Soal Teror dan Intimidasi di Asrama Papua, ini Penjelasan Polresta Ambon

oleh -78 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Diduga aksi teror dan pengepungan asrama mahasiswa Papua di Ambon, terkait dengan antisipasi aksi Peringatan 1 Desember sebagai hari deklarasi bangsa Papua, yang biasanya diperingati serentak secara nasional.

Mereka menginterogasi mahasiswa dengan memberondong sejumlah pertanyaan.

“Berapa orang yang didalam asrama, juga bertanya selain orang Papua, apakah ada orang lain?” kata aktivis Papua Andi Kossay 

Setelah itu, mahasiswa Papua menanyakan balik alasan kedatangan mereka bertamu larut malam.

Link Banner

Sampai akhirnya perdebatan mulai terjadi, ketika Kepala RT, Dosen Unpatti (Perempuan), Polisi, Tentara, Intel dan babinkamtibmas memaksa masuk ke ruang tamu.

Perdebatan terus menerus terjadi antara pihak apartus desa, Intel dan bhabinkamtibmas dengan teman-teman Papua yang terus mendesak menanyakan keberadaan berapa orang dalam asrama.

Tidak hanya itu saja, provokasi beberapa kali dilakukan untuk mengadu domba mahasiswa dengan warga.

“Provokasi juga dilakukan oleh pihak aparat untuk membenturkan teman-teman Papua dengan warga seperti tidak memperingati 17 Agustus, tidak ada yang di tirikan di bangsa ini, tidak tau terimakasih. Juga kalimat makian seperti “semerlap” yang diartikan sebagai kata “biadab,” beber Andi.

Baca Juga  GAMKI Gelar Pertemuan “Bacarita Orang Basudara”

Hingga pukul 00.33 WIT, asrama Honai Papua masih terus di kepung/kelilingi, dijaga oleh aparat yang terus berdatangan, memantau dan berjalan di depan asrama Honai.

“Kami berada di dalam asrama Honai dan tidak bisa keluar dari Honai,” pungkasnya.

Mahasiswa yang terisoolir di asrama tersebut juga mengirim sebuah pesan yang menjelaskan bagaimana keadaan mereka.

Para mahasiswa mengunggah foto berisi spanduk yang memuat tulisan permintaan tolong kepada masyarakat luar.

“Air minum kami habis, kami butuh minum. Kami lapar, tidak bisa keluar karena dikepung TNI/Polri,” demikian tulisan tersebut.

Versi Polisi

Kasubbag Humas Polresta Ambon, Izack Leatemia mejelaskan, pada pukul 03.25 WIT bertempat di BTN Wayame, Blok 4, RT.011/RW.06 Kec. Teluk Ambon, Kota Ambon, terjadi kericuhan dimana warga Wayame mengamuk dan melempari mess mahasiswa Papua (01/12/2020).

Baca Juga  Sudah Pasti tak Masuk Play-off, Spurs Takluk dari Jazz

Amukan warga tersebut akibat adanya postingan salah seorang mahasiswa Papua dalam akun Facebooknya seakan-akan warga Wayame, RT setempat dan Perangkat Desa telah mengintimidasi mahasiswa Papua. Atas dasar itulah Warga Wayame khususnya RT.011/RW.06 marah dan langsung mengamuk.

Namun pada pukul 03.40 WIT, situasi dapat dikendalikan oleh Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa serta personil dari Polsek Teluk Ambon dan untuk menjaga situasi keamanan di sekitar lokasi tersebut, personil Polsek Teluk Ambon berjaga jaga di sekitar lokasi mess mahasiswa Papua untuk mengantisipasi agar tidak terjadinya tindakan pelemparan dan penyerangan kembali oleh masyarakat Desa Wayame.

Adanya kejadian ini, Kasubbag Humas Polresta Ambon, Izack Leatemia mengungkapkan hal ini bermula pada pukul 21.30 WIT (30/11/2020) adanya indikasi kedatangan warga Aboru di mess mahasiswa Papua.

Baca Juga  Ramalan Cuaca Ambon Hari Ini, Jumat 17 Juli 2020

Setelah mendengar informasi tersebut, Ketua RT setempat beserta prangkat desa juga didampingi oleh Babinkamtibmas dan Babinsa desa Wayame melakukan sambang di mess Papua untuk menanyakan identitas dari pada warga yang berkunjung di mess tersebut. Namun terjadi penolakan dari mahasiswa Papua yang berada di dalam mess sambil membuat video provokatif seakan-akan mereka dikepung oleh TNI-Polri dan juga perangkat desa. Video tersebut pun viral di media sosial.

Menanggapi video tersebut, Ketua RT.011/RW.06 Blok 4 BTN Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Bapak Dolvis da Costa menegaskan bahwa apa yang dikatakan oleh mahasiswa Papua dalam video tersebut bahwa para perangkat desa serta TNI-Polri mengepung mess mereka adalah tidak benar dan berharap masyarakat tidak termakan berita hoaks atas kejadian ini. (alen)