Senja: Indah atau Luka?

oleh -56 views
Link Banner

Cerpen Karya: Wirda Ashma Fadhillah

Waktu sudah menunjukkan pukul 16:42 wib. namun, aku juga belum beranjak dari tempat ini. tempat dimana terakhir kali aku melihatmu. Tempat dimana kamu memintaku untuk terus menunggumu disini. Aku selalu berharap Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk sekedar bertemu tetapi saling melengkapi dan bersama di dalam hubungan ikatan suci pernikahan.

Beberapa orang mulai meninggalkan tempat ini, hari semakin sore dan cuaca hari ini juga sedang tidak bagus. Langit semakin gelap, dan aku masih enggan untuk beranjak dari tempat ini. setiap aku kembali ke tempat ini, aku selalu berharap aku akan bertemu denganmu lagi. Perlahan, aku kembali mengingat hari-hari dimana kita sebelum berpisah.

FLASHBACK, Juni 2010
“Reinaaa! Reii!” suara itu sampai terdengar ke kamarku.
“Reii, itu ada tamu. Buka pintunya gih nak, masakan mama gak bisa ditinggal nih.” Seru mama dari dapur
“iya mah” jawabku malas.
“siapa sih yang datang siang-siang begini” gerutuku pelan sambil berjalan kearah pintu. Dan sebelum aku membuka pintu aku melihat dari jendela siapa yang datang, dan ternyata…

Link Banner

“APAH? AZIZ?” aku terkejut mendapati fakta bahwa orang yang bertamu adalah Aziz. Aku pusing tujuh keliling. Aku tidak tahu harus apa, “kenapa dia gak sms atau nelfon dulu kalau mau kesini, biar aku bisa siap-siap” gerutuku pelan.

Setelah beberapa lama kemudian dengan hati yang harus siap aku membuka pintunya. Perlahan terlihat wajah tampan dan senyum manis yang dibalik pintu itu.
“Hai Rei” sapanya
“a..aa.hh, Hai. Ada a..apa ziz?” tanyaku terbata-bata
“kamu sibuk? Mama kamu di rumah Rei?” tanyanya
“eeeh? Mama?” aku tidak percaya apa yang dia katakan. Sejenak aku terdiam.
Dia tertawa kecil mendapati ekspresi kaget dariku. “cute” ucapnya pelan.
“siapa yang datang Rei? Kok gak disuruh masuk tamunya.” tanya mama sambil berjalan kearah pintu.
“aaahh ini mah teman Rei datang” jawabku
“Assalamualaikum bu, saya Aziz teman sekelas Reina, saya mau ngajak Reina ke pesta ulang tahun teman kita Yola bu. Boleh?” tanpa basa basi Aziz langsung mengatakan tujuannya pada mama.

Baca Juga  Ini Riwayat Pendidikan Jenjang Karir dan Prestasi Kapolres Kepsul AKBP Herry Purwanto

Aku tertegun mendengar Ia bicara dengan mama, padahal yang aku tahu selama ini, ia jarang sekali bicara dan datang ke rumah wanita dan bahkan menurut penuturan temannya sejak kecil, ia bahkan tidak pernah naik sepeda motor berdua dengan wanita selain ibunya. Ia juga bertanya pada mama apakah aku boleh ikut atau tidak. Mama awalnya ragu memberi izin, namun mama ingat ia adalah salah satu siswa populer –berprestasi- di sekolah. Jadi mama mempercayakan aku padanya. Lalu, mama menyuruhku untuk siap-siap sedangkan Aziz dan mama bicara berdua di ruang tamu.

15 menit kemudian…
“Reii, kenapa belum siap juga. Nanti kalian telat ke acaranya. Kasihan tuh Aziz nunggunya lama.” Tanya mama
“iya mah, ini udah selesai.” Jawabku.

Aku melihat Aziz yang menatap kearahku, dia seolah terheran melihatku. Dan aku pun mulai merasa salah kostum. Sebelum pergi, aku sempat bertanya pada mama, bagaimana penampilanku. Mama bilang bagus dan cantik. Setelah berpamitan dengan mama, kami langsung pergi ke tempat tujuan kami. Sepanjang jalan, tidak satupun dari kami yang membuka pembicaraan, sampai pada akhirnya aku merasa ada sesuatu yang aneh…

“Ziz, ini kan bukan jalan ke rumah Yola” tanyaku
“memang bukan” jawabnya santai
“lalu ini mau kemana? Atau rumah Yola sudah pindah?” Tanyaku lagi
“enggak juga” jawabnya dengan sangat santai
Aku memilih berhenti bertanya pada Aziz, walaupun hati sedang bertanya-tanya akan kemanakah Aziz membawaku.

Tak lama kemudian, aku melihat tulisan “SELAMAT DATANG DI PANTAI BUNGA, BATU BARA”
“acaranya dibuat di pantai ya Ziz?” tanyaku penasaran
“eengh? Enggak” jawabnya
“lalu kita kesini ngapain?” tanyaku lagi
“……….”

