Seseorang Itu Bukan Aku

oleh -37 views
Link Banner

Cerpen Karya: Arizatul Lailin Nisfah

Malam panjang kulalui dengan chat romantis bersamanya, dia begitu lucu. Dika namanya, dia adalah ttm sekaligus kakak kelas terbaik waktu SMP. 6 tahun mengenalnya membuatku berharap penuh akan resminya hubungan kami menjadi status pacar, tapi aku mengerti, dia tipe orang yang simple.

Namun kerap kali aku mendengar kabar kalau dia dekat dengan beberapa perempuan di kelasnya, aku tetap mencoba yakin dia setia. Meski aku tau kita hanya ttm, ya ujungnya jadi atau tidak. Yang aku sedihkan kini ia pindah sekolah, membuatku sungkan jika setiap malam mengirimkan pesan padanya, tapi hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

20 januari 2021 hubungan kami mulai renggang, ia tak seperti dulu. Chatnya nampak dingin dan tidak fokus pada topik, semenjak itu aku mulai menghapus kontaknya dari handphoneku. aku adalah tipe orang yang “oh gitu? Yaudah.”

Link Banner

2 minggu setelah aku menghapus kontaknya, dia tidak pernah lagi mengirimkan pesan kepadaku. kini dia tidak lagi mencari seseorang yang ia anggap ttm nya, meski di kontak handphoneku tidak ada lagi nomornya aku masih saja menyimpan chat kami yang dulu, aku sering membacanya ketika larut malam, aku suka bernostalgia tentangnya.

Malam panjang penuuhhh, ketika gabut kucoba mencari tahu tentangnya. Aku baru ingat kalau aku pernah bertukar facebook dengannya, yaaa kami memang sedikit alay.

Perlahan kuingat kata sandinya, dan suguhan layar facebook pertama langsung ku tuju di bagian pesan, satu, dua, perlahan kuulas pesannya, di urutan paling bawah aku melihat pesannya dengan perempuan berjilbab hitam di foto profil perempuan itu, dengan segera kubuka aku terkejut bukan main.

Ternyata mereka pernah berpacaran, aku terdiam lesu sejenak memandang langit karena tak percaya dengan semua.

Baca Juga  2020 yang Aneh

Anginnya pas dengan suasana hati, kulanjutkan kembali membaca pesan mereka perlahan mengombang-ambing perasaanku. mereka berpacaraan saat kami sedang dekat, “aku pengen ngomong, nanti aku tunggu di perpustakaan. sayang, sekalian bawain buku catatanku ya, yang kamu pinjam kemarin.” Sekilas membuatku patah hati. Lalu segera aku log out dari facebooknya.

Pelan namun kuharap bisa melupakan, sepulang sekolah kebiasaan yang dulu (membaca chatnya di atas Kasur) tidak lagi kulakukan, aku mulai melupakan hal kecil yang membuatku bahagia, dia adalah pertama yang membuatku benar-benar merasakan sesuatu merah jambu. tapi kini harus ada pada kata “titik” semua berakhir.

“Klunting” nada handphone ku berbunyi, segera kubuka. Kupikir itu adalah chat dari vina soal belajar kelompok, tapi ternyata, “assalamu’alaikum, save ya ini aku, Dika.” Tulisnya, aku hanya menjawab salamnya dan bersikap wajar, dia memulai membuka topik “sudah lama ya, maaf ya aku gak bisa ngabarin handphoneku hilang waktu aku makan di warung. Gimana kabarmu, Sal? Aku kangen, aku kangen chat sama kamu sampai malem” tulisnya dengan emoticon tersenyum.

“Wa’alaikum salam, kasih aku alasan, Dik. Kenapa kamu lakuin sesuatu yang buat aku patah hati seperti ini, aku gak pernah memasalahkan tentang waktu lamanya aku menunggu, aku juga it’s okay dengan setatus ttm. Kalau kamu memang gak ada rasa sama sekali ke aku, ngomong dong, Dik. Sikap kamu perlahan buat aku benci sama kamu. Maaf, Dik.. Aku sengaja kepoin tentang kamu, aku nemuin sesuatu di pesan facebookmu, perlahan buat aku merasa dikhianati. Jujur Dik.. saat kita masih bersama, kamu pacaran sama teman kamu yang namanya maha kan?.” Tulisku sedikit menjelaskan. Dia langsung meng read pesanku “salma, aku minta maaf. Yang pertama aku gak bisa kabarin kamu karena aku mondok dan handphone hilang, yang kedua aku memang pernah berpacaran sama maha. Tapi aku anggap itu biasa, Sal. Semua terjadi dan waktu itu aku memang nyaman” jelasnya, aku hanya meng read pesannya.

