Senpi peninggalan kolonial ditemukan di Aertembega

oleh -125 views
Link Banner

@Porostimur.com | Manado : Masyarakat kembali menemukan sepucuk senjata api penunggalan kolonial Belanda.

Kali ini senjata api yang dutemukan berlaras pendek tipe pelontar dengan nomor seri  GZ SO- NR.4 No.1960-NR.025.

Keterangan yang berhasil dihimpun dari tubuh Kepolisian Sektor (Polsek) Aertembaga, Minggu (19/11), menyebutkan, penemuan senpi oleh masyarakat itu sendiri secara bertahap.

Dimulai dari keterangan Faisal Lebang (53), warga yang berdomisili di Kelurahan Winenet Dua Lingkungan IV RT.013, Kecamatan Aertembaga.

Menurutnya, pada Jumat (17/11) sekitar pukul 19.00 Wita, ia menemukan sepucuk senjata api di dekat pot bunga, kediaman Vikram Husain, tak jauh dari rumahnya.

Senpi itu pun diantarnya ke kediaman Yaskur Gobel untuk diserahkan, namun yang bersangkutan tidak berada di rumahnya.

Baca Juga  Danlanud Leo Wattimena Terima Kunjungan Kakanwil BPN Maluku Utara

Baru pada Sabtu (18/11), ia pun menemui Yaskur Gobel dan menyerahkan senpi yang ditemukannya.

Usai menerima senpi dimaksud, Gobel pun melaporkan dan menyerahkannya kepada Polsek Aertembaga.

Sesuai keterangan Vikram Husain (11), disebutkan bahwa senpi ini pertama kali ditemukan sekitar 2 minggu yang lalu, di samping kediaman Alfon Waturandang, yang juga berdomisili tak jauh dari lokasi penemuan senpi.

Diakuinya, senpi dimaksud dipungutnya dan dibawa pulang tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Saat dimintai keterangan oleh aparat kepolisian, Alfon Waturandang (39), menduga merupakan peninggalan kolonial Belanda.

Dimana, senpi dimaksud ditemuinya saat membersihkan halaman Erens Wurangian, paska bencana alam banjir bandang yang terjadi pada Bulan Februari 2017.

Baca Juga  BMKG: Ikan Mati Massal di Pantai Ambon Bukan Pertanda Tsunami

Namun setelah 8 bulan menyimpannya, senpi dimaksud kemudian dibuangnya di samping rumahnya.

Dalam keterangannya kepada aparat kepolisian setempat, Erens Michael Wurangian (38), mengaku senpi dimaksud ditemukannya dalam kotak brankas milik ayahnya, di lokasi perbaikan Kapal (Dok) pada tahun 2007.

Tanpa pikir panjang senpi bersama kotak brankas dimaksud pun dibawanya pulang.

Senpi dimaksud dalam kondisi berkarat dan tidak berfungsi (rusak), sehingga yang bersangkutan tidak pernah mengutak atik atau menggunakannya.

Hingga beberapa waktu lalu, senpi dimaksud pun dibuangnya. (ardan gala)