Baca Juga  BMKG Gelar Workshop Sekolah Lapang Geofisika di Bitung

Ia tidak menjawab pertanyaanku, kami memasuki area pantai. Setelah memarkirkan motornya. Kami menuju tempat berteduh dekat pantai, dimana dari tempat itu kami bisa menikmati angin yang sepoi-sepoi dan pemandangan laut terbentang sangat luas tanpa penghalang. Ketika aku menikmati pemandangan pantai, dia mengambil fotoku tanpa izin. Terdengar suara ‘click’ kamera, aku langsung menoleh dan melihat kearahnya.

“Ya! Apa yang kamu lakukan” kataku sambil mengambil smartphonenya
“kamu cantik hari ini. aku suka.” Jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.
“aku rasa semua wanita cantik. Apa kamu juga menyukai mereka?” tanyaku lagi
“aku gak bilang mereka, aku bilang kamu. R E I N A!” jawabnya sambil mengeja huruf yang merangkai namaku.
“udah ah.” Jawabku sambil tersenyum kecil dan mengembalikan ponselnya tanpa melihat hasil gambarnya.
Lalu kemudian Ia mengajakku berjalan kearah Barat untuk melihat senja. Ya, dia penyuka senja.

“setidaknya sebelum hari itu tiba, aku sudah melihat senja bersamamu” ucapnya pelan sekali sambil melihat kearahku
“haa? Kamu bilang apa?” tanyaku untuk memastikan apa yang dia katakan karena aku mendengarnya samar-samar
“aku bilang, selain Indah, senja itu juga baik. Kenapa? Karena senja selalu lebih tau cara berpamitan ketika dia akan pergi. Ia seakan-akan tersenyum kearah kita dan mengucapkan selamat tinggal” jawabnya dengan sangat jelas.
“tetapi meskipun senja itu Indah, ia juga pasti akan tenggelam dan hilang” kataku dengan yakin.
“kamu benar!” jawabnya.

Ia terus menatap senja dengan penuh perasaan, saat itu aku menyadari ada sebagian dari dirinya yang ikut tenggelam bersama senja. Ia seperti berpikir keras tentang sesuatu.

Kemudian…
“kamu akan menungguku, kan?” tanyanya secara tiba-tiba dan menatap ke dalam mataku
“haaa?” aku terdiam sejenak, mencoba mencerna kalimat tanya yang diajukannya.
“jika kamu mau menungguku, kembali lagilah ke tempat ini 7 tahun lagi. Pergilah ke tempat dimana kita berteduh” jawabnya sambil menunjuk kearah teduhan yang kami kunjungi tadi.
“tetapi jika tidak, tetaplah datang ke tempat ini dan perkenalkan aku dengan lelaki yang membuat luluh hatimu. Aku ingin mengenalnya.” Lanjutnya lagi sambil tersenyum.

Baca Juga  Kutemukan Lagi Dirimu

Aku terdiam beberapa saat ketika mendengar apa yang ia katakan. Aku masih belum mengerti mengapa semua jadi begini. Itu seperti ia akan pergi jauh. Aku melihat kearahnya, aku melihat matanya berkaca-kaca dan hidungnya mulai memerah menahan tangis. Sepanjang jalan pulang, aku melihat tangannya mengusap wajahnya, seakan-akan ia mencoba untuk menghentikan sesuatu jatuh dari wajahnya.
FLASHBACK END

Sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kami tidak pernah komunikasi, bukan karena aku tidak memulainya, tetapi karena aku sudah kehilangan kontak dengannya. saat itu ia mengganti nomor ponsel dan segala kontak yang sebelumnya kami pernah terhubung. Hal itu entah dilakukannya dengan sengaja atau tidak. Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Jika aku tahu itu lebih awal, aku tidak akan membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia. Aku sungguh tidak mengetahuinya.

Kini sudah 7 tahun sejak hari itu. Aku menyesal tidak menjawab bahwa aku akan menunggunya. Aku terlalu kaget saat tahu fakta bahwa ia benar-benar hilang seperti senja. Sejak saat ia pergi, aku masih ke tempat ini, menunggu dan melihat senja, merasakan hadirnya dan terus berharap kedatangannya.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 18:12, hari sudah semakin gelap dan orang-orang juga sudah mulai pulang. Aku bangkit dengan putus asa, mataku mulai berkaca-kaca, dan kemudian aku merasakan buliran panas menjatuhi pipiku. Sejenak aku mengambil foto senja terakhir hari ini. Aku berjalan dengan penuh rasa putus asa, aku masih berharap dia akan datang hari ini, aku masih menunggunya. Aku masih ingin menemui senjaku yang hilang. Tetapi kenyataannya SENJAKU TIDAK KEMBALI!

SELESAI!