Susu Kental Manis

oleh -24 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Nama ‘Friesche Vlag’ sudah lama dikenal di Nusantara. Mana bisa bikin jus alpuket tanpa susu kental manis dari kaleng dengan bendera garis-garis biru dengan hati berwarna merah? Friesche Vlag. Frisian Flag. Susu kental manis cap bendera. Selama ini kukira bendera garis-garis dengan beberapa hati merah di antara garis-garis itu hanya logo yang dipilih pabrik susu itu.

Ternyata, gambar itu memang bendera beneran! Bendera provinsi Friesland.

“Lucu ya,” kataku kepada Daphne, tetangga yang berlibur bersama keluarga kami. “Bendera Friesland gaul bener. Pake hati segala …”

Link Banner

“Hati?” Daphne memperhatikan bendera yang tergantung layu di tiang tetangga di seberang rumah liburan kami. “Hati love? atau hati lever? Atau mungkin feotus? Janin bayi?”

Baca Juga  Mitra OJK siap Realisasikan Instruksi Jokowi

“Hah?! Janin? Masa janin dipasang di bendera??” Dasar Daphne bekerja di rumah sakit, pikirku.

Ternyata bukan love. Bukan hati lever. Dan juga bukan foetus–janin bayi. Garis-garis biru di bendera itu melambangkan sungai-sungai besar dan kecil yang membelah-belah tanah Fries, sedang ‘hati’ itu sebetulnya melambangkan daun teratai yang selalu tumbuh dan mekar di air sungai dan danau.

Teratainya konon banyak berwarna merah, tetapi kami hanya melihat bunga-bunga yang berwarna putih dan kuning saja.

Namun, memang. Selain karena banyak tumbuh di Friesland, daun teratai dipilih untuk benderanya karena bentuknya yang serupa dengan hati. Daun itu digunakan untuk melambangkan keberanian. Pun, bunganya yang merah melambangkan keberanian.

Selain bendera susu kental manis yang berkibar di mana-mana, kulihat di puncak setiap rumah pertanian, ada hiasan. Di berbagai daerah di Indonesia pun, sudut segitiga pertemuan atap dan dinding rumah juga ada hiasan. Seringkali tanduk kerbau.

Baca Juga  Aku Mencintai Hujan

Di Friesland, walau banyak sapi, rumah-rumah tidak dihiasi tanduk. Hiasannya adalah dua angsa yang mengapit harpa. Tangkai harpa yang memanjang ke atas seringkali dihiasi dengan dedaunan yang melambangkan perdamaian.

Kok ada harpa? Entahlah. Tak kutemukan cerita apa pun tentang orang Friesland yang bermain harpa. Lalu, bagaimana dengan dua angsa itu?

Kutanyakan pada beberapa orang. Mereka mengangkat bahu.

“Entahlah. Tapi, bagus kan?!”

Ya. Memang bagus. Tapi aku penasaran. Mengapa dua angsa itu nongkrong di atap rumah? Mbah Google memberikan jawaban. Rupanya, dulu kala, hiasan dua angsa itu hanya dipasang di rumah-rumah tertentu saja. Hanya di rumah petani yang memiliki hak untuk memelihara angsa di kanal di belakang rumahnya.

Baca Juga  RR resmi mundur dari Wakil Ketua DDPRD Maluku

Setiap rumah petani memiliki anjing yang menjaga pintu dari arah darat. Angsa–yang galak dan suka nyosor kaki orang tak dikenal–menjaga pintu belakang, dari arah sungai. Amanlah itu. ☺

Hiasan di atap itu sendiri disebut ‘uilenbord’ atau ‘papan burung hantu’. Lho … kok burung hantu? Nah, rupanya lubang-lubang di harpa (yang diapit oleh kedua angsa tadi) merupakan lubang untuk tempat burung hantu bersarang di atap rumah petani dan gudangnya (yang menempel di belakang rumah).

Burung hantu dilindungi dan bahkan diharapkan ikut tinggal di rumah/ gudang itu karena burung itu memakan tikus-tikus yang doyan mengudap gandum yang tersimpan di sana.

Begitulah. Kearifan lokal Friesland. (*)