Senja yang Menjadi Saksi

oleh -18 views
Link Banner

Cerpen Karya: Hapsari Purwanti Rahayu

Dengan headset yang masih menyumpal di kedua telinganya, Bulan menikmati keindahan hamparan sawah dan pegunungan di senja hari yang cerah. Langit memancarkan sinar orange ke segala penjuru, pemandangan yang selalu membuat mata wanita itu terpesona. Bulan termenung menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, alunan musik instrumental yang berasal dari ponselnya menjadi soundtrack yang begitu serasi dengan keadaan sekitarnya.

Oh iya, buku diary toska yang selalu dia bawa juga turut menemani kesendiriannya di sore hari ini. Ketika hasratnya ingin menumpahkan semua yang mengganjal dalam pikirannya, Bulan membuka lembaran itu dan menggoreskan pena di sana. Singkat saja, hanya mampu mewakili perasaannya.

Ibu, Ayah, tenang saja, gadis kalian akan tetap tegar di dunia ini.
Seperti itulah rangkaian kata yang dituliskan oleh Bulan dalam diary mungilnya. Tak terasa memang, waktu melesat dengan begitu cepat. Dulu, Bulan hanyalah gadis bungsu yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya, berbeda dengan sekarang. Bulan di masa kini menjelma menjadi wanita mandiri yang mampu menopang tubuhnya agar tetap tegar berdiri dan melangkah di atas kerasnya hidup di dunia tanpa uluran kasih sayang seorang Ayah dan Ibu.

Sudah menjadi kenangan, kehangatan keluarga yang dulu dia rasakan kini telah tiada. Ibu sakit, wanita hebat itu pergi meninggalkan Bulan ketika usianya masih 10 tahun, lebih tepatnya ketika dia masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Tak lama setelah itu, Ayah pergi menjemput Ibu. Pria kuat itu tak pernah menampakkan jika dia lelah. Ayah yang sudah hampir dua tahun merangkap menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu untuk Bulan. Mungkin kerinduan pada Ibu yang mengganggu pikiran Ayah di setiap hari-harinya.

Baca Juga  Danrem 151/Binaiya Ajak Wartawan Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Sekarang hanya ada Bulan dan keempat kakaknya yaitu Mentari, Firman, Indra dan Bagas. Mereka semua sudah memiliki keluarga masing-masing dan juga tinggal di kota yang cukup jauh dari rumah Ayah dan Ibu. Sejak SMP, Bulan tinggal sendiri di rumah peninggalan mendiang kedua orangtuanya. Keempat Kakaknya yang membiayai hidup Bulan. Hanya Bulan yang masih berusia belia. Ya, dewasa sebelum waktunya.

Dengan berat hati Bulan melewati kesendiriannya. Tapi tenang saja, untuk saat ini sepi sudah menjadi sahabat baginya. Kepribadian Bulan sudah dibentuk dengan sedemikian rupa hingga menghasilkan wanita kuat seperti sekarang.
Hingga pada suatu hari, ketika dirinya duduk di bangku kelas satu SMA Tuhan mengirimkan manusia baik dalam hidupnya. Manusia yang mampu mengisi hari-hari Bulan menjadi berseri.

Sentuhan tangan yang mendarat di bahunya berhasil membuatnya terkejut. Menghancurkan lamunannya. Wanita itu melepas headset dan menutup kembali diarynya. Bulan mengalihkan pandangan ke belakang dan seketika jantungnya berdegup kencang ketika pelupuk matanya berpapasan dengan sosok itu, Bulan sempat termenung beberapa saat sebelum akhirnya menggenggam tangan orang itu. Baru saja otak Bulan memutar memori tentangnya, dan kini dia sudah berada di hadapannya? Apakah ini hanya khayalan?

“Benarkah ini kamu? Atau hanya imajinasiku?”
“Mana ada imajinasi bisa disentuh seperti ini,” katanya sambil melirik ke arah tangannya yang masih digenggam erat oleh Bulan.
Wanita itu melepaskan cengkeramannya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis tersedu-sedu. Dia Wahyu, pria baik yang selalu berada di sampingnya, sudah hampir empat tahun Wahyu pergi meninggalkan Bulan tanpa kabar, bahkan pamit pun tidak.

