Sidak ke RSUD Chasan Boesoirie, Ketua DPRD Malut Ngamuk. Ini Sebabnya

oleh -36 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Baru saja dua hari lalu dinyatakan sembuh dari Covid-19, Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara, Kuntu Daud langsung melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke RSUD Chasan Bosoeirie Ternate, Selasa (15/7/2020) pagi tadi.

Kuntu baru saja dinyatakan sembuh dari Covid-19 pada 12 Juli 2020 kemarin marah besar ketika melakukan sidak. Pasalnya Kuntu tidak menemukan dokter dan petugas medis di ruangan kerja dan ruang perawatan. Para petugas rumah sakit banyak yang tidak berada di tempat.

Awalnya orang nomor satu di Deprov Malut ini, memeriksa beberapa ruangan, di antaranya ruang IGD untuk mencari lokasi tempat laboratorium, di mana mesin PCR berada.

Kuntu kemudian mengunjungi Laboratorium RSUD dan ruang perkantoran untuk memastikan bantuan PCR oleh pemerintah pusat sudah berjalan atau belum.

Namun Kuntu tidak menemukan satu pun petugas di dalam ruang itu, bahkan para petinggi RSUD juga tidak berada di tempat, termasuk Dirut RSUD Chasan Boesoirie Syamsul Bahri.

Baca Juga  AJI: Pemerintahan Jokowi Merusak Warisan Reformasi

Kuntu saat berada di ruang IGD RSUD mempertanyakan keberadaan dokter ke sejumlah petugas medis, namun tidak satu pun yang mengetahui soal mesin PCR.

Ngoni tara tau,turus dokter sapa lagi,semua dokter ngoni tara tau. (Kalian tidak tahu, terus dokter siapa lagi, semua dokter kalian tidak tahu),” semprot Kuntu kepada salah satu petugas medis.

Ia juga mengatakan, selama menjalani karantina mandiri tidak mendapatakan pelayanan medis dari gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Provinsi Maluku Utara.

Padahal menurutnya, anggaran Rp 163 miliar yang ditandanganinya termasuk dengan obat-obatan.

“Selama ini tarada obat, setengah bungkus me tara ada. Dia pe pambungkus me trda, padahal saya divonis dari rumah sakit ini. Luar biasa, obat begitu saya tandatangani begitu banyak Rp 163 miliar lebih untuk apa,” tukasnya.

Baca Juga  Jenderal Gatot Nurmantyo Umumkan Muklumat KAMI

Selain marah-marah, Kuntu juga menyerap aspirasi tenaga medis yang menangani Covid-19 di RSUD Chasan Bosoeirie Ternate.

Dia bilang, ada keluhan tunjangan kinerja (tukin) yang tidak sesuai.”Misalnya harusnya mereka (tenaga medis) terima 5 juta, tapi yang masuk ke rekening hanya 2.5 juta,” ujarnya

Sejumlah temuan itu langsung disampaikan kepada Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Malut Samsuddin A Kadir di Posko Covid-19 Sahid Bela Ternate untuk ditindak lanjuti.

Kata dia, kendala pengoperasian PCR adalah sejumlah komponen alat yang masih kurang sehingga harus dilakukan pemesanan, angkanya mencapai Rp. 100 juta.

“Harusnya kekurangan itu disampaikan langsung ke ketua Gugus Tugas Nasional pak Doni waktu berkunjung ke Maluku Utara, biar dilengkapi,” ucapnya

Baca Juga  Aktivis HAM Tantang Mahasiswa Turun ke Jalan Kritisi UU KPK dan RKUHP

Kuntu menegaskan, mesin PCR harus segera digunakan sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengiriman spesimen ke BBLK Makassar dan Laboratorium di Manado. Karena biaya yang dikeluarkan juga cukup banyak.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyoroti rencana pembelian alat PCR oleh RSUD, sementara dua unit bantuan dari pusat juga belum digunakan.

“Lebih baik anggaran itu untuk kebutuhan masyarakat lainnya. Saya lihat masyarakat masih banyak yang membutuhkan bantuan,” sesalnya. (red)