Sepuluh Sajak Merdeka Dino Umahuk

oleh -68 views
Link Banner

1. Narasi Tanah Asal
Airmata itu telah ku kristalkan jadi rinduTak tergertak ajal tak takut binasaLaksana Khairun menuju CastelaBerani  Soya atau Moya
Luka-luka negeri di mana cinta terusir jadi kembaraTelah ku keringkan di singgasana para KolanoDini hari tadi usai beduk SubuhTapi Sultan berumah di Jakarta tak lagi di Ake Santosa
Tanah itu jua  sio konaMoloku Kie Raha foto-foto doka soya rako moiTanah airmata yang di jaga Datuk-datukTapi di kantor Residen dorang curi uang dari ngofangare
O… Tanah itu jua MilikuChau Yu Kua pelaut Tionghoa di Abad 13 Masehi bilangMaharaja Sriwijaya Seri Indrawarmankirim puteri dari Janggi dengan burung Kakatua jadi bingkisanO….Miliku  O… Malu AkuJadi MolokuJadi Maluku
Jaga pintu muka di LolodaAwas dorang curi emas dari Kao-Malifut di sana hal ma heraJaga pintu belakang di BacanAwas dorang kuras ikan dari laut di situ para Sultan berebut Sula
Janji Kaicil Paparangan mesti di tunaikanMeski ajal mengintai di kepala tanggaKe tepian semula Perahu Kapitan harus menuju 

                                              Jakarta, 17 Februari 2005

2. Sumpah Pattimura Muda
Demi asin lautan yang menghitamkan kulit ari
Kesetiaan adalah bahasa lumba-lumba yang mestinya di mengerti sebagai cinta
Nasib anak negeri yang hanya bertengger sebagai janji
Telah menjelma bisa pari sejak hati terlukai 
Kami bukan ikan-ikan mati yang bisa dilempar sebagai tumbal negara ini
Demi kesetiaan berpuluh tahun yang hanya menorehkan luka
Anak-anak hitam, bau bia, bau laut kini memanen kata merdeka
Sekali berucap lawamena selebihnya parang dan salawaku akan berkibar

Bahasa perlawanan sejak Nuku hingga Pattimura adalah bahasa kesetiaan
Kepada negeri airmata dan darah tertumpah sesungguhnya karena cinta
Tetapi Jakarta telah menarik balik pabrik gula di Laimo
Jakarta telah mengambil stasiun oceanologi dan menaruhnya di Bali
Jakarta telah membiarkan kami sejak 19 Januari 1999 tanpa hati
Lalu kesetiaan macam apalagi yang harus kami beri
Untuk hanya sekadar jadi petinju dan penyanyi di jantung negeri
Bukankah Soekarno bilang tanpa kami Indonesia tak jadi apa-apa
Seribu ton kopra yang kami bawa ke istana dimana kini harganya?

Maka demi asin lautan yang mengeritingkan rambut kami
Sumpah Pattimura muda telah kami ikrarkan di seluruh pelosok negeri
Biar peluru menembus kulit kami tetap menerjang
Meminta keadilan sebagai harga atas nasib anak negeri
Banda Aceh, 3 Maret 2008

Link Banner

3. Hikayat Tanah Ibu
Tapi disini tanah air kami, tempat kelahiran putra pemberani
Sekali kau tikam cidera para Kolano menuntut bela
Lalu Khairun, lalu Babullah, lalu Banau
Mengangkat parang maju ke muka
Siapa tak putih muka ketika Nuku menuntut bela

Tapi disini laut kami tempat rurehe menari-nari
Sekali kau olesi cuka, para canga menabur murka
Lalu cora-cora, o… jangan coba-coba
Sudah banyak kami bikin binasa
Seperti Benteng Castela yang tinggal rangka

Tapi disini hutan dan gunung kami
Tempat memanen harapan dan mimpi
Tempat bersarang sang cala ibi, jin salai eee doti-doti
Jangan coba curi isi bumi, amarah Togutil tak tertandingi
Lalu Menge, lalu Siboyu, lalu Kadai ke dalam hutan Moro-moro
hotu… yeee… mari katong angkat senjata melawan angkara

Di Sanana torang bilang air mandidi, capat mandidi
Orang Tobelo datang baku potong, parang, tombak, pana-pana
Cikar kanan tarik layar para canga menggasak Belanda
Jangan coba tada nanti laut jadi merah
Darah tumpah para kapita mengintai nyawa

Baca Juga  Menteri PPPA Canangkan Sekolah Ramah Anak di Kepulauan Tanimbar

Tapi disini tumpah darah kami
Tempat ibu melahirkan sunyi menyusui bumi

Batavia Air :  Jakarta-Ternate, 15 Oktober 2009

4. Pemberontakan Dari Timur
Dan kami menulis puisi dari pinggir-pinggir laut
Dari batas ombak dan pantai-pantai sunyi
Maka terlahirlah narasi tanah asal mendendangkan hari
Bahasa perlawanan bagi pusat segala kuasa juga suasa

Dan kami menitiskan tanda di jalan sejarah
Tentang perlawanan kepada penjajah
Tentang kepahlawanan dan pengkhianatan
Tak luput Jakarta selalu aniaya, juga para pujangga

