Sketsa Kekerasan Perempuan Pedesaan

oleh -491 views

Seingat Nona, hal yang sama terjadi di bulan Desember lalu. “Suami saya, kalau pulang dia kase hancur barang-barang di dalam rumah,” ujarnya.

“Itulah perlakuan suami saya hingga sekarang,” ucapnya.

Hatinya sakit. Mendengar suara telepon suaminya dengan perempuan lain “Di dalam telephone itu, dia (suami) saya bilang kepada perempuan simpanannya, kita ini stres. Jawab perempuan tersebut, ngana kira kita tara berpikir pe ngana (suaminya),” ucapnya, sembari meniru suara suaminya.

Merasa berpikir kedua anaknya yang ditinggal sendiri, saya akhirnya pulang ke rumah. “Dalam hati, ia bilang, mengapa rumah tangga tidak pernah aman dan bahagia,” ujarnya.

Tiba di rumah, tak sangka suaminya sudah berada dalam kamar. Dia menganggap enteng. Bahkan tertawa. Karena sudah emosi, Nona mengambil air setengah botol di meja kamar.

Baca Juga  Marsinah, Munir, dan Ingatan Keadilan Negara yang Pincang

“Suaminya bilang kepada saya, biar dia tidur sendiri karena terlalu mengantuk. Kami pun saling jawab. Bae ngoni tidur sendiri, sedangkan saya tara tidur sampai pagi. Air di botol aqua itu, saya sumburkan sedikit ke bajunya sedikit. Dia pun bangun, dan pukul saya dengan aqua,” jelasnya.

Melihat ibunya dipukul oleh bapak, anak saya pun menangis, di dekat pintu kamar. Tapi, saya berdiri di dekat kain gorden.

No More Posts Available.

No more pages to load.