani kebutuhan dinamisme isi rohani dan pikiran saya.”

Puisi misalnya, siapa yang tak mengenal Chairil Anwar. Dan angkatan empat puluh lima? Puisi-puisi Chairil menyisipkan kalimat yang mengobarkan semangat, seperti “Bagimu negeri menyediakan api. Punah di atas menghamba, binasa di atas ditindas. Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai, jika hidup harus merasai.”

Namun sekarang, bahkan orang bebas bersajak. Meskipun dengan kalimat singkat seperti dalam Puisi Sutardji Calzoum Bachri, yang berjudul Luka. Atau Malam Lebaran karya Sitor Situmorang. Yang lagi-lagi juga tak pernah saya mengerti maksudnya. Hanya bisa saya nikmati…

Seperti kata mas Goenawan Mohamad, “Kita menikmati pagi, (dan puisi), ketika kita tak mencoba mengerti artinya.”

Meskipun kita tentunya tahu, bahwa seni dan karya tidak serta merta akan lahir tanpa sebab. Pasti ada alasannya. Alasan kenapa.

Mengapa Pramoedya Ananta Toer menulis tetralogi Buru. Atau mengapa seorang Ayu Utami menulis novel Bilangan Fu. Bukankah ada alasan jelas mengapa W. S. Rendra dijuluki si Burung Merak?

Tapi kadang itulah misteri. Sesuatu yang jadi urusan pembuat seni. Penikmat seni sekedar menikmati.

Karena situasi tertentu jugalah Rendra menulis puisi-puisi seperti Masmur Mawar.

“Peristiwa pernikahan dan jatuh cinta yang
mendorong saya untuk lebih menyadari peristiwa mati dan hidup dalam alam. Ya, keterbatasan, kefanaan, dan daya hidup menjadi pusat penghayatan saya. Dan sejajar dengan itu, saya berusaha berdialog dengan yang Abadi. Keterbatasan dan kefanaan saya mencoba mengerti dan meraba yang Abadi.

Baca Juga  Mahasiswa Obi Anggap Rapat Komisi Penilaian Amdal Maluku Utara Hanya Sepihak

Di dalam proses itu, saya merasakan anugerah daya hidup yang diberikan oleh yang Abadi kepada keterbatasan dan kefanaan saya. Memang, setiap manusia diberi anugerah daya hidup dan daya mati. Dan daya hiduplah yang bisa memberi makna positif kepada keterbatasan dan kefanaan manusia.” (W. S. Rendra).

***

[Nilai Suksesnya Sebuah Karya]

Jadi, memang dalam prosesnya sebuah karya bisa dipandang sukses atau tidak (bahkan menurut pengamatan seorang W. S. Rendra) tolok ukurnya adalah sambutan hangat masyarakat. Bukan nilai estetika dari penilaian orang yang mengerti, seperti kritikus sastra sekalipun. Jika sebuah karya meledak di pasaran, maka sah dia disebut sebagai karya yang besar. Kadang bahkan entah bagus atau tidak isinya.

Saya gak mengatakan kalau Shakespeare adalah “sastrawan gagal”. Hanya karena banyak kritikus seni waktu itu tidak sepaham dengan dia. Kenyataannya, sekarang bahkan Shakespeare atau Chairil Anwar sekalipun banyak dipuja-puja. Kalau mau percaya kritikus seni, maka novel Dan Brown yang berjudul Inferno itu adalah karya yang banyak celah (menurut mereka yang paham).

Tentunya ini sebuah motivasi buat seseorang yang buah tangannya belum dihargai. Bahkan oleh editor Kompas Gramedia. Tunggu saja suatu hari nanti. Dengan cara pembuktian akan masa depan. Biarkan waktu yang berbicara.

“Khalayak ramai adalah alat penunjuk suksesnya ‘bentuk seni’ yang lebih baik daripada kritikus. Sebab, khalayak ramai selalu punya kenyataan kehidupan yang akan dipakai untuk mengukur relevansi ‘bentuk seni’ maupun ‘isi seni’.

Sedangkan kritikus hanya punya teori seni dan selera seni yang kadang-kadang aneh secara memalukan karena sudah jauh terlepas dari kenyataan kehidupan manusia secara lahir maupun mental.” (W. S. Rendra)

Jadi, yang menjembatani antara seorang seniman dengan penikmat seni adalah wujud seni itu sendiri, menurut Rendra. Bukan juga kritikus. Dan boleh saya tambahkan untuk konteks sekarang, bukan editor atau penerbit buku.

Baca Juga  Pemkot Ambon Jadikan Pasar Mardika Sebagai Kawasan Tertib Protokol Kesehatan

Karya yang besar kadang bukan ditentukan oleh seberapa berkualitas. Tapi faktor eksternal yang kadang tak bisa dirasionalkan.

Makanya, kadang karya besar itu bukan melulu sesuatu yang rumit dan kompleks penggarapannya. Tapi kadang justru sesuatu yang sederhana dan tidak muluk-muluk idenya. Bahkan sesuatu yang bahkan menurut banyak orang yang “berkuasa” dianggap gak penting.

Seperti novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan. Yang konon gak memenangkan sepuluh besar lomba. Tapi bisa sukses besar diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Inggris, Perancis, bahkan Portugis.

T.S. Eliot konon pernah mengatakan, “Kesusastraan diukur dengan kriteria estetis, sedang kebesaran karya sastra diukur dengan kriteria di luar estetika”

Memang daya seni yang sesungguhnya, juga menurut Rendra, tidak terpaku pada ide dan peristiwa besar. Katakanlah Baghavadgitha atau epos Mahabharata. Tapi justru kesederhanaan karya dan ide akan menemukan kebesaran tersendiri dalam nilai sebuah sastra.

Ingatlah bahwa masyarakat kadang lebih suka hal-hal sederhana. Bahkan seperti cerpen dan novel Ahmad Tohari.

Kesederhanaan itulah yang banyak terjadi dan ada dimana-mana. Alih-alih peristiwa bersejarah seperti perang dunia kedua. Menarik, tapi kadang tak menyentuh hati. Karena bukan peristiwa sehari-hari. Jadi agak susah untuk dihayati.

Bukan hal yang glamor dan mewah. Tapi sesuatu yang menyentuh perasaan, seperti fenomena kecil yang membuat seseorang meneteskan air mata. Pedagang kaki lima yang digusur lapaknya. Atau pengamen jalanan yang tidur dibawah lampu merah. Tak ada yang didramatisir, sebab tiap hari seolah masyarakat melihat kejadian itu secara episode demi episodenya.

Seniman tak perlu mempersulit diri dengan menjelas-jelaskan. Sebab dengan diksi yang sekedarnya, perasaan sudah seperti menyatu.

“Sebab jembatan seniman dengan khalayak ramai hanyalah kekuatan ‘bentuk seni’. Meskipun ‘isi’-nya hebat, tetapi kalau ‘bentuk seni’-nya lemah, tidak akan menarik khalayak ramai. Ibarat orang gagap yang punya gagasan bagus, tetapi tidak mampu menyampaikannya.” (W. S. Rendra)

***

Sekian…

***

26 Juni 2020 M.