Simbol Gentengisasi

oleh -212 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Sepulang dari Davos, dari negeri Swiss di Barat yang atap-atap rumahnya rapi seperti gigi aktor iklan pasta gigi dan yang saljunya jatuh sangat berdisiplin, Presiden Prabowo Subianto balik membawa satu kegelisahan visual yang agaknya belum sempat mencair di suhu tropis Indonesia.

Di hadapan forum Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, kegelisahan itu meledak menjadi pidato berapi-api. Muncullah kata-kata: seng, karat, panas, dan wajah Indonesia yang dinilai kurang sedap dipandang turis mancanegara.

Dari podium megah itu lahir satu istilah baru yang langsung naik kelas dari keluhan estetika menjadi proyek nasional: gentengisasi. Itu gagasan yang melompat jauh dari Pegunungan Alpen ke atap-atap rumah warga desa, tanpa sempat bertanya apakah iklim, struktur bangunan, dan realitas sosial-ekonomi Indonesia itu sama.

Begitulah. Pemimpin negeri ini tampaknya tak pernah kehabisan kosa kata baru untuk menamai kegelisahan lama. Setelah industrialisasi, modernisasi, digitalisasi, dan deradikalisasi, kini kita disuguhi satu istilah segar yang bunyinya seperti merek obat sakit kepala: gentengisasi.

Baca Juga  Perang Yang Sudah Kalah

Kata “gentengisasi” ini, bila diterjemahkan ke bahasa Inggris, barangkali yang paling mendekati adalah roof-ification, atau lebih filosofis sedikit: national re-roofing movement. Kedengarannya agung, mirip revolusi industri, padahal yang direvolusi cuma atap rumah.

No More Posts Available.

No more pages to load.