Baca Juga  Bapenda intensifkan dan ekstensikan sumber pendapatan daerah

Hati meredup kelabu, ia tak lagi abu-abu. Hati yang terbiasa mengenal luka kini mulai mengolah cara agar tak lagi bertemu luka. 2 bulan setelah chat itu, aku tak lagi membaca atau melihat kapan terakhir kali ia online, aku mulai lupa dan menganggap semua ini wajar, aku berani jatuh cinta padanya sampai lupa kejuatan apa yang sedang ia persiapkan.

Hari ini, dia mengirimkan pesan padaku lagi “salma, apa kabar?.” Tulisnya. “baik” jawabku singkat. “salmaaa” ketiknya lagi, jawabnya cepat, aku hanya meng read dan kembali meminum susu coklat kesukaanku, kugayuh handphoneku di atas meja belajar, kulihat profil whatsappnya bersama perempuan lain dia cantik dan nampak dewasa, mereka juga cocok.

Dika kembali mengirimkan pesan “Sal, aku mau ngomong” ketiknya, aku pun langsung membalasnya “DIK!!! Maaf banget!! Kamu gak pernah mau tau perasaanku gimana dan kamu udah sama yang lain, perlahan kamu mulai khianatin aku, aku sadar kok, Dik. Kita Cuma TTM, ya mungkin akan berlanjut atau udahan. Tapi aku juga butuh yang namanya, ini pasti atau ini udahan aja, sama seperti yang kamu kasih pasti itu ke maha dan ke perempuan di profil whatsapp kamu. Kamu pergi jauhh, perlahan itu buat aku sakit, Dik. Aku juga masih nunggu soal kita, tiba-tiba kamu datang kayak gini.” Voice noteku dengan nada sedikit naik.

“Sal, satu hal yang buat aku gini, aku memang dulu sayang sama kamu, Sal. Karena aku tau, kamu orang yang baik dan seharusnya juga untuk orang terbaik dan itu pastinya bukan aku, makanya aku buat seolah aku yang jadi tokoh antagonis supaya kamu lupa sama aku. karena aku dengar dari Lusi, semenjak kita ttm. Fokus belajarmu mulai terganggu, pasti itu karena chat kita sampai malem-malem kan?”. Aku membacanya dan coba memahami, “Dik aku mohon setelah kamu baca chat ini tolong hapus kontak aku dari handphone kamu. Jangan gunain alasan aku terlalu baik untuk kamu. Semua orang yang mau berkhianat alasannya juga gitu semua, Dik. basi tau gak!! Asal kamu tau ya, aku gak fokus belajar bukan kareena chat kita sampai larut malem, tapi karena mama aku di rumah sakit kritis. Aku harus mikir ini, mikir itu. I’m very shocked and I stress, Aku ketemu kamu, aku butuh sosok yang bisa dampingin aku, aku sayang kamu Dik. Tapi Apa pengakuan kamu tentang aku di hatimu, kamu naif aku benci kamu Dik. Dengan kamu terus chat aku, itu semakin buat aku benci sama kamu, kamu pikir gimana? Move on itu mudah? Ya Dik, kamu mau aku tau kan kamu bisa bahagian sama perempuan yang kamu jadiin profil di whatsappmu sedangkan aku nggak!!. AKU BENCI KAMU, NAIFF!!” aku langsung mem blokirnya.

Baca Juga  Muldoko Bantah Ada 6 OAP Terbunuh di Deiyai

Dik, gak ada yang terlalu baik buat kamu, semua gak sempurna. Yang ada hanya Saling melengkapi itu yang bisa buat kita jadi terbaik. Tapi gak papa perlahan aku tau, patah hati ini adalah patah hati pertama sebelum menunggu datangnya cinta yang benar-benar sejati. Terimakasih, Dik. Aku pernah menyayangimu. (*)