Suamiku

oleh -75 views
Link Banner

Cerpen Karya: Muafianti

Seiring dengan berjalannya waktu, tak terasa aku sudah 4 bulan menjalani hubungan dengan seorang laki-laki bernama Arnold, ya dia adalah pacarku dan aku sangat menyayanginya. Dia baik, tampan dan ramah.
Aku sendiri merupakan mahasiswa jurusan farmasi.

Hampir dari kita jadian hingga kita mulai menginjak 4 bulan pacaran, setiap kita saling teleponan dia selalu bilang bahwa dia punya anak akan tetapi aku selalu menganggapnya bercanda dan aku anggap itu hanya sebuah ujian yang dia berikan padaku.

Tetapi ternyata fakta itu benar, aku menangis sejadi jadinya aku tidak menyesal akan tetapi aku merasa bahwa aku terlalu rendah, aku terlalu menganggapnya bercanda. Yang tidak aku sukai ketika fakta itu benar adalah seseorang yang telah memberitahuku dan itu juga lewat komentar di media sosial.

Aku bertanya padanya “mas adakah sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? Dan apakah komentar itu benar atau hanya bercanda? Apakah ini hanya lelucon saja?”
Dia menjawab “aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu apapun darimu sayang aku sudah bilang bahwasannya aku sudah punya anak. Kalau anak tetaplah anak tapi kalau istri itu masa bodoh karena sudah tidak punya ikatan apa apa lagi denganku”

Baca Juga  Barcelona Kalah Dengan Skor 8-2, Mulut Besar Vidal Bungkam

Mendengar pernyataan itu hatiku rasanya hancur, badanku melemah, jari jariku tidak bisa kugerakkan untuk mengetik sebuah pesan singkat untuknya, aku benar-benar sangat tidak berdaya.

Lagi lagi aku mulai memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan padanya.
Dengan perasaan sedih aku berkata padanya “mas aku takut kehilanganmu aku takut kamu pergi, jangan tinggalkan aku kumohon”

Diapun membalas dengan cepat “iya sayang mas kan sudah janji akan melamarmu ketika mas sudah on bord nanti, mas ga sekali duakali mengatakan bahwa mas akan melamarmu. kamu tidak akan mas tinggalkan kamu wanita terbaik yang mas temui mas sangat menyayangimu”
Mendengar hal itu rasanya hatiku lega.

Hingga akhirnya kami tetap menjalani hubungan ini dan tanpa disadari kita berdua akan menikah.

Baca Juga  Belain Serukan Presiden dan Jajarannya Sumbang Gaji untuk Perangi Corona

Setelah melewati masa-masa pernikahan kita berdua hidup bahagia dan tiba pada suatu hari aku meminta suamiku itu untuk mengunjungi anaknya, agak berat memang tapi aku harus kuat karena sekarang yang ada di hidupnya hanya aku dan aku yakin dia hanya mencintaiku. Tetapi sebenarnya hatiku tetap tidak bisa tenang ketika dia mengunjungi anaknya. Aku takut mantan istrinya masih mencintai suamiku.

Sesampai di rumah mantan istrinya aku sempat menahan rasa sakit di dadaku aku menahan rasa cemburu dan aku juga menahan air mata agar tidak menetes. Perasaan macam apa ini aku tidak tahu kenapa aku jadi begini.

Aku pun berpamitan pada suamiku bahwa aku akan menunggunya di dalam mobil, di dalam mobil aku mulai meneteskan air mata aku takut suamiku kembali pada masalalunya.

Baca Juga  Kemenko Marves Proses Izin Pembuangan Limbah Tailing Ke Laut

Diapun bertanya “sayang kamu kenapa menangis apa yang terjadi padamu?”
Aku menjawab dengan nada yang tersedu-sedu “aku takut kehilangan mas aku takut suatu hari nanti anakmu memintamu untuk kembali pada ibunya aku takut itu terjadi mas”.

Dengan rasa sayang dia mulai menenangkanku, dia memelukku erat sambil berkata “Honey, I’m just for you not for her”.
Aku merasa tenang ketika mendengar dia berbicara seperti itu.

Aku bersyukur kepada Tuhan telah memberikan sosok laki-laki sepertinya.
Aku mencintaimu suamiku. (*)