Dan kami merangkai bahasa sebagai tanda merdeka
Demi kisah masa lampau yang mengharum seperti pala
Seperti cengkeh seperti gaharu seperti lada dan kayu manis
Koran-koran Jakarta, kami tak butuh itu sejak lama
Puisi kami abadi di pasir pantai mengalun bersama ombak

Dan kami tak menulis puisi demi sepiring nasi melainkan hati
Dari Morotai sampai Sula, kata-kata adalah bunga
Para jujaro senandungkan cinta tentang perempuan bermata purnama
Dan tak butuh dana untuk lembaga, puisi kami bersemayam di batu

Tentang Jakarta biarkan saja seperti itu sudah dari dahulu
Tempat berawal orang-orang yang kalah yang tak berani baku adu
Seperti Jan Pieterson Coen yang lari ke situ demi menghindar amarah Nuku
Puisi kami bersarang di laut memotong penjajah dari waktu ke waktu

Narasi tanah asal tempat bersarang para pemburu
Sejak Nuku sudah begitu, menolak tunduk kepada baharu
Puisi ini juga begitu tak gentar maju seperti derap pasukan alifuru
Begitu ikrar disumpahkan dulu dari Halmahera sampai ke buru

Bangkok, 22 Oktober 2009
5. Sumpah Beta Bukan Pemuda Indonesia
Sumpah Beta bukan pemuda Indonesia
Beta seng mengaku berbangsa satu
Karena dari ujung Halmahera sampe Tenggara Jauh
Katong di Maluku punya banyak bangsa-bangsa

Sumpah Beta bukan pemuda Indonesia
Beta seng mangaku bertumpah darah satu
Karena tanah dan air di kampung beta
Adalah pulau-pulau dan laut yang biru
Bukan lautan darah yang ale dong bilang itu

Sumpah Beta bukan pemuda Indonesia
Beta seng mangaku berbahasa satu
Karena dari utara sampe selatan daya
Katong punya banyak bahasa tanah
Bahasa ibu tempat katong hidup deng rindu

Bangkok, 28 Oktober 2009

6. Tentang Tanah yang Tak Berpusat di Jawa
Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah tumbuh keliru
Ketika itu sebelum empat puluh lima laut adalah punya kita
Dahulu disana Ba’abullah berjaya mengusir penjajah untuk pertama
Seribu ton kopra yang kita kirim ke istana mengapa kini tak punya harga

Tahun-tahun nenek moyang tahun-tahun kejayaan sudah lama hilang
Di pelataran Masjid Sultan kita hanya mampu menghitung kejatuhan
Dengan sorban berlipat-lipat dan zikir diam-diam seolah kenyataan adalah adjab

Baca Juga  Jengkel, Seorang Ibu di Boyolali Aniaya Anak Kandung Hingga Tewas

Dimana itu dendam kesumat yang dulu bikin Portugis pucat muka
yang bikin Pieterson Coen terbirit-bitir lari dari Fort Oranje karena takut binasa
yang bikin Lopez de Mesquita sengsara setelah khianat di benteng Castella
yang kirim cora-cora jaga cengkeh-pala dari hongi tochten hingga Belanda hilang kuasa

Jou eee jangan cuma inga dansa-dansi deng noni Belanda di Ake Santosa
Jangan coba jadi Tarruwese yang tak setia kepada Nukila, nanti jadi binasa
Ini negeri tak sama harganya dengan dua kadera di Senayan sana, O… jangan buang muka
Jangan sampai Saidi, Majira dan Kalumata jadi marah nanti laut jadi merah

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah yang melupai ibu
Dan tanggal dua puluh delapan oktober itu tak seorangpun kita teken di situ
Tetapi kopra kita kirim jua ketika republik muda belia tak punya apa-apa
Dimana Irian beribukota kalau tidak di bumi Kie Raha, O… Soa-Sio lama terlupa lama terlunta
Lalu dana kopra yang sampai sekarang gudangnya torang bilang Dakomib itu untuk siapa?

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah yang tak punya ibu
Tahun seribu dua ratus lima puluh tujuh Momole Ciko dari Sampalu sudah pimpin ini negeri dengan gelar Baab Mashur Malamo. Jangan lupa itu, kalau berani mengaku anak-cucu
Tetapi sekarang apakah ada yang tercatat di dalam buku, O… Galelano saling baku bunuh
Dari ujung Halmahera sampai ujung Taliabu torang baku tipu demi tungku saling baku dubu

Ya Jou eee…Afa doka kamo-kamo/ Isa mote hoko mote
Ma dodogu ogo uwa/ Tego toma ngawa-ngawa

Indonesiakah yang melahirkanmu atau sejarah yang mendurhakai ibu
Maka demi air mata suci Ratu Nukila dan pusara Tuan Kadi Abdussalam di Cape Town sana
Mari angkat parang maju ke muka menuntut bela. Anak negeri sudah lama sengsara
Biar Juida Kasiruta jadi saksi lautan darah, amarah menyala, pica-pica
Sudah lama beta angkat bicara tentang tanah yang tak berpusat di Jawa