Baca Juga  Fernanda Colombo, Wasit Cantik Asal Brasil yang Lagi Viral

“Bulan, Maafkan aku.”
Wanita itu perlahan membuka kedua tangannya dan kini nampak wajah sendunya. Hidung dan wajahnya merah, air mata berlinang dari kelopak matanya.
“Kenapa aku harus mengetahuinya dari orang lain?” tanya Bulan sesegukan.
“Aku tidak ingin melihat kamu sedih, nanti bagaimana pengobatanku di sana jika yang terakhir kali aku lihat sebelum pergi adalah kamu yang menangis.”
Bulan terdiam sejenak. “Sudahlah, sekarang itu tidak penting. Bagaimana kondisimu Wahyu?” tanya Bulan.
“Sekarang aku sudah sembuh sepenuhnya Bulan.”
Bulan mengembangkan senyumnya. “Syukurlah, aku lega mendengarnya. Tapi tetap saja kamu jahat.”
“Maaf.”
Bulan tersenyum, meskipun hidungnya masih terlihat merah dan matanya juga masih sembab.

“Bagaimana kabarmu Bulan? Selama empat tahun ini, apakah kamu sudah memiliki kekasih?”
“Aku tidak baik-baik saja ketika kamu pergi tanpa pamit. Tapi tenang saja, Bulan kan wanita kuat.”
Wahyu tertawa kecil kemudian menoyor kening Bulan. “Kuat tapi nangis sesegukan.”
“Aku terkejut wahai Wahyu!”
“Sudah punya kekasih?” Wahyu mengulang pertanyaan yang sama.
“Kekasih? Yang benar saja! Tidak ada waktu untuk mengurusi hal macam itu tau.”
“Oh ya? Kamu belum punya kekasih?”
“Ya ampun Wahyu, ada apa denganmu? Padahal kita baru saja bertemu, memangnya tidak ada pembahasan lain yang lebih layak untuk dibahas?” Bulan memalingkan wajahnya ke arah semburat langit jingga yang masih terpancar dari sela-sela pegunungan di depan sana.

Wahyu memasukkan tangannya ke dalam saku celana, dia mengeluarkan kotak love berwarna merah.
“Bulan,” panggil Wahyu, pria itu kini menggenggam tangan Bulan. Wanita itu hanya menatap bingung ke arah Wahyu. “Sudah lama aku memendam perasaan istimewa untuk kamu.”

Baca Juga  BMNU Kepulauan Sula Minta Polres Usut Dana Pembangunan Tiga Sarana Ibadah

Bulan melirik ke arah sebuah kotak merah berbentuk love yang bisa Bulan tebak pasti berisi cincin. Iya, itu kotak cincin. Apa ini? Mungkinkah perasaan yang sudah susah payah wanita itu kubur demi kelangsungan pertemanannya dengan Wahyu akan benar-benar menjadi nyata?
Ya, sempat dia merasakan perasaan itu, beberapa tahun silam. Dia pikir itu hanyalah cinta monyet yang terjadi pada kebanyakan remaja, Bulan juga tidak mau kehilangan Wahyu.

“Tunggu dulu, apa maksudnya?” tanya Bulan.
“Haruskah kuperjelas lagi Bulan?” tanya Wahyu dengan ekspresi yang benar-benar menggemaskan, dia menahan gugup.
“Yang jelas dong! Aku tidak mengerti.”
“Apakah kamu mau menjadi kekasihku?”
“Bukankah kita sahabat?”
“Kita bisa menjadi sahabat sekaligus teman hidup, bagaimana? Aku akan selalu berada di sisimu.”
“Emm, harus aku jawab apa?”
“Loh jangan tanya padaku, tanya pada hatimu sendiri.”
“Em, gimana ya?” tanya Bulan yang semakin membuat Wahyu geregetan.

“Jika menolak adalah keputusanmu, tidak masalah. Itu tandanya kamu bukan jodohku, tapi hanya sekedar sahabatku.”
“Kalo aku terima?’
“Itu tandanya kamu adalah sahabat sekaligus jodoh yang Tuhan kirim dalam hidupku.”
Bulan menganggukkan kepala. “Saya terima,” jawab Bulan kaku, setelah itu tertawa renyah.

Wahyu menyunggingkan senyumnya kemudian menyematkan cincin berbentuk daun di jari manis Bulan. Mereka tersenyum cerah sembari menikmati sang surya yang sebentar lagi menghilang dari cakrawala.

Senja hari ini menjadi saksi dari awal kisah cinta mereka berdua. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.