Muslim Arbi menegaskan, tugas seorang gubernur adalah untuk mensejahterakan masyarakat bukan bermain media sosial. Apalagi mengumbar hal yang tak perlu bagi kehidupan rakyat.
”Gubernur Sherly stop main TikTok ya. Fokus urus nasib rakyat,” tegas dia.
Berikut lima bahaya seorang pemimpin seperti gubernur yang terlalu eksis di media sosial yang berhasil kami rampung dari berbagai sumber:
1. Oversharing Mengaburkan Batas Profesional dan Pribadi
Ketika seorang gubernur terlalu sering membagikan aktivitas pribadinya di media sosial, batas antara kehidupan pribadi dan profesional menjadi kabur. Hal ini dapat menimbulkan persepsi bahwa gubernur lebih fokus pada citra pribadi daripada tugas pemerintahan. Menurut hasil riset Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, oversharing dapat memicu gangguan kesehatan mental dan konsekuensi karier yang serius.
2. Risiko Manipulasi dan Disinformasi
Kehadiran yang intens di media sosial membuka peluang bagi penyebaran informasi yang tidak akurat atau manipulatif. Konten yang dibagikan tanpa verifikasi dapat menyesatkan publik dan merusak kredibilitas gubernur. Kompasiana menyoroti bahaya manipulasi digital di media sosial yang dapat mempengaruhi opini publik secara negatif.
3. Kecanduan Media Sosial dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, mengganggu waktu tidur, dan meningkatkan risiko depresi serta kecemasan. Alodokter mencatat bahwa kecanduan media sosial dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental, termasuk FOMO (Fear of Missing Out) dan cyberbullying.