 25 November 2009

7. Indonesia Bukan Tanah Air Beta
indonesia bukan tanah air Betalalu tuan bermanis mukamenghiba-hiba meminta kopraseribu ton kami kirim jua ke jawadakomib saksi sejarah ketika itu enam puluh dua
sejak mula Beta merdeka di tanah pusakalalu tuan mengaku saudaraSoa Sio tinggal meranatiada tuan berbudi bahasaRaja Ampat lepas kuasa Nuku tak ada
Disini tempat lahir Betadibuai dibesarkan bundaKie Raha tanah pusaka Ba’bullah menjagaPata Siwa sio Amboinatuan datang membawa petakajanji bahagia padahal airmatakami sengsara tuan berpestasejak empat lima terus meranaserupa dusta di Benteng Castella
indonesia bukan tanah air Betameski tuan kokang senjatasampai akhir menutup mata
Maluku Tanah Air Beta, 4 Agustus 2010

8. Bukan Gurindam Pasal 33
Tuan tuan yang terhormat. Selamat malamDengan ini kami sampaikan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsaDan oleh sebab itu puisi-puisi kami tulis, mantra-mantra kami kutipKarena penderitaan di atas dunia harus dihapuskanKarena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan
Ini bukan gurindam pasal ke tiga puluh tiga, terima kasih
Tuan tuan yang terhormat. Selamat malam, selamat makanBersama ini kami sampaikan bahwaBatavia bukanlah bintang di dada garudaSumber cahaya segala yang kuasaDan karena kami bukanlah binatang, hutan dan rantaiTiadalah padi dan kapas dapat melukai, sejak tiba kitadi depan pintu gerbang kemerdekaanDan tak sejahtera dan tak bersatu dan tak adilKarena selalu berpaling muka:Takutkan garuda menatap ke muka?Sirnalah keindahan laut dan pantai, hutan dan gunungHalaman rumah kita cuma alang-alang
Tuan tuan yang terhormat selamat malamOrang bilang tanah kita tanah surgaTongkat kayu dan batu jadi tanamanTapi nasib tergadaikan di ujung nadiSusu tak terbeli orang pintar gemar korupsiIkan dan udang memilih pergi
Bumi, air beserta isinya telah dikelola oleh negaraBagi sebesarbesarnya kesejahteraan penguasaBagi sebesarbesarnya kepentingan Jakarta
Ternate, 5 Desember 2010
Orang bilang tanah kita tanah surga/Tongkat kayu dan batu jadi tanaman=bait lagu Koes Plus.Susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi=bait lagu Iwan Fals

9. Lawa Mena
Lawa Mena, beta masih mudaseng takut binasasumpah parang di muka
beta ini Kapitan yang murkadari Morotai sampe ke Kisarbeta tahan segala cuacabeta tanam segala kuasabikin tuan hancur binasa, pucat mukaseperti Belanda kehilangan pala
Mena Moria, ini tanah beta yang punyaseng ada harga seng jual di kotajang tuan paksasekali berteriak merdekatuan rubu rata deng tanah
Upu Latu, sepuluh cora-cora berlayar ke Sulakini sudah waktunya tibabilang Salahakan jang bikin maskenatanah air meminta merdeka
mari baku aduseribu Alifuru asalnya satutoma maju
Pata Siwa-Pata Limaangin tenggara bawa benderahela panggayong jangan pawelaLawa Mena, maju di mukaPattimura muda seng takut binasa
            Batavia, 16 Januari 2014

10. Siklus Kabasaran Generasi Laut
bila telah datang musim timur menuntun ombak bismillah tuan. kunci hatimutegak di lambung perahukencangkan temali layar, kuatkan ikatan perahukapitan laut menerjang maut. mati di lautbegitu sumpah kita pancangpada siasat yang mereka rancang
dan atas nama lunas cora-cora, juanga juga lopa-lopakita melaju bagai datuk laut, bagai hantu lautmelintas limapuluh sentimeter di atas kulit lautparang di muka terbakar sudah bima dan donggala
bismillah Tuhan yang punya kuasakabal jadi palias / palias jadi besi besi jadi wajah / pelurumu jadi airjadi lumpur / bismillah
bila telah datang musim barat menenun hasratke timur kita  menuju papua. salahakan berdiri di mukaberayun laju perahu canga bagai setan murkasudah waktunya kita bicara. sakalekadoa-doa mengangkasa di pagi butalayar-layar diberi mentera 
demi Tuhan yang punya kuasademi gamalama yang menegaki lautan demi dukono yang mengasapi anginbarakat guru barakat Muhammadak bal mum / mum bal akali ba tsa salah. ya, tuhan
lalu ketika datang musim pancarobautara dan selatan bagai rindu terlunta-luntaperempuan meminta. pulang kita ke pelukan mesraberkasih-kasih bercinta-cinta penuh asmarapeluru meleleh di tubuh para binimembelah laut membelah bumilahir anak laut. jadi anak laut
nur allah nur muhammadcahaya anakku seperti bulan purnama
            Ternate, 11 Desember